Jumat, 19 Februari 2016

Mozaik Cinta bag 6-8



6. Cerita masa lalu Aini

"Saat itu saya masih kuliah di STKIP Muhammadiyah Bogor . Saya berkenalan dengan orang  yang kemudian jadi suami saya itu, ya saat kuliah itu. Sebut saja namanya “Je” Saya tidak mau mengingat nama lengkapnya. Saya sudah mengharamkan diri saya untuk menyebut namanya. Saya sangat membencinya hingga tujuh turunan.
"Baik saya lanjutkan ceritanya. Saat itu saya adalah gadis yang masih lugu. Sekaligus gadis desa yang mudah terpikat dengan gemerlap duniawi. Agaknya “Je” mengerti benar karakter diri saya. Sehingga dia bisa begitu mudah masuk dalam kehidupan saya. Ia begitu lihai memikat dan menawan hati saya. Jika ke kampus dia selalu memakai mobil mengkilat. Orangtua “Je” adalah Pengusaha  kaya di Tanah Abang Jakarta. Dia sering datang ke kost saya. Dan sering menyenangkan hati saya dengan limpahan hadiahnya. "Sampai akhirnya ‘Je” mengatakan bahwa dia sangat mencintai saya. Dia ingin sekali menikahi saya. Saya seperti terbang di angkasa saat itu, karena sangat gembira. Saya benar-benar sudah tergila-gila padanya. Ibu saya sebenarnya tidak setuju saya kawin dengan “Je”, karena ibu saya ingin saya menikah dengan putra Pak Jumhadi yang sedang kuliah di UIN Bandung. Saya sama sekali tidak mempedulikan keberatan ibu saya itu. Itulah mungkin dosa besar saya pada ibu yang membuat saya menderita dan menanggung nestapa.

"singkat cerita, kami pun menikah. Kami menikah tahun 2008. Ia langsung memboyong saya ke Jakarta Ternyata ia sudah punya rumah cukup mewah di sana. Itu adalah hari yang sangat indah bagi saya. Tiga hari setelah menikah, “J” pamit untuk pergi ke luar kota. Dia bilang untuk urusan bisnis dengan temannya. Beberapa hari setelah itu kiamat seolah datang. Langit seperti runtuh menimpa saya. ‘Je”  tertangkap polisi dalam keadaan over dosis dengan seorang pelacur di puncak bogor. Ia masuk bui. Keluarganya tidak peduli.
"Kakak perempuannya bahkan terang-terangan mengatakan sangat membenci “Je”. Dari kakak perempuannya itulah saya tahu bahwa “Je” sesungguhnya lelaki yang sangat bejat. Bahkan lebih bejat daripada makhluk paling bejat sedunia sekalipun. Saya nyaris muntah ketika kakak perempuannya itu bercerita bahwa “Je” Terang-terangan pesta sex di Rumahnya, bahkan mengajak kakak perempuannya untuk ikut Gabung,apa tidak menjijikkan? Apa tidak melampaui batas? Seketika itu, tanpa bisa ditawar lagi saya langsung mengajukan gugatan cerai. Dan sejak itu saya benar-benar jijik dengan kaum lelaki dan saya bersumpah tidak akan menikah lagi!"

Ada nada amarah dalam kata-kata Aini. Ada kebencian yang luar biasa di sana. Arief merasa ngeri mendengarnya. Ia merasa bingung harus bersikap bagaimana. Bus terus melaju dengan kecepatan di atas seratus kilometer per jam. Aini diam tidak melanjutkan ceritanya. Pandangannya lurus ke depan. Jika diamati lebih seksama kedua mata itu sesungguhnya berkaca-kaca. Sesaat lamanya keduanya dijaga oleh diam.
Akhirnya Arief memberanikan untuk membuka suara,
'Apa sampai sekarang masih jijik dengan kaum lelaki. Termasuk saya mba?"

Aini mengambil nafas dalam-dalam,"Saat ini tidak lagi. Saya berusaha bersikap adil. Saya tidak boleh menimpakan dosa seorang “Je” pada semua kaum lelaki. Tapi jujur saya perlu proses yang sangat panjang untuk bisa bersikap adil dan tidak jijik pada kaum lelaki. Dan disebabkan rasa jijik dan trauma pada lelaki saya pernah punya keinginan untuk hidup berumah tangga dengan kaum perempuan saja."
"Sampai seperti itu kah?."
"Iya. Gila bukan?
Tapi jangan takut. Saya katakan, saya pernah punya keinginan. Hanya pada taraf keinginan. Dan itu pun dulu. Sekarang sudah tidak lagi."
"Sejak kapan Mbak bisa kembali normal memandang dunia. Maaf, untuk mudahnya saya katakan kembali normal memandang dunia, termasuk kaum lelakinya. Sebab menurut saya sikap jijik dan trauma pada lelaki itu sikap tidak normal."
"Prosesnya sangat panjang. Sampai saya bertemu dengan seorang Wanita yang amat Tulus. Namanya Imza Mazmusyarifahera Dia lulusan Pesantren dari jambi Dia ikut suaminya yang sedang mengambil Program S2 di salah satu Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran di Jakarta, Mba Imza itu begitu sabar menyempatkan waktu untuk memberikan pencerahan kepada kami, Para Pekerja Golf. kami sering ikut Kajian beliau Dan ia begitu sabar mendengarkan semua keluhan saya. Saya pernah diajak olehnya itu tidur di rumahnya. Untuk melihat bagaimana keadaan rumah tangganya. Dan saya melihat sendiri betapa besar kasih sayang suami Mba Imza itu kepada anak-anaknya dua anak perempuan dan satu laki-laki, tanpa ada diskriminasi, Sejak itulah saya tahu bahwa ada juga lelaki baik di dunia ini."

"Bukankah Mbak memiliki seorang ayah?"
"Ya tentu. Namun ayah saya sudah tidak ada sejak saya berusia dua tahun. Jadi saya tidak ingat apa-apa tentang ayah. Dan ibu tidak menikah lagi. Kakak tertua saya Perempuan. Tapi ia tidak begitu peduli pada saya."
Bus terus melaju. Sejauh mata memandang adalah Deretan Gedung-gedung Tinggi dan sebuah Danau tertulis di pinggir itu sangat jelas “DANAU PULOMAS”.

"Bagaimana ceritanya Mbak bisa Tinggal di jakarta Dan apa sebenarnya yang Mbak cari?"
"Kalau diceritakan semuanya panjang. Singkat saja ya. Setelah suami dipenjara dan saya tahu siapa dia sebenarnya, saya mengajukan gugatan cerai. Rumah diTanah Abang disita polisi karena ternyata suami punya piutang di beberapa bank yang cukup besar jumlahnya. Saya tidak punya apa-apa. Ibu sudah renta. Saya anak Bungsu. Saudara-saudara saya sudah berkeluarga. Mereka juga hidup susah. Saya tidak berani meminta bantuan mereka.

"Saya nekat merantau ke Jakarta untuk mencari kerja. Kebetulan ada teman yang mengajak. Alhamdulillah sebelum menikah saya sudah selasai D1 Akuntansi. Dan dengan berbekal ijazah D1, saya diterima bekerja di sebuah supermarket di Jakarta Selatan.
Saya sudah cukup nyaman saat itu. namun tiba-tiba si “Je” bisa tahu nomor telpon saya dan menelpon saya. Dia sudah keluar dari penjara dan meminta saya agar kembali kepadanya. Saya takut. Saya langsung pergi meninggalkan Tempat dan Resign dari Kerjaan saya itu, hari itu juga. Saya bersembunyi ke Bandung. setelah lama bersembunyi saya merasa masih kuatir mantan suami saya itu akan mengejar saya."
"Kenapa mesti takut Mbak. Bukankah Mbak adalah perempuan yang merdeka. Dan Mbak akan dilindungi oleh hukum?" Aah.. Mas ini Bagaimana.. Apa selama ini Mas hanya hidup di dalam kamar dan tidur, sehingga membuka jendela pun tidak!? Dunia mantan suami saya adalah dunia mafia. Dan dunia mafia tidak mengenal hukum, Lebih baik saya di sini Dulu baru kalau saya sudah mendengar si “Je” itu telah mampus, saya akan tenang dan Balik ke Jasinga Walau bagaimanapun saya punya saudara dan saya sangat rindu pada mereka. Saya pun ingin hidup berkeluarga dan tenang di hari tua. Saya tidak akan menyerah. Saya akan terus berusaha dan bertahan sampai Tuhan memutuskan takdir finalnya untuk saya.
Semenderita dan sesengsaranya saya, saya masih Istiqomah Memegang Iman (sambil menunjuk ke dada dengan telunjuknya) Tuhan itu adil dan Dia juga Maha Penyayang. Saya masih percaya itu Mas."

Arief hanya diam mendengarnya. Ternyata tidak hanya dia yang menghadapi perjalanan hidup yang rumit dan sulit. Perempuan muda yang duduk di sampingnya bisa jadi sebenarnya menjalani hidup yang lebih rumit yang tidak sampai untuk dikisahkan kepada siapa pun.
"Kalau Mas bagaimana?
Bagaimana bisa sampai harus ke kota Hedonis  ini?
Adakah cerita yang bisa dibagi dan didengar?" Aini balik bertanya.
la merasa selama ini dia yang banyak bercerita. la ingin gantian mendengarkan cerita dari Arief.

"Perjalanan saya bisa sampai di dalam bus ini tak kalah berlikunya dari apa yang Mbak ceritakan. Hanya saja saya merasa tidak harus sekarang saya menceritakannya. Saya janji saya akan gantian membagicerita saya pada Mbak. Saya yakin kita masih bisa bertemu di Kota ini. Itu pun kalau Mbak benar-benar masih sudi menemui saya."
"Masak tidak sudi. Memang saya ini siapa?"
"Kuatir, Mbak masih menyisakan rasa jijik itu."
"Ah, Mas  ini. hehe...Ya saya akan merasa jijik sama Mas jika kelakuan Mas ternyata tidak berbeda dengan si “Je”, mantan suami saya itu."
"Mbak kok seolah yakin benar kalau kelakuan saya berbeda dengan mantan suamimu mba. Kenap tidak waspada?
Kenapa Mbak justru malah mengajak saya jalan bersama?"
Aini tersenyum, lalu menjawab,
"begini ya Mas, pertama Mas sudah menolong saya tadi siang, itu artinya mas adaalah orang Baik. yang kedua Orang yang sudah pernah terluka seperti saya ini bisa membaca bahasa tubuh orang brengsek seperti mantan suami saya dan yang sejenisnya. Dari cara lelaki memandang dan menatap saja saya sudah tahu dia itu sebenarnya serigala atau tidak. Saya tahu mana mata yang jelalatan dan yang tidak jelalatan. Saya bisa meraba watak seseorang dari gerak dan binari matanya. Tidak hanya mata kaum lelaki. Bahkan mata kaum perempuan pun saya bisa membedakan mana mata pelacur dan bukan pelacur. Mana mata perempuan baik-baik dan perempuan tidak baik!"

"Jadi Mbak yakin saya ini orang baik?" sahutnya sambil melihat ke luar jendela.
"Sejauh ini saya yakin. Tidak tahu satu dua jam ke depan. Bisa jadi kepercayaan saya padamu Mas berubah." Jawab Aini tegas.

Arief merasakan ketegasan itu. Kalimat dan intonasi perempuan itu seolah juga memberitahukan kepadanya agar ia jangan mencoba bersikap meremehkannya. Dari ketegasan itu, Arief mengerti bahwa perempuan muda di sampingnya adalah perempuan yang memiliki karakter kuat. Dan tidak mau diremehkan. Entah kenapa ia ingin memandang perempuan di sampingnya itu dengan lebih dalam. Keinginan itu tidak dapat dilawannya. Ia pun memalingkan wajahnya perlahan dan memandang ke arah wajah Aini. Aini ternyata sedang memandang ke arahnya. Mata keduanya bertemu sesaat. Ada getaran halus masuk ke dalam hati Arief. Wajah Aini tampak sangat Cantik dan Teduh ada aura ketulusan yang memancar darinya. Dan ada pesona yang mampu membuat hati  merasakan getaran halus yang masuk begitu saja.

"Apakah ada kilatan binar serigala dalam mata ini?"
Aini tersenyum, dan menjawab, dengan hempasan panjang sambil menyandarkan bahunya ke Kursi.
“hampir di semua mata lelaki ada binar liar serigala ketika melihat perempuan. Untuk itulah menurut saya kenapa kaum lelaki diminta oleh Tuhan untuk menjaga pandangan."
Mendengar jawaban Aini, Arief diam dan tidak berkata apa-apa. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Dalam hati Arief membenarkan perkataan Aini. Sebab saat ia memandang wajah dan mata Aini dengan seksama, ia menemukan sihir yang mampu mengubah dirinya menjadi serigala. Tiba-tiba ia merasa menemukan kalimat untuk menjawab perkataan Aini,
"Dan hampir semua wajah dan mata perempuan itu memiliki sihir yang mampu mengubah lelaki jadi serigala. Maka sebaiknya memang keduanya saling menjaga. Agar tetap menjadi manusia yang mulia dan tidak berubah menjadi manusia serigala."
Aini tersenyum simpul mendengarnya.
“seperti sinetron Ganteng-Ganteng Serigala,,, aja ya mbak”. celetuk Arief sambil menghela nafas tanda Mereka sudah lama bercakap. Aini melesungkan pipinya ke arah penumpang lain yang di depan.
“Kalau  Mas mau untuk sementara Mas bisa ikut saya menginap di kost an saya,
"Menginap di tempat Mbak?"
"Iya. Jangan berpikir yang tidak-tidak. maksud saya sehari atau dua hari sebelum Mas ketemu dengan orang yang mas cari itu. Di tempat saya ada tiga kamar. Mas bisa menginap di salah satu kamar. Paling tidak untuk sekadar melepas lelah. Besok mas bisa mencari orang yang dituju itu. Itu kalau Mas mau."
Arief terdiam sesaat. Ia memang tidak kenal siapa-siapa di Kota  ini. Nama yang ada dalam sobekan kertasnya pun sebenarnya tidak kenal. Nama itu adalah nama Muridnya Pak Haji Tohir. Pak Somad namanya, Ia sempat nyantri dengan Pak Haji Tohir  sewaktu kuliah di UIK Bogor. yang sekarang sudah mempunyai Kampus di Jakarta, Nama Lembaga itu Masih melekat di ingat Oleh Arif “OXFORD” gumamnya dalam hati. Dan jujur ia memang perlu istirahat. Perjalanan dari mengitari Bogor sampai ke Ibukota cukup membuatnya lelah. Apalagi dua hari sebelum berangkat ia kerja lembur di sebuah Perusahaan jasa Antar barang.

Arief  masih belum mantap menentukan salah satu pilihan. Hati kecilnya ingin menginap di hotel. Tapi uang yang ia miliki benar-benar pas-pasan. Ia sebisa mungkin harus menghemat.

"Sudahlah ayo ikut saya saja Mas. Besok  Mas bisa pergi ke mana Mas suka. Ayo!"
Kata  Aini dengan tegas seraya bergegas ke luar terminal. Ketegasan kata-kata Aini membuat Arief  seolah menemukan pilihan terbaik. Ia pun mengikuti langkah Aini. Mereka keluar menyeberangi jalan raya. Aini berjalan dengan cepat meskipun ia harus menyeret tas kopernya. Aief berusaha mengimbangi di sampingnya.

"Jangan kaget nanti ya Mas, Mas  bermalam di tengah-tengah Para Cady golf . Artinya penghuni rumah itu semuanya wanita. Saya salah satu di antaranya. kost itu dihuni enam orang. Ada tiga kamar. Satu kamar berdua. Kebetulan ada dua orang yang sedang mudik, Jadi saat ini dihuni empat orang. Mas nanti bisa tidur di kamar saya saja. Kebetulan di kamar saya ada kamar mandinya. Jadi Mas tidak akan mengganggu teman-teman saya yang lain." Aini menjelaskan kondisi rumahnya.

Arief mendengarkan dengan seksama. la merasa tidak enak pada perempuan muda yang baru dikenalnya itu, namun apa hendak dikata. ia tak punya siapa-siapa lagi dan tak kenal siapapun di kota ini.

"Em...mba baik sekali. Entah bagaimana saya harus membalas budi Mbak. Saya malu". "Jangan berpikir begitu. Mas, Kita ini sebagai manusia sudah semestinya saling tolong menolong, dan mas bilang tadi di kereta sebagai seorang Muslim sudah menjadi kewajiban kita bukan? Apa Mas lupa dengan apa yang Mas katakana Tadi? apalagi kita satu Agama dan satu suku iya kan… Ya anggap saja ini impas dengan kejadian copet tadi."
***

7. Bermalam di kosan Aini

kali ini Arief pasrah dan menurut pada kata-kata Perempuan, tidak pernah sebelumnya ia selemah itu dan sepasrah itu . Ia membawa tasnya ke kamar. Ia masuk dan menutup pintu. Arief mencium bau wangi di kamar itu. Kamar yang bersih dan rapi. Jauh sekali bedanya dengan kamarnya dan teman-temannya saat bekerja dulu di Aceh, sebelum pulang ke Bogor.Arief  mencopot jaketnya dan merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk itu. Terasa nyaman. Tapi ia merasa kulitnya seperti lengket dengan pakaiannya. Sangat tidak nyaman. Ia lalu beranjak ke kamar mandi dan mandi. Air yang mengguyur sekujur tubuhnya itu serasa meremajakan seluruh syarafnya. Barulah setelah mandi ia bisa istirahat dengan nyaman.

Sesaat sebelum tidur kilatan senyum Aini yang tulus terbayang di mata. Ia tersenyum. Tiba-tiba ia teringat perkataan Aini tadi siang.

"Jujur ya Mas, menurut saya  hampir di semua mata lelaki ada binar liar serigala ketika melihat perempuan. Untuk itulah kenapa kaum lelaki diminta oleh Tuhan untuk menjaga pandangan." Ia kembali tersenyum. Lalu terlelap tidur.sampai subuh tiba.
***

Arief tidur di kamarnya, yang tak lain adalah kamar Aini. Kedua matanya memandang langit-langit kamar yang berwarna putih bersih. Sementara pikirannya melayang ke mana-mana. Melayang ke perjalanan Pulang Dari Aceh, mengelilingi kota Bogor samapai di kereta  hingga ketemu Aini. Dan sampai di rumah yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia masih juga berpikir apa yang harus ia lakukan. Apakah tetap diam di rumah itu menunggu informasi lowongan kerja dari Aini. Sehingga ia bisa meneruskan hidupnya tanpa harus menumpang lama di kostan itu. Ataukah ia nekat saja pergi dari rumah itu. Kenapa ia mesti menunggu informasi dari Aini. Bukankah ia bisa nekat, sebagaimana selama ini ia selalu nekat. Dan bukankah sebenarnya ia pergi ke Ibukota berbekal nekat. Kalau ia nekat pergi dari rumah itu, siang itu juga,lalu ia mau pergi ke mana? Ia tidak hafal Jakarta dan sekitarnya. Apa asal pergi saja. Yang penting jalan. Seperti waktu ia dulu nekat ke Aceh untuk bekerja. Tapi ia nyaris mati di sana karena dikeroyok berandalan jalanan. Apa ia akan mengulangi nasib yang sama. Dan jika ia nekat, berapa lama ia akan bisa bertahan? Uang yang ia bawa sangat pas-pasan. Tak lebih dari 300.000 rupiah saja, Berapa lama ia bisa bertahan dengan uang tiga ratus ribu?

Aini berangkat kerja pagi itu hingga tidak sempat membangunkan Arief yang masih tidur kelelahan, ia dijemput Oleh Bossnya yang dari Golf namun Aini menitipkan Kunci kosannya itu ke kamar sebelah. kalau- kalau Arief mau keluar bisa mengunci dan pulang tanpa harus meminta dari Aini.

Arief bangun kesiangan matahari sudah bangkit dari celah jendela menerobos segala isi ruang kamar itu kemudian Arief bangkit dan mandi seketika itu.
setelah lama di kamar ia merasa bingung dan bosan pula apa yang harus ia lakukan untuk mengisi kegelisahannya itu. tidur ? Ia yakin tidak bisa tidur. Ia lalu melihat-melihat isi kamar, ia mencari sesuatu yang bisa dijadikan penghiburnya. Di samping meja dekat tembok  ia melihat setumpuk buku ISLAMI ,majalah dan Novel. Juga ada beberapa buku. Buku-buku formal berbahasa Inggris. Ia ambil satu Novel di antara Tumpukan itu, judulnya “SEPENGGAL CINTA DI PADANG PASIR”. Ia buka Novel itu. Di halaman paling depan ia menemukan nama Penulis novel  itu tertulis dengan tinta hijau “Aef sugihartoni & dudun Parwanto” Arief menebak pasti Penulis Novel itu pasti orang Sunda” gumamnya dalam hati.

Di bawah Novel itu ada buku bersampul hijau Muda yang sangat tebal. Ia ambil. Terbitan Rasibook Jakarta , pemuda itu mengkerutkan dahi dan matanya melebar sambil menggeleng-gelengkan kepala. sebuah tulisan yang tidak bisa ia baca, Bahasa arab tanpa harokat, namun Di sampul depan Ada nama penulisnya dengan Huruf Latin dengan Tinta Biru “Muhammad Sobari M.Pd.I”.
“Orang yang bisa memahami buku seperti itu pastilah bahasa Arabnya mantap”. Gumamnya dalam hati.

Ia jadi bertanya-tanya, kenapa buku-buku islam dan Sastera seperti itu bisa ada di dalam kamar Aini ? Siapakah yang selama ini membaca buku itu? Aini kah? Atau teman Aini? Apakah Aini seorang Mahasiswi? Tiba-tiba ia tersenyum, mengapa ia bisa sebodoh itu. Bisa jadi orang lain milik orang lain yang tertinggal dan Aini menyimpannya Atau entahlah, yang jelas ia menafikan jika yang punya dan yang membaca buku dan novel itu bukan Tukang Ojek atau Orang lain yang salah Masuk Kamar,tapi  Melihat tampang dan penampilan dan Temannya sangat meragukan, dan sangat tidak meyakinkan.

la lalu melihat-lihat beberapa majalah. Ada yang terbitan Singapura dan bahkan Hongkong. la mengambil yang terbitan singapura. la bawa ke kasur. la baca sambil tiduran. Tak berapa lama kemudian ia merasa mengantuk. Entah kenapa setiap kali ia membaca rasa kantuk itu menyerang dengan cepat. Saat ia berada di antara sadar dan tidak sadar karena mulai masuk tidur, terdengar ketuk pintu, dan Arief segera bergegas membuka Pintu dengan hanya mengenakan kaos dalam dan celana pendek di bawah lutut, ternyata orang itu hanya  mengantarkan kunci dari kamar tetangga yang dititpkan Aini padanya untuk di berikan kepada pemuda itu.

Arief melanjutkan tidurnya kembali, ia merasa lelah dan letih sehingga butuh Stamina dan istirahat yang cukup apalagi nanti Ia harus berjuang mencari seseorang, Akhirnya arief kembali tidur sampai siang, bahkan sampai sore ia tidur. dari celah jendela sore itu terdengar sayup-sayup mobil menderu dan beberapa orang bercakap dengan bahasa inggris.
Arief sejenak memfokuskan telinganya walau matanya masih berat untuk membukanya, ia bangkit dari tidur, karena merasa lapar, tapi ia bingung uang di kantongnya hanya cukup buat 3 hari itupun transport saja. ia masuk ke dapur maksudnya untuk mencari apa saja yang bisa di masak walau hanya sekedar mengganjal perutnya yang kosong.

8. Tatapan wajah Binar

Aini membuka pintu di tanggannya ada banyak sayuran, rupanya Aini pulang kerja langsung mampir ke Pasar cempaka putih dan membeli perlengkapan Dapur,
 di lihatnya Arief sedang memasak mie, Aini langsung menyahutnya.

“ Mas Arief sedang apa? seketika itu Arief kaget, dan menoleh ke belakang.
“Em..masaak mie, mbak”.jawab Arief sedikit kikuk.
“Oooh.. kirain sedang apa, biar saya saja yang memasak”.
“nggak usah Mba”...
“sudaah, saya saja, lagipula sekalian saya mau masak buat tugas Funcooking. Mas Arief istirahat aja di Kamar, kan masih Sore besok kan Mas Arief harus nyari seseorang itu kan”?.

            Arief hanya mengangguk pelan, ia lihat jam menunjukan 4:30 , ia kelagapan, ternyata belum sholat Ashar, langsung tanpa kompromi lagi ia langsung masuk kamar mandi yang berada di sebelah pintu kamarnya,seusai wudhu hanya beberapa langkah menuju Kamar terdengar suara piring pecah “ gembreeeeng! aduuuh.. !!
suara rintihan perempuan yang tak asing di telinga terdengar jelas di telinga Arief, pemuda itu langsung kearah dapur,ia yakin kalau suara itu barasal dari sana
benarlah dugaannya, Aini jatuh tersandung ketika hendak memberikan makanan itu ke kamarnya, mie goreng dengan telor ceplok di atasnya tumpah seketika,memenuhi keramik putih. Arif melihat itu langsung mendekat Aini sambil memebereskan ceceran mie dan serpihan piring.

Kau tidak apa-apa mba?” Perempuan itu mengaduh kesakitan mukanya memerah. Dua matanya yang bening menatap Arief. Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan, “tidak apa-apa. Hanya saja kaki kananku sakit sekali. Mungkin terkilir saat jatuh.”
“Syukurlah kalau begitu.” Dua mata bening di balik rona merah yang menahan sakit itu terus memandangi wajah Arief  yang masih penuh dengan tetesan-tetesan air wudhu. Menyadari hal itu Arief menundukkan pandangannya ke lantai dan membereskannya sampai betul-betul bersih. Perempuan itu perlahan bangkit.

“terima kasih Mas, maaf jadi merepotkan”. Arief mengangkat mukanya. Tak ayal matanya menatap wajah putih bersih memesona. Hatinya bergetar hebat. Syaraf dan ototnya terasa dingin semua. Inilah untuk pertama kalinya ia menatap wajah gadis jelita itu yang belum lama ia kenal dari jarak yang sangat dekat. Sesaat lamanya keduanya beradu pandang.

perempuan itu terpesona oleh  wajah yang membuat hatinya merasa Damai, tenang dengan tetesan wudhu yang masih jatuh ke lantai,berbeda saat pertama kali ia memendang Arief dengan muka pasi  dikereta itu.
sementara gemuruh hati Arief tak kalah hebatnya. perempuan itu tersenyum dengan pipi merah merona, Arief  tersadar, bahwa ia harus menunaikan kewajibannya sebagai muslim, ia cepat-cepat membuka pintu keluar yang ada di belakangnya dan melangkah menuju kamarnya.

***


Saat malam datang membentangkan sejadahnya, kota Jakarta kembali diterangi sinar rembulan. Angin sejuk dari utara semilir mengalir.
Aini terpekur di kamarnya. Matanya berkaca-kaca. Hatinya basah. Pikirannya bingung.
Apa yang menimpa dirinya. Sejak kejadian tadi sore hatinya terasa gundah. mata teduh Arief  bagai tak hilang dari pelupuk matanya. Pandangan matanya yang teduh menunduk membuat hatinya sedemikian terpikat.ia tak pernah merasakn ini sebelumnya. Wajah sendu nan bijak terbayang dimatanya, air matanya mengalir deras. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. walaupun dulu ia sempat menikah dengan jarot tapi ini pertama kalinya ia di landa jatuh hati yang absolut. Dalam hati ia berkata, “ ya robb, apa yang terjadi pada diri ini”

****

Sementara itu di dalam kamarnya yang tidak lain adalah kamar Aini, tampak Arief yang sedang menangis tepat di bersebelahan dengan Kamar Aini. tampak malam itu seusai sholat tahajud, Ia menangisi hilangnya kekhusyukan hatinya dalam shalat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sejak ia bertemu dengan Aini ia tidak bisa mengendalikan gelora hatinya. Aura kecantikan Aini  bercokol dan mengakar sedemikian kuat dalam relung-relung hatinya. Aura itu selalu melintas dalam renungannya.

“Ilahi, kasihanilah hamba-Mu yang lemah ini. Engkau Maha tahu atas apa yang menimpa diriku. Aku tak ingin kehilangan cinta-Mu. aku merantau dari banyak tempat hanya untuk hidup lebih baik, bukan ini yang ku inginkan,Namun Engkau juga tahu, hatiku ini tak mampu mengusir pesona ciptaan-Mu. berilah padaku cawan kesejukan untuk meletakkan embun-embun cinta yang menetes-netes dalam dinding hatiku ini. Ilahi, tuntunlah langkahku pada garis takdir yang paling Engkau ridhai. Aku serahkan hidup matiku untuk-Mu.di kota ini hanya Engkau dan Diri ini sajalah yang tau” Isak Arief  mengharu biru pada Tuhan Sang Pencipta hati, cinta, dan segala keindahan semesta. ia tertidur di sejadah itu sampai subuh tiba.



Belum pernah aku jatuh cinta
Seperti pada malam yang gelap
Pun merindu
Dalam keheningan malam yang sepi..
Namun..
Rupanya aku sedang jatuh cinta
Pada malam yang gelap
Pun merindu dalam keheningan malam yang sepi...
Aku akan tetap jatuh cinta..
Karena saat malam yang gelap ku dekatkan rasa pada-Nya
Saat keheningan malam yang sepi ku lantunkan doaku untukmu
Semoga karena-Nya kaulah takdirku
Untukmu yang tak pernah lekang di ingatku.

@aefsugihartoni&@Imzaherawati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar