6.
Cerita masa lalu Aini
"Saat itu saya masih kuliah di STKIP
Muhammadiyah Bogor . Saya berkenalan dengan orang yang kemudian jadi suami saya itu, ya saat
kuliah itu. Sebut saja namanya “Je” Saya tidak mau mengingat nama lengkapnya.
Saya sudah mengharamkan diri saya untuk menyebut namanya. Saya sangat
membencinya hingga tujuh turunan.
"Baik saya lanjutkan ceritanya. Saat itu
saya adalah gadis yang masih lugu. Sekaligus gadis desa yang mudah terpikat
dengan gemerlap duniawi. Agaknya “Je” mengerti benar karakter diri saya.
Sehingga dia bisa begitu mudah masuk dalam kehidupan saya. Ia begitu lihai
memikat dan menawan hati saya. Jika ke kampus dia selalu memakai mobil
mengkilat. Orangtua “Je” adalah Pengusaha
kaya di Tanah Abang Jakarta. Dia sering datang ke kost saya. Dan sering
menyenangkan hati saya dengan limpahan hadiahnya. "Sampai akhirnya ‘Je”
mengatakan bahwa dia sangat mencintai saya. Dia ingin sekali menikahi saya.
Saya seperti terbang di angkasa saat itu, karena sangat gembira. Saya
benar-benar sudah tergila-gila padanya. Ibu saya sebenarnya tidak setuju saya
kawin dengan “Je”, karena ibu saya ingin saya menikah dengan putra Pak Jumhadi
yang sedang kuliah di UIN Bandung. Saya sama sekali tidak mempedulikan
keberatan ibu saya itu. Itulah mungkin dosa besar saya pada ibu yang membuat
saya menderita dan menanggung nestapa.
"singkat cerita, kami pun menikah. Kami
menikah tahun 2008. Ia langsung memboyong saya ke Jakarta Ternyata ia sudah
punya rumah cukup mewah di sana. Itu adalah hari yang sangat indah bagi saya.
Tiga hari setelah menikah, “J” pamit untuk pergi ke luar kota. Dia bilang untuk
urusan bisnis dengan temannya. Beberapa hari setelah itu kiamat seolah datang.
Langit seperti runtuh menimpa saya. ‘Je”
tertangkap polisi dalam keadaan over dosis dengan seorang pelacur di
puncak bogor. Ia masuk bui. Keluarganya tidak peduli.
"Kakak perempuannya bahkan
terang-terangan mengatakan sangat membenci “Je”. Dari kakak perempuannya itulah
saya tahu bahwa “Je” sesungguhnya lelaki yang sangat bejat. Bahkan lebih bejat
daripada makhluk paling bejat sedunia sekalipun. Saya nyaris muntah ketika
kakak perempuannya itu bercerita bahwa “Je” Terang-terangan pesta sex di
Rumahnya, bahkan mengajak kakak perempuannya untuk ikut Gabung,apa tidak
menjijikkan? Apa tidak melampaui batas? Seketika itu, tanpa bisa ditawar lagi
saya langsung mengajukan gugatan cerai. Dan sejak itu saya benar-benar jijik
dengan kaum lelaki dan saya bersumpah tidak akan menikah lagi!"
Ada nada amarah
dalam kata-kata Aini. Ada kebencian yang luar biasa di sana. Arief merasa ngeri
mendengarnya. Ia merasa bingung harus bersikap bagaimana. Bus terus melaju
dengan kecepatan di atas seratus kilometer per jam. Aini diam tidak melanjutkan
ceritanya. Pandangannya lurus ke depan. Jika diamati lebih seksama kedua mata
itu sesungguhnya berkaca-kaca. Sesaat lamanya keduanya dijaga oleh diam.
Akhirnya Arief memberanikan untuk membuka
suara,
'Apa sampai sekarang masih jijik dengan kaum
lelaki. Termasuk saya mba?"
Aini mengambil
nafas dalam-dalam,"Saat ini tidak lagi. Saya berusaha bersikap adil. Saya
tidak boleh menimpakan dosa seorang “Je” pada semua kaum lelaki. Tapi jujur
saya perlu proses yang sangat panjang untuk bisa bersikap adil dan tidak jijik
pada kaum lelaki. Dan disebabkan rasa jijik dan trauma pada lelaki saya pernah
punya keinginan untuk hidup berumah tangga dengan kaum perempuan saja."
"Sampai seperti itu kah?."
"Iya. Gila bukan?
Tapi jangan takut. Saya katakan, saya pernah
punya keinginan. Hanya pada taraf keinginan. Dan itu pun dulu. Sekarang sudah
tidak lagi."
"Sejak kapan Mbak bisa kembali normal
memandang dunia. Maaf, untuk mudahnya saya katakan kembali normal memandang
dunia, termasuk kaum lelakinya. Sebab menurut saya sikap jijik dan trauma pada
lelaki itu sikap tidak normal."
"Prosesnya sangat panjang. Sampai saya
bertemu dengan seorang Wanita yang amat Tulus. Namanya Imza Mazmusyarifahera
Dia lulusan Pesantren dari jambi Dia ikut suaminya yang sedang mengambil Program
S2 di salah satu Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran di Jakarta, Mba Imza itu begitu
sabar menyempatkan waktu untuk memberikan pencerahan kepada kami, Para Pekerja
Golf. kami sering ikut Kajian beliau Dan ia begitu sabar mendengarkan semua
keluhan saya. Saya pernah diajak olehnya itu tidur di rumahnya. Untuk melihat
bagaimana keadaan rumah tangganya. Dan saya melihat sendiri betapa besar kasih
sayang suami Mba Imza itu kepada anak-anaknya dua anak perempuan dan satu laki-laki,
tanpa ada diskriminasi, Sejak itulah saya tahu bahwa ada juga lelaki baik di
dunia ini."
"Bukankah Mbak memiliki seorang
ayah?"
"Ya tentu. Namun ayah saya sudah tidak
ada sejak saya berusia dua tahun. Jadi saya tidak ingat apa-apa tentang ayah.
Dan ibu tidak menikah lagi. Kakak tertua saya Perempuan. Tapi ia tidak begitu
peduli pada saya."
Bus terus melaju. Sejauh mata memandang adalah
Deretan Gedung-gedung Tinggi dan sebuah Danau tertulis di pinggir itu sangat
jelas “DANAU PULOMAS”.
"Bagaimana ceritanya Mbak bisa Tinggal di
jakarta Dan apa sebenarnya yang Mbak cari?"
"Kalau diceritakan semuanya panjang.
Singkat saja ya. Setelah suami dipenjara dan saya tahu siapa dia sebenarnya,
saya mengajukan gugatan cerai. Rumah diTanah Abang disita polisi karena
ternyata suami punya piutang di beberapa bank yang cukup besar jumlahnya. Saya
tidak punya apa-apa. Ibu sudah renta. Saya anak Bungsu. Saudara-saudara saya
sudah berkeluarga. Mereka juga hidup susah. Saya tidak berani meminta bantuan
mereka.
"Saya nekat merantau ke Jakarta untuk
mencari kerja. Kebetulan ada teman yang mengajak. Alhamdulillah sebelum menikah
saya sudah selasai D1 Akuntansi. Dan dengan berbekal ijazah D1, saya diterima
bekerja di sebuah supermarket di Jakarta Selatan.
Saya sudah cukup nyaman saat itu. namun
tiba-tiba si “Je” bisa tahu nomor telpon saya dan menelpon saya. Dia sudah
keluar dari penjara dan meminta saya agar kembali kepadanya. Saya takut. Saya
langsung pergi meninggalkan Tempat dan Resign dari Kerjaan saya itu, hari itu
juga. Saya bersembunyi ke Bandung. setelah lama bersembunyi saya merasa masih
kuatir mantan suami saya itu akan mengejar saya."
"Kenapa mesti takut Mbak. Bukankah Mbak
adalah perempuan yang merdeka. Dan Mbak akan dilindungi oleh hukum?" Aah..
Mas ini Bagaimana.. Apa selama ini Mas hanya hidup di dalam kamar dan tidur,
sehingga membuka jendela pun tidak!? Dunia mantan suami saya adalah dunia
mafia. Dan dunia mafia tidak mengenal hukum, Lebih baik saya di sini Dulu baru
kalau saya sudah mendengar si “Je” itu telah mampus, saya akan tenang dan Balik
ke Jasinga Walau bagaimanapun saya punya saudara dan saya sangat rindu pada
mereka. Saya pun ingin hidup berkeluarga dan tenang di hari tua. Saya tidak
akan menyerah. Saya akan terus berusaha dan bertahan sampai Tuhan memutuskan
takdir finalnya untuk saya.
Semenderita dan sesengsaranya saya, saya masih
Istiqomah Memegang Iman (sambil menunjuk ke dada dengan telunjuknya) Tuhan itu
adil dan Dia juga Maha Penyayang. Saya masih percaya itu Mas."
Arief hanya diam
mendengarnya. Ternyata tidak hanya dia yang menghadapi perjalanan hidup yang
rumit dan sulit. Perempuan muda yang duduk di sampingnya bisa jadi sebenarnya
menjalani hidup yang lebih rumit yang tidak sampai untuk dikisahkan kepada
siapa pun.
"Kalau Mas bagaimana?
Bagaimana bisa sampai harus ke kota
Hedonis ini?
Adakah cerita yang bisa dibagi dan
didengar?" Aini balik bertanya.
la merasa selama ini dia yang banyak
bercerita. la ingin gantian mendengarkan cerita dari Arief.
"Perjalanan saya bisa sampai di dalam bus
ini tak kalah berlikunya dari apa yang Mbak ceritakan. Hanya saja saya merasa
tidak harus sekarang saya menceritakannya. Saya janji saya akan gantian
membagicerita saya pada Mbak. Saya yakin kita masih bisa bertemu di Kota ini.
Itu pun kalau Mbak benar-benar masih sudi menemui saya."
"Masak tidak sudi. Memang saya ini
siapa?"
"Kuatir, Mbak masih menyisakan rasa jijik
itu."
"Ah, Mas
ini. hehe...Ya saya akan merasa jijik sama Mas jika kelakuan Mas ternyata
tidak berbeda dengan si “Je”, mantan suami saya itu."
"Mbak kok seolah yakin benar kalau
kelakuan saya berbeda dengan mantan suamimu mba. Kenap tidak waspada?
Kenapa Mbak justru malah mengajak saya jalan
bersama?"
Aini tersenyum, lalu menjawab,
"begini ya Mas, pertama Mas sudah
menolong saya tadi siang, itu artinya mas adaalah orang Baik. yang kedua Orang
yang sudah pernah terluka seperti saya ini bisa membaca bahasa tubuh orang
brengsek seperti mantan suami saya dan yang sejenisnya. Dari cara lelaki
memandang dan menatap saja saya sudah tahu dia itu sebenarnya serigala atau
tidak. Saya tahu mana mata yang jelalatan dan yang tidak jelalatan. Saya bisa
meraba watak seseorang dari gerak dan binari matanya. Tidak hanya mata kaum
lelaki. Bahkan mata kaum perempuan pun saya bisa membedakan mana mata pelacur
dan bukan pelacur. Mana mata perempuan baik-baik dan perempuan tidak
baik!"
"Jadi Mbak yakin saya ini orang
baik?" sahutnya sambil melihat ke luar jendela.
"Sejauh ini saya yakin. Tidak tahu satu
dua jam ke depan. Bisa jadi kepercayaan saya padamu Mas berubah." Jawab
Aini tegas.
Arief merasakan
ketegasan itu. Kalimat dan intonasi perempuan itu seolah juga memberitahukan
kepadanya agar ia jangan mencoba bersikap meremehkannya. Dari ketegasan itu,
Arief mengerti bahwa perempuan muda di sampingnya adalah perempuan yang
memiliki karakter kuat. Dan tidak mau diremehkan. Entah kenapa ia ingin
memandang perempuan di sampingnya itu dengan lebih dalam. Keinginan itu tidak
dapat dilawannya. Ia pun memalingkan wajahnya perlahan dan memandang ke arah
wajah Aini. Aini ternyata sedang memandang ke arahnya. Mata keduanya bertemu
sesaat. Ada getaran halus masuk ke dalam hati Arief. Wajah Aini tampak sangat
Cantik dan Teduh ada aura ketulusan yang memancar darinya. Dan ada pesona yang
mampu membuat hati merasakan getaran
halus yang masuk begitu saja.
"Apakah ada kilatan binar serigala dalam
mata ini?"
Aini tersenyum, dan menjawab, dengan hempasan
panjang sambil menyandarkan bahunya ke Kursi.
“hampir di semua mata lelaki ada binar liar
serigala ketika melihat perempuan. Untuk itulah menurut saya kenapa kaum lelaki
diminta oleh Tuhan untuk menjaga pandangan."
Mendengar jawaban Aini, Arief diam dan tidak
berkata apa-apa. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Dalam hati Arief
membenarkan perkataan Aini. Sebab saat ia memandang wajah dan mata Aini dengan
seksama, ia menemukan sihir yang mampu mengubah dirinya menjadi serigala.
Tiba-tiba ia merasa menemukan kalimat untuk menjawab perkataan Aini,
"Dan hampir semua wajah dan mata
perempuan itu memiliki sihir yang mampu mengubah lelaki jadi serigala. Maka
sebaiknya memang keduanya saling menjaga. Agar tetap menjadi manusia yang mulia
dan tidak berubah menjadi manusia serigala."
Aini tersenyum simpul mendengarnya.
“seperti sinetron Ganteng-Ganteng Serigala,,,
aja ya mbak”. celetuk Arief sambil menghela nafas tanda Mereka sudah lama
bercakap. Aini melesungkan pipinya ke arah penumpang lain yang di depan.
“Kalau
Mas mau untuk sementara Mas bisa ikut saya menginap di kost an saya,
"Menginap di tempat Mbak?"
"Iya. Jangan berpikir yang tidak-tidak.
maksud saya sehari atau dua hari sebelum Mas ketemu dengan orang yang mas cari itu.
Di tempat saya ada tiga kamar. Mas bisa menginap di salah satu kamar. Paling
tidak untuk sekadar melepas lelah. Besok mas bisa mencari orang yang dituju
itu. Itu kalau Mas mau."
Arief terdiam
sesaat. Ia memang tidak kenal siapa-siapa di Kota ini. Nama yang ada dalam sobekan kertasnya
pun sebenarnya tidak kenal. Nama itu adalah nama Muridnya Pak Haji Tohir. Pak
Somad namanya, Ia sempat nyantri dengan Pak Haji Tohir sewaktu kuliah di UIK Bogor. yang sekarang
sudah mempunyai Kampus di Jakarta, Nama Lembaga itu Masih melekat di ingat Oleh
Arif “OXFORD” gumamnya dalam hati. Dan jujur ia memang perlu istirahat.
Perjalanan dari mengitari Bogor sampai ke Ibukota cukup membuatnya lelah.
Apalagi dua hari sebelum berangkat ia kerja lembur di sebuah Perusahaan jasa
Antar barang.
Arief masih belum mantap menentukan salah satu
pilihan. Hati kecilnya ingin menginap di hotel. Tapi uang yang ia miliki
benar-benar pas-pasan. Ia sebisa mungkin harus menghemat.
"Sudahlah ayo ikut saya saja Mas.
Besok Mas bisa pergi ke mana Mas suka.
Ayo!"
Kata
Aini dengan tegas seraya bergegas ke luar terminal. Ketegasan kata-kata
Aini membuat Arief seolah menemukan
pilihan terbaik. Ia pun mengikuti langkah Aini. Mereka keluar menyeberangi
jalan raya. Aini berjalan dengan cepat meskipun ia harus menyeret tas kopernya.
Aief berusaha mengimbangi di sampingnya.
"Jangan kaget nanti ya Mas, Mas bermalam di tengah-tengah Para Cady golf .
Artinya penghuni rumah itu semuanya wanita. Saya salah satu di antaranya. kost
itu dihuni enam orang. Ada tiga kamar. Satu kamar berdua. Kebetulan ada dua
orang yang sedang mudik, Jadi saat ini dihuni empat orang. Mas nanti bisa tidur
di kamar saya saja. Kebetulan di kamar saya ada kamar mandinya. Jadi Mas tidak
akan mengganggu teman-teman saya yang lain." Aini menjelaskan kondisi
rumahnya.
Arief
mendengarkan dengan seksama. la merasa tidak enak pada perempuan muda yang baru
dikenalnya itu, namun apa hendak dikata. ia tak punya siapa-siapa lagi dan tak
kenal siapapun di kota ini.
"Em...mba baik sekali. Entah bagaimana
saya harus membalas budi Mbak. Saya malu". "Jangan berpikir begitu.
Mas, Kita ini sebagai manusia sudah semestinya saling tolong menolong, dan mas
bilang tadi di kereta sebagai seorang Muslim sudah menjadi kewajiban kita
bukan? Apa Mas lupa dengan apa yang Mas katakana Tadi? apalagi kita satu Agama
dan satu suku iya kan… Ya anggap saja ini impas dengan kejadian copet tadi."
***
7.
Bermalam di kosan Aini
kali ini Arief
pasrah dan menurut pada kata-kata Perempuan, tidak pernah sebelumnya ia selemah
itu dan sepasrah itu . Ia membawa tasnya ke kamar. Ia masuk dan menutup pintu.
Arief mencium bau wangi di kamar itu. Kamar yang bersih dan rapi. Jauh sekali
bedanya dengan kamarnya dan teman-temannya saat bekerja dulu di Aceh, sebelum
pulang ke Bogor.Arief mencopot jaketnya
dan merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk itu. Terasa nyaman. Tapi ia merasa
kulitnya seperti lengket dengan pakaiannya. Sangat tidak nyaman. Ia lalu
beranjak ke kamar mandi dan mandi. Air yang mengguyur sekujur tubuhnya itu
serasa meremajakan seluruh syarafnya. Barulah setelah mandi ia bisa istirahat
dengan nyaman.
Sesaat sebelum
tidur kilatan senyum Aini yang tulus terbayang di mata. Ia tersenyum. Tiba-tiba
ia teringat perkataan Aini tadi siang.
"Jujur ya Mas, menurut saya hampir di semua mata lelaki ada binar liar
serigala ketika melihat perempuan. Untuk itulah kenapa kaum lelaki diminta oleh
Tuhan untuk menjaga pandangan." Ia kembali tersenyum. Lalu terlelap tidur.sampai
subuh tiba.
***
Arief tidur di
kamarnya, yang tak lain adalah kamar Aini. Kedua matanya memandang langit-langit
kamar yang berwarna putih bersih. Sementara pikirannya melayang ke mana-mana.
Melayang ke perjalanan Pulang Dari Aceh, mengelilingi kota Bogor samapai di
kereta hingga ketemu Aini. Dan sampai di
rumah yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia masih juga
berpikir apa yang harus ia lakukan. Apakah tetap diam di rumah itu menunggu
informasi lowongan kerja dari Aini. Sehingga ia bisa meneruskan hidupnya tanpa
harus menumpang lama di kostan itu. Ataukah ia nekat saja pergi dari rumah itu.
Kenapa ia mesti menunggu informasi dari Aini. Bukankah ia bisa nekat,
sebagaimana selama ini ia selalu nekat. Dan bukankah sebenarnya ia pergi ke
Ibukota berbekal nekat. Kalau ia nekat pergi dari rumah itu, siang itu
juga,lalu ia mau pergi ke mana? Ia tidak hafal Jakarta dan sekitarnya. Apa asal
pergi saja. Yang penting jalan. Seperti waktu ia dulu nekat ke Aceh untuk
bekerja. Tapi ia nyaris mati di sana karena dikeroyok berandalan jalanan. Apa
ia akan mengulangi nasib yang sama. Dan jika ia nekat, berapa lama ia akan bisa
bertahan? Uang yang ia bawa sangat pas-pasan. Tak lebih dari 300.000 rupiah
saja, Berapa lama ia bisa bertahan dengan uang tiga ratus ribu?
Aini berangkat
kerja pagi itu hingga tidak sempat membangunkan Arief yang masih tidur kelelahan,
ia dijemput Oleh Bossnya yang dari Golf namun Aini menitipkan Kunci kosannya
itu ke kamar sebelah. kalau- kalau Arief mau keluar bisa mengunci dan pulang
tanpa harus meminta dari Aini.
Arief bangun
kesiangan matahari sudah bangkit dari celah jendela menerobos segala isi ruang
kamar itu kemudian Arief bangkit dan mandi seketika itu.
setelah lama di kamar ia merasa bingung dan
bosan pula apa yang harus ia lakukan untuk mengisi kegelisahannya itu. tidur ?
Ia yakin tidak bisa tidur. Ia lalu melihat-melihat isi kamar, ia mencari
sesuatu yang bisa dijadikan penghiburnya. Di samping meja dekat tembok ia melihat setumpuk buku ISLAMI ,majalah dan
Novel. Juga ada beberapa buku. Buku-buku formal berbahasa Inggris. Ia ambil
satu Novel di antara Tumpukan itu, judulnya “SEPENGGAL CINTA DI PADANG PASIR”.
Ia buka Novel itu. Di halaman paling depan ia menemukan nama Penulis novel itu tertulis dengan tinta hijau “Aef sugihartoni & dudun Parwanto” Arief
menebak pasti Penulis Novel itu pasti orang Sunda” gumamnya dalam hati.
Di bawah Novel
itu ada buku bersampul hijau Muda yang sangat tebal. Ia ambil. Terbitan Rasibook
Jakarta , pemuda itu mengkerutkan dahi dan matanya melebar sambil
menggeleng-gelengkan kepala. sebuah tulisan yang tidak bisa ia baca, Bahasa
arab tanpa harokat, namun Di sampul depan Ada nama penulisnya dengan Huruf
Latin dengan Tinta Biru “Muhammad Sobari
M.Pd.I”.
“Orang yang bisa memahami buku seperti itu
pastilah bahasa Arabnya mantap”. Gumamnya dalam hati.
Ia jadi
bertanya-tanya, kenapa buku-buku islam dan Sastera seperti itu bisa ada di
dalam kamar Aini ? Siapakah yang selama ini membaca buku itu? Aini kah? Atau
teman Aini? Apakah Aini seorang Mahasiswi? Tiba-tiba ia tersenyum, mengapa ia
bisa sebodoh itu. Bisa jadi orang lain milik orang lain yang tertinggal dan
Aini menyimpannya Atau entahlah, yang jelas ia menafikan jika yang punya dan
yang membaca buku dan novel itu bukan Tukang Ojek atau Orang lain yang salah
Masuk Kamar,tapi Melihat tampang dan
penampilan dan Temannya sangat meragukan, dan sangat tidak meyakinkan.
la lalu
melihat-lihat beberapa majalah. Ada yang terbitan Singapura dan bahkan
Hongkong. la mengambil yang terbitan singapura. la bawa ke kasur. la baca
sambil tiduran. Tak berapa lama kemudian ia merasa mengantuk. Entah kenapa
setiap kali ia membaca rasa kantuk itu menyerang dengan cepat. Saat ia berada
di antara sadar dan tidak sadar karena mulai masuk tidur, terdengar ketuk
pintu, dan Arief segera bergegas membuka Pintu dengan hanya mengenakan kaos
dalam dan celana pendek di bawah lutut, ternyata orang itu hanya mengantarkan kunci dari kamar tetangga yang
dititpkan Aini padanya untuk di berikan kepada pemuda itu.
Arief melanjutkan
tidurnya kembali, ia merasa lelah dan letih sehingga butuh Stamina dan
istirahat yang cukup apalagi nanti Ia harus berjuang mencari seseorang,
Akhirnya arief kembali tidur sampai siang, bahkan sampai sore ia tidur. dari
celah jendela sore itu terdengar sayup-sayup mobil menderu dan beberapa orang
bercakap dengan bahasa inggris.
Arief sejenak
memfokuskan telinganya walau matanya masih berat untuk membukanya, ia bangkit
dari tidur, karena merasa lapar, tapi ia bingung uang di kantongnya hanya cukup
buat 3 hari itupun transport saja. ia masuk ke dapur maksudnya untuk mencari
apa saja yang bisa di masak walau hanya sekedar mengganjal perutnya yang
kosong.
8.
Tatapan wajah Binar
Aini membuka
pintu di tanggannya ada banyak sayuran, rupanya Aini pulang kerja langsung
mampir ke Pasar cempaka putih dan membeli perlengkapan Dapur,
di
lihatnya Arief sedang memasak mie, Aini langsung menyahutnya.
“ Mas Arief sedang apa? seketika itu Arief
kaget, dan menoleh ke belakang.
“Em..masaak mie, mbak”.jawab Arief sedikit kikuk.
“Em..masaak mie, mbak”.jawab Arief sedikit kikuk.
“Oooh.. kirain sedang apa, biar saya saja yang
memasak”.
“nggak usah Mba”...
“sudaah, saya saja, lagipula sekalian saya mau
masak buat tugas Funcooking. Mas Arief istirahat aja di Kamar, kan masih Sore
besok kan Mas Arief harus nyari seseorang itu kan”?.
Arief
hanya mengangguk pelan, ia lihat jam menunjukan 4:30 , ia kelagapan, ternyata
belum sholat Ashar, langsung tanpa kompromi lagi ia langsung masuk kamar mandi
yang berada di sebelah pintu kamarnya,seusai wudhu hanya beberapa langkah
menuju Kamar terdengar suara piring pecah “ gembreeeeng! aduuuh.. !!
suara rintihan perempuan
yang tak asing di telinga terdengar jelas di telinga Arief, pemuda itu langsung
kearah dapur,ia yakin kalau suara itu barasal dari sana
benarlah dugaannya, Aini jatuh tersandung
ketika hendak memberikan makanan itu ke kamarnya, mie goreng dengan telor ceplok
di atasnya tumpah seketika,memenuhi keramik putih. Arif melihat itu langsung mendekat
Aini sambil memebereskan ceceran mie dan serpihan piring.
Kau tidak apa-apa mba?”
Perempuan itu mengaduh kesakitan mukanya memerah. Dua matanya yang bening
menatap Arief. Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan, “tidak apa-apa. Hanya
saja kaki kananku sakit sekali. Mungkin terkilir saat jatuh.”
“Syukurlah kalau begitu.”
Dua mata bening di balik rona merah yang menahan sakit itu terus memandangi
wajah Arief yang masih penuh dengan
tetesan-tetesan air wudhu. Menyadari hal itu Arief menundukkan pandangannya ke
lantai dan membereskannya sampai betul-betul bersih. Perempuan itu perlahan
bangkit.
“terima kasih Mas,
maaf jadi merepotkan”. Arief mengangkat mukanya. Tak ayal matanya menatap wajah
putih bersih memesona. Hatinya bergetar hebat. Syaraf dan ototnya terasa dingin
semua. Inilah untuk pertama kalinya ia menatap wajah gadis jelita itu yang
belum lama ia kenal dari jarak yang sangat dekat. Sesaat lamanya keduanya
beradu pandang.
perempuan itu
terpesona oleh wajah yang membuat
hatinya merasa Damai, tenang dengan tetesan wudhu yang masih jatuh ke
lantai,berbeda saat pertama kali ia memendang Arief dengan muka pasi dikereta itu.
sementara gemuruh hati
Arief tak kalah hebatnya. perempuan itu tersenyum dengan pipi merah merona,
Arief tersadar, bahwa ia harus menunaikan
kewajibannya sebagai muslim, ia cepat-cepat membuka pintu keluar yang ada di
belakangnya dan melangkah menuju kamarnya.
***
Saat malam datang
membentangkan sejadahnya, kota Jakarta kembali diterangi sinar rembulan. Angin
sejuk dari utara semilir mengalir.
Aini terpekur di
kamarnya. Matanya berkaca-kaca. Hatinya basah. Pikirannya bingung.
Apa yang menimpa dirinya.
Sejak kejadian tadi sore hatinya terasa gundah. mata teduh Arief bagai tak hilang dari pelupuk matanya.
Pandangan matanya yang teduh menunduk membuat hatinya sedemikian terpikat.ia
tak pernah merasakn ini sebelumnya. Wajah sendu nan bijak terbayang dimatanya,
air matanya mengalir deras. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan kegembiraan
yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. walaupun dulu ia sempat menikah dengan
jarot tapi ini pertama kalinya ia di landa jatuh hati yang absolut. Dalam hati
ia berkata, “ ya robb, apa yang terjadi pada diri ini”
****
Sementara itu
di dalam kamarnya yang tidak lain adalah kamar Aini, tampak Arief yang sedang
menangis tepat di bersebelahan dengan Kamar Aini. tampak malam itu seusai
sholat tahajud, Ia menangisi hilangnya kekhusyukan hatinya dalam shalat. Ia
tidak tahu harus berbuat apa. Sejak ia bertemu dengan Aini ia tidak bisa
mengendalikan gelora hatinya. Aura kecantikan Aini bercokol dan mengakar sedemikian kuat dalam
relung-relung hatinya. Aura itu selalu melintas dalam renungannya.
“Ilahi, kasihanilah
hamba-Mu yang lemah ini. Engkau Maha tahu atas apa yang menimpa diriku. Aku tak
ingin kehilangan cinta-Mu. aku merantau dari banyak tempat hanya untuk hidup
lebih baik, bukan ini yang ku inginkan,Namun Engkau juga tahu, hatiku ini tak
mampu mengusir pesona ciptaan-Mu. berilah padaku cawan kesejukan untuk
meletakkan embun-embun cinta yang menetes-netes dalam dinding hatiku ini.
Ilahi, tuntunlah langkahku pada garis takdir yang paling Engkau ridhai. Aku
serahkan hidup matiku untuk-Mu.di kota ini hanya Engkau dan Diri ini sajalah
yang tau” Isak Arief mengharu biru pada
Tuhan Sang Pencipta hati, cinta, dan segala keindahan semesta. ia tertidur di
sejadah itu sampai subuh tiba.
Belum pernah aku
jatuh cinta
Seperti pada malam
yang gelap
Pun merindu
Dalam keheningan
malam yang sepi..
Namun..
Rupanya aku sedang
jatuh cinta
Pada malam yang
gelap
Pun merindu dalam
keheningan malam yang sepi...
Aku akan tetap
jatuh cinta..
Karena saat malam
yang gelap ku dekatkan rasa pada-Nya
Saat keheningan
malam yang sepi ku lantunkan doaku untukmu
Semoga karena-Nya
kaulah takdirku
Untukmu yang tak pernah lekang
di ingatku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar