17.
Berkunjung ke Pesantren Mas Sobari
Lima hari
kemudian, Arief mampir ke pondok pesantren mas Sobari dengan motor barunya
walaupun second tapi tetap modis untuk dipakai. Begitu bertemu mereka berangkulan
erat sekali. Mas Sobari tampak bahagia sekali bertemu dengan Arief, begitu juga
ia. Kesahajaan dan kesederhanaan Mas Sobari sama sekali tidak berubah, meskipun
ia telah menyandang gelar Megister di PTIQ Jakarta. Ia berpakaian biasa,
layaknya orang biasa. Orang yang tidak mengenal Mas Sobari bisa jadi menyangka
beliau adalah tukang ojek. Atau tukang sayur. Sebab saat itu beliau memakai
batik Cirebon berwarna kuning terang yang tersembunyi dalam jaket cokelat yang
tampak tua. Beliau langsung membawa pemuda itu ke ruangan pribadinya dilantai
Atas. karena lantai bawah di pakai oleh santri-santrinya mengaji.
“Mas rasanya aku betah tinggal disini”.. ujar
pemuda itu sambil memandang Pesantren itu ke setiap sudut.
"pesantren ini tempatnya masih kondisi
sewa Rief" kata Mas Sobari begitu sampai diruang atas. "Doakan tahun
depan ada rejeki untuk melunasi angsurannya. ya,Meskipun dengan mengangsur,"
lanjutnya.
"Semoga Mas." jawabnya dengan
singkat.
"Ayo masuk. Kita cuma berdua disini.
“Istri Mas”?
“Isteriku sedang ke jambi mengurusi
Administrasi TK."
“Jambi?“ (isendiri”?
“tidak, berdua sama temannya”.
“Jambi”?
(Arief merasa mengingat pesan dari Nia tentang keberadaan Aini di jambi, tapi
dia tidak yakin, apakah Aini bersama istrinya Mas sobari atau bukan. Hmm.
Mungkin hanya kebetulan aja. Mana mungkin Aini ngurus Pendidikan apalagi TK,
apalagi aku belum kenal sama Istri Mas Sobar”. Ujarnya dalam hati.
Begitu masuk mas
Sobari langsung ke dapur. membuatkan minuman. "Adanya ini ." Kata mas
Sobari sambil membawa dua gelas berisi air jeruk.
"Nyaman hidup di lingkungan pesantren ya
Mas?" tanya Arief.
"Nyaman dan tidaknya hidup itu yang
mengkondisikan adalah hati dan pikiran Rief. Kalau aku di mana saja merasa
nyaman. Aku tak pernah kuatir atau takut sebab aku yakin Allah
mengasihiku."
mendengar kata-kata bijaknya, pemuda itu terenyuh dan merasa takjub kepada
Mas sobari, walaupun usianya belum Tua, ia sudah Megister dan sekaligus punya
pesantren.
"O
ya Aku dapat kabar dari Indra katanya Kamu mau mengisi posisi itu?
“posisi mengajar”
“Oh jadi info dari indra itu sebenarnya dari
Mas”?
“ia rief”
“pantesan indra bilang kalau nanti di terima
menyuruhku untuk mampir ke pesantrennya mas”.
“mmm.. trus sudah di terima?
Sudah mas. saya sudah diterima ngajar disana
sebagai Tutor, makanya setelah ngajar saya mampir kesini, sekalian ingin tau
lokasi Pesantren Mas, tadi sih sempat nyasar tapi orang sekitar memberi tahu
alamat ini.”
“oh, syukurlah, nanti sering-sering mampir aja
kesini biar tidak nyasar lagi, sekalian aku ingin kenalkan istriku, kamu belum
pernah kenal kan Rief”?
“belum”.
"O iya Rief. Kamu tidak ada rencana
nikah? Atau masih mengharap gadis yang di lagura itu, yang pernah kamu
ceritakan dulu”.
"Aduh jadi malu. Jangan diingat-ingat
lagi Mas. Tapi penggerebekan di kosan cady itu seperti yang tertulis di koran ternyata tidak
seperti itu lho mas. Arief menceritakan panjang lebar semuanya, dan tentang gagalnya melamar Dzakiya dengan jelas
kepada Mas sobari.
Mas Sobari mengangguk-angguk.tanda semuanya
itu adalah sekenario Tuhan. “ini pelajaran berharga untukmu Rief. Jadi setelah
tahu kabar itu apa masih mau mengejar si Aini dan melupakan Dzakiya? Atau bagai
mana?"
"Aduh
mas itu masa lalu. Dunia ini kan luas. Jumlah wanita di atas muka bumi
ini miliaran Mas. Gadis Muslimah yang belum menikah jumlahnya jutaan, kenapa mesti mempersusah diri."
"Wah..wah..wah kamu sudah berubah Rief.
Tapi ada satu sifatmu yang aku sangat salut. Dan aku berharap sifat itu tidak
pernah berubah apalagi hilang dari dirimu."
"Apa itu Mas?"
Arief bijaksana sesuai namamu, kamu bisa bijak
ketika semua persoalan hidup bisa di hadapi dengan kepala rasional dan jiwa
tenang. Itu yang aku salut padamu. Jujur
itulah sifat yang mutlak harus dimiliki seorang anak Adam, agar ia tidak
bersangka buruk pada penciptanya. ini jadi barang yang sangat langka di masa
kini Rief."
"Doakan agar hati ini tetap terus
istiqamah Mas."
"Semoga Rief. O ya kembali tentang nikah.
Muslimah seperti apa yang sekarang kamu inginkan. Mungkin aku bisa membantu.
Tidak hanya membantumu tapi juga membantu kaum Muslimah yang ingin menikah tapi
belum menemukan jodoh. Siapa tahu di antara mereka ada yang sesuai untukmu. Arief menerawang kalau mas sobari akan
memilih dan menawarkan dari salah satu santriwatinya, seketika muka pemuda itu
tersenyum Lebar.
"Yang solehah pastinya mas. Mas kan sudah kenal aku cukup
lama jadi untuk kriteria mas pasti tahu yang cocok dan tepat "
"begini Rief. Ada Muslimah baik sekali.
Ini menurut isteriku. Sebab Muslimah ini kenal baik dengan isteriku. Pernah
satu kampus di PTIQ Jakarta, tapi beda kelas, dan jurusan, istriku adalah
seniornya dulu. Dulunya seorang cady Golf rawamangun, tapi berhenti sekarang ia
mengikuti jejak istriku berda’wah, menjadi aktivis dan pendidik. untuk namanya
aku lupa”.
"Umurnya berapa mas?"
"Ya beda sedikit dengan isteriku."
"berarti sudah tua dong mas."
"Eitss.... jangan salah. kamu tahu berapa
umur isteriku?"
"Berapa Mas?"
"Dua puluh sembilan tahun. dan umurmu?"
"baru Tiga-puluh mas."
"Berarti kira-kira dia lebih muda tiga
tahun darimu. Bagaimana?"
Arief merenung sejenak, dan sesekali ia teguk
Air jeruk yang sudah hambar itu, tenggorokannya kering, tanda bahwa ia sudah
lama bercakap dengan Mas Sobari.
"Kalau boleh tahu. Apa dia berjilbab ?"
"Kamu ini gimana Rief. Isteriku ini aktivis dakwah, masak mau mencarikan calon
buatmu yang suka yang pakaiannya kurang bahan. Ya pasti berjilbab rapat-lah."
"Kalau begitu boleh. mm..maksudku Boleh
tahu secara detailnya mas?
"nanti saja, kalau Istriku sudah datang
dari jambi, soalnya istriku juga mengajaknya kesana”.seminggu lagi aku mau
jemput nanti aku kabarkan lagi infonya, jangan lupa sholat istikhoroh ya.
“aku serahkan semua ini sama Allah dan Mas
sobari, aku ikut manut mas saja." telah lama bercakap akhirnya Arief izin
pamit pulang.
***
Arief meneguk kembali kelezatan bermunajat di
waktu hamba yang lain tertidur pulas diatas pusara empuk . Arief memohon agar
tetap Istiqomah dalam menjalankan segala ketentuan dan Syariat Islam keyakinan
Arief Islamlah jalan Yang paling haq di
antara jalan selainnya , ia pun berdo’a untuk kesiapan dirinya menjemput seorang
Calon pendamping Hidup untuk mencukupkan segala bentuk kebutuhannya kelak.
Arief selalu mengatakan kepada Indra bahwa menikah adalah hal yang sangat
kodrati. Dalam bahasanya menikah tidak
dapat dimatematiskan. Jika suatu saat ada orang yang mengatakan, “secara materi
saya belum siap,” saya akan selalu mengejar dengan pertanyaan yang lain,
“berapa standar kelayakan materi seseorang untuk menikah?”
Tak ada. Sebenarnya tak ada. Jika kesiapan
menikah diukur dengan materi, maka betapa ruginya orang-orang yang yang belum
cukup secara materi. Begitu juga dengan kesiapan-kesiapan lain yang bisa
diteorikan seperti kesiapan emosi, intelektual, wawasan dan sebagainya. Selalu
tak bisa dimatematiskan. Itulah sebabnya Arief selalu mengatakan kepada
teman-temannya yang masih melajang mengatakan bahwa menikah adalah sesuatu yang
sangat kodrati.
Bukan dalam arti ia menyalahkan teori-teori
kesiapan menikah yang telah dibahas dan dirumuskan oleh para ustadz. Tentu saja
semua itu perlu sebagai wacana memasuki sebuah dunia ajaib bernama keluarga
itu. Sebagai contoh saja, banyak pemuda berpenghasilan tinggi, namun belum juga
merasa siap untuk menikah. Belum cukup, lah... itu alasan yang paling mudah
dijumpai. Dengan gaji sekarang saja saya hanya bisa hidup pas-pasan. Bagaimana
kalau ada anak dan istri?
Arief ingat betul dengan kata-kata Mas Sobari
apakah kamu menunggu gajimu cukup, maka kau tak akan pernah menikah. Bisa jadi
besok Allah menghendaki gajimu naik tiga kali lipat. Tapi percayalah, pada saat
yang bersamaan, tingkat kebutuhanmu juga akan naik... bahkan lebih tiga kali
lipat. Saat seseorang tak memiliki banyak uang, ia tak berpikir pakaian
berharga tertentu, televisi, laptop... atau mungkin hp merk mutakhir. Saat tak memiliki
banyak uang, makan mungkin cukup dengan menu sederhana yang mudah ditemui di
warung-warung pinggir jalan. Tapi bisakah demikian saat Anda memiliki uang?
Tidak akan. Selalu saja ada keinginan yang bertambah, lajunya lebih kencang
dari pertambahan kemampuan materi. Artinya, manusia tidak akan ada yang
tercukupi materinya. Arief sambil menerobos kuat Nasehat mas Sobari sewaktu
ikut kajian-kajiannya.
Menikah adalah sebuah elemen kodrati
sebagaimana rezeki dan juga ajal. Tak akan salah dan terlambat sampai kepada
setiap orang. Tak akan bisa dimajukan ataupun ditahan. Selalu tepat sesuai
dengan apa yang telah tersurat pada awal penciptaan anak Adam.
Menikah adalah salah satu cara membuka pintu
rezeki, itu yang pernah Arief baca di sebuah buku. Ada pula sabda Rasulullah,
“Menikahlah maka kau akan menjadi kaya.” Mungkin secara logika akan sangat
sulit dibuktikan statemen-statemen tersebut. Namun sabda rosul tidak akan
pernah salah.
Arief sangat tenang sekali, damai dalam hati
malam itu, seperti mendapatkan kejernihan dalam sanubarinya meskipun dalam hati
kecil ia masih menyimpan rasa kepada Aini.
“Apabila seseorang mencintai Saudaranya,
beritahukanlah kepadanya bahwa ia mencintainya” (HR Abu Daud)
18.
Buku Rahasia
Senin Berikutnya
setelah seminggu rasanya tidak sabar Arief pun mendapatkan sms dari Mas sobari
untuk ke pesantrennya siang itu. setelah sampai Arief pun seperti biasa
langsung bergegas ke Lantai atas, Mas Sobari hanya berpesan bahwa ia akan
menjemput Istrinya ke Bandara, ia tidak bisa bercakap banyak dengan Arief.
Arief diminta untuk menunggu di sekat kamar berhadapan dengan beberapa koleksi
buku, bisa katakana perpustakaan mini. Kebanyakan buku-buku tentang pendidikan
dan bahasa Arab. Mas Sobari adalah pakar manajemen pendidikan dan ahli Bahasa.
Untuk seorang Megister yang cukup terkenal semua karyanya banyak di jumpai di
beberapa toko buku dan banyak beberapa kampus mengampu ilmunya sebagai rujukan.
Siang itu ia tidak bisa duduk tenang. ia
melihat-lihat buku yang ada di depannya itu. Banyak judul-judul baru terbitan
Indonesia. Ia senang dengan perkembangan penerbitan buku di Indonesia yang
semakin marak. Tiba- tiba kedua matanya tertuju pada warna sampul sebuah buku
yang sepertinya pernah ia lihat. Ia ambil buku itu. Buku bersampul hijau muda. Terbitan
Rasibook Jakarta. Rasa-rasanya ia pernah memegang buku itu. Ia mencoba mengetes
ingatannya. Di mana ia pernah memegang buku seperti itu. Ia mengingat-ingat
tempat-tempat ia bisa mengambil dan membaca buku. Akhirnya ia ingat di kamar
Aini di lagura, saat ia pertama kali tiba di jakarta. Ia tersenyum bahagia
ingatannya masih tajam. Ia buka buku itu. Halaman pertama. Dan ia bagai
tersengat listrik. Nama pemilik buku itu ko sama dengan Mas Sobari. Apakah
Sobari yang ia kenal adalah Sobari pemilik dan penulis buku ini? Dan ia yakin
buku yang ada di tangannya adalah buku yang beberapa tahun lalu ia pegang
dilagura. Lalu bagaimana buku itu bisa sampai di kosan Aini di lagura itu?
Puluhan kemungkinan dan pertanyaan berkelebat dalam pikirannya. Ia tak mau
pusing. Ia merasa lelah dan harus istirahat. Masalah buku itu bisa ia tanyakan
pada Mas Sobari nanti. Lima belas menit sebelum azan Ashar berkumandang ia
telah bangun. ia sholat Ashar dengan para santri Dilantai bawah sampai maghrib sampai menjelang isya.
ia merasa nyaman di tempat yang penuh dengan derasan lantunan kalam ilahi yang
di lontarkan oleh hafidz dan hafidzah yang luar biasa, Arif terkagum-kagum
kepada Muridnya Mas Sobari. Sebelum azan Isya berkumandang Mas Sobari sudah tiba
di masjid dan memberitahu Arief bahwa Istrinya sudah ada di lantai atas, termasuk teman
istrinya.
Shalat jamaah didirikan dengan penuh
kekhusyukan. Dalam sujud Arief berdoa agar dilimpahi kebaikan dunia dan
akhirat, serta diberi pasangan hidup yang menjadi penyejuk hati, teman sejati
dalam mengarungi hidup beribadah kepada Allah Azza wa Jalla
seusai sholat Isya berjamaah Arief bertanya:
“Mas,aku boleh Tanya sesuatu?”
“tanya apa?”
“Mas, Apa betul Mas seorang penulis?"
“kenapa tanya itu?” sambil melempar senyum
lebar kearah Arief.
“Tadi,sewaktu jemput Istri mas ke bandara, aku
buka buku tapi aku tak faham isinya, tapi ada nama penulisnya di cover depan
namanya sama dengan mas”.
“aha..a lalu?”
“aku Yakin itu Tulisan Mas”.
“dulu semenjak masih belum punya Istri, aku
gemar Tulis menulis Rief”.
“jadi, itu artinya .....sambung Arif dengan
rasa keingintauannnya.
“Ia, memangnya kenapa”?
“Oh Luar biasa Mas, dalam hati Arief masih
mengganjal, kenapa Buku Tulisan mas Sobari pernah ada dikosan Aini waktu itu?.masih
tanda tanya besar dalam hati pemuda itu.
19.
Pertemuan yang mengharukan
“Mas, Punten.. Apa ada mahasiswi Mas yang
Namanya Aini di kampus PTIQ ?
“Mahasiswi?,, ada banyak nama Aini disana,
Aini mana yang kamu maksud Rief, mm O iya aku sampa lupa Nama teman Istriku
yang akan bertaauruf denganmu juga Aini namanya. Istriku yang bilang”.
masa
sich Mas? dengan penuh keheranan.
“tapi, Aini yang ini Pake Jilbabkan? Seolah
arief meyakinkan hatinya Bahwa Aini yang ia maksud adalah Beda.
“iya”
O ya.. jadi aku harus gimana nanti. aku cuma
pakai sarung begini Mas?"
"Lha memangnya kenapa? Kalau pakai sarung
apa terus hilang ketampananmu?"
"Nggak sih. Mmm.. Nggak apa-apa dech mas."
“O iya, ayo kita cepat ke lantai atas”..
Semakin
dekat dengan Pintu hati Arief semakin
bergetar hebat. Ia akan bertemu dengan calon pendamping Hidupnya. Yang dalam
bayangannya akan menyejukkan hatinya. Mas Sobari melangkah duluan. dari
terawang sela-sela gorden, ada dua Muslimah berjilbab yang sedang berbincang di
ruangan itu. Namun tidak jelas. Jantungnya semakin keras berdegup. Ia berusaha
menguasai dirinya, dan menenangkan batinnya.
“Hatiku bagaikan diterjang gelombang pasang
yang amat besar”. gumamnya dalam hati, sambil berjalan Arief masih saja
berdialog dengan hatinya , “apakah aku siap menatap seorang ahwat yang bukan
mukhrim, Iman ini sudah malu yang teramat sangat Oh Ya robb.. aku pasrah.”
Mas Sobari melihat ke wajah Arief hanya
tersenyum simpul melihat pemuda itu. Mas Sobari sudah mengucapkan salam. Dua
Muslimah itu menjawab bersamaan. Arief mencopot sandalnya. Pandangannya
menunduk ke lantai. Mas Sobari masuk. la mengikuti di belakang. la memandang ke
depan. Dan... Pandangannya bertatapan dengan pandangan seorang perempuan
berwajah bersih, wajah yang dibalut jilbab putih bersih. Wajah yang pernah ia
kenal. Mata yang pernah ia kenal.
Dan... “Mas Arief”Dari bibir perempuan itu
tersebut namanya Ia berdiri mematung di tempatnya. Hatinya sesak oleh keharuan
luar biasa. Hawa dingin seolah menyebar ke seluruh syarafnya. Tak terasa
airmatanya meleleh.
Lidahnya kelu. Perempuan berwajah bersih itu
adalah Aini. "Ja..j.adi ternyata yang dimaksud temannya Mas Sobari ini
kau?" Arief shock dan hanya terdiam mulutnya terasa rapat dan kaki terasa
kaku Ariefpun tidak bisa menjawab matanya berkaca- kaca ada rasa takjub, haru,
dan bergejolak, Arief hanya kembali mengangguk. Arief pun kaget bukan kepalang,
ia tidak menyaka akan bertemu Aini disini, bertemu dengan gadis yang dulu ia
rindukan "Ini tidak mimpi kan?!" seru Aini. "Ti...tidak Aini.
Tidak! Ini kenyataan!" Arief buka suara dengan tangis yang pecah.
Begitu mendengar kalimat yang keluar dari
mulut Arief, Mas Sobari langsung mengerti. Beliau meneteskan airmata. Hanya
Istri Mas Sobari yang masih bingung.
"Jadi kalian sudah saling kenal?"
tanya Isteri Mas Sobari heran. Arief dan Aini mengangguk serentak. mas Sobari menyuruh Arief duduk Aini tak
kuasa membendung tangisnya. suasana itu menjadi sebak dalam dada keduanya,
Istri mas Sobari belum mengerti apa yang terjadi. Mas sobari memperkenalkan Istrinya
kepada Arief lalu menceritakan apa yang
terjadi pada pemuda itu saat jatuh cinta pada Aini.
Arief nyaris gila dan binasa. Sampai akhirnya
ia memanggil Arief untuk memilih menikahi Aini. Ia dan Arif hendak pergi ke
Lagura berniat untuk melamar Aini, sehari sebelum berangkat Mas Sobari mendapat
Berita di Koran Bahwa ada Penggeladahan Rumah Kosan DiLagura, dan menurut
Tulisan dari Koran Semua penghuni itu di ciduk polisi.
"Saat itu aku lihat Arief sangat
terpukul. Aku masih ingat bagaimana ia seolah tidak bisa percaya atas apa yang
dibacanya. Ia berteriak histeris 'Tidak mungkin! Tidak mungkin ini terjadi!'
Aku melihat bagaimana ia membaca lagi nama-nama penghuni kosan itu satu persatu
dengan hati hancur. Dengar nada putus
asa Arief saat itu mengatakan, 'Sia-sia aku menolongnya. Sia-sia aku
mencintainya.'' Mendengar cerita Mas Sobari, tangis Aini menjadi-jadi.
Perempuan yang baru berjilbab itu jadi tahu betapa pemuda yang di depannya itu
sebenarnya sangat mencintainya. Bahkan sampai sakit karena mencintainya. namun
seiring waktu Arief sering mengikuti kajian ba’da subuh denganku maka hatinya
mulai lapang. tandas mas sobari
Aini lalu
berbicara dengan suara terbata-bata. Menceritakan bagaimana dia sebenarnya
sangat berharap Arief datang. Ia lalu menceritakan kejadian pemerkosaan atas
dirinya dan bagaimana Arief menolongnya. Sejak itu ia merasa bahwa orang paling
berhak menerima pengabdiannya adalah Arief. Aini juga mengakui ia berubah total
cara hidupnya semenjak berkenalan dengan mba Imza, yang Tidak lain adalah Istri
dari Mas Sobari. Mas Sobari dan isterinya, ikut terharu mendengar kisah mereka
berdua.
"Subhanallah. Allah tidak mempertemukan sesuatu
yang salah pada hambanya jika hambanya selalu ingin menggapai kesucian hati dan
Cinta yang berlandaskan ridho-Nya. Kata Mas Sobari dengan berlinang airmata.
"Jadi tak perlu ada ta'aruf ini?"
tanya mba Imza. Pertanyaan itu malah dijawab dengan derai airmata oleh Aini.
Semuanya kemudian diam. Masing-masing menyelami perasaan dan pikirannya
sendiri-sendiri. Malam itu adalah malam yang tak akan pernah Mereka Lupakan.
****
20.
Pernikahan yang dinanti
seminggu
berikutnya, pernikahan antara Aini dan Arief di laksanakan di Pesantrennya Mas
Sobari, di saksikan oleh semua Santri dan santriwati. hiruk pikuk suara
bergemuruh tanda ramai saling berdesakan antara para tamu dengan santri, mereka
ingin menyaksikan sebuah acara yang amat sakral Sekali seumur hidup.
“Walaikumsalam! Ustadz datang pada waktu yang tepat.” Ucap
Mas Sobari. “Rief, ini adalah Ustadz
Ilyas, beliau adalah petugas dari KUA. Yang akan mengurus pernikahan kalian
sekarang juga termasuk sekaligus dari penghulu kalian!” jelas Mas sobari.
“Baik. Kalau semua sudah siap!” ucap penghulu
itu. “saya harap untuk pengantin wanita dan prianya duduk didepan saya. Untuk
saksi dari laki-laki, silakan duduk disebelah kiri saya. Dan untuk wali dari
perempuan, silakan duduk disebelah kanan saya.”
kaliamat takbir tak putus dari hati Arief Jantungnya kini berdetak kencang. Semua ini terasa mimpi.
Mimpi yang benar-benar terjadi. Aini akan menjadi pendamping hidupku. gumamnya
dalam hati.
“Baik, Anakku tirukan kata-kata saya!” ucap
penghulu itu dengan penuh rasa kebapaannya. “Dengan ini, Muhammad Arief wahyudin,
menikahi Nuraini Rosyidah binti Rosyid dengan mas kawin Cincin Mas”
Sambil bersalaman
dengan Penghulu itu. Arief melafalkan ucapan sakralnya itu. “Dengan ini, saya Muhammad
Arief wahyudin, menikahi Nuraini Rosyidah ” hening sejenak Entah kenapa mulutnya
terasa kaku. pemuda itu benar-benar merasa gugup.
“Baik kita ulangi sekali lagi.” Ucap Penghulu
itu. “Dengan ini, saya Muhammad Arief Wahyudin, menikahi Nuraini Rosyidah
dengan mas kawin sebuah Cincin emas”
“Dengan ini, saya Muhammad Ari...f wahyu..din,
menikahi Nuraini Rosyi..dah binti Rosyid dengan mas kawiii..n….” Arief
benar-benar gugup. pemuda itu tidak
dapat melafalkannya dengan lancar.
Suasana menjadi
agak hening. Serasa ia benar-benar menjadi orang yang tidak dapat melakukan
sesuatu yang mudah. Sungguh ia sangat gugup sekali.
“Hem…! Alhamdulillah” sela Mas Sobari.
Mengagetkan. “Alhamdulillah, dengan begini kita tahu. Bahwa seorang Arief memang belum pernah menikah!” Semua yang ada
diruangan itu tertawa. hati pemuda itu merasa malu sekali.
“Rief, tenanglah. Bacalah dengan menyebut nama
Tuhanmu!” ucap Mas Sobari. Dengan kekharismatikannya.
“Bagaimana? Mau diulang?” ucap penghulu itu. Arief
hanya mengangguk. “Bismillah” ucapnya lirih.
“Baik, kita ulang.” Ucap Penghulu itu lagi.
“Dengan ini, saya Muhammad Arief wahyudin menikahi Nuraini Rosyidah binti Rosyid
dengan mas kawin sebuah Cincin emas ”
“Dengan ini saya, Muhammad Arief Wahyudin
menikahi Nuraini Rosyidah binti Rosyid dengan mas kawin sebuah Cincin emas dibayar
tunai” Ucapnya dengan sedikit lancar.
Alhamdulillah.
Selanjutnya Penghulu itu mempersilahkan Pihak
dari mempelai Wanita untuk mengikuti kata-katanya.
Seketika itu pandangan Mas Sobari kepadanya
terlihat sangat serius. Mas Sobari memegang tangan Arief dengan erat. Seraya
mengatakan
Jagalah ia, jangan kau sakiti dia, brjuanglah
bersama-sama untuk mengharap Ridho Allah semata.
“Saya resmikan pernikahan pasangan pengantin
ini.”
dalam hatinya Arief gemetar “Ya Allah, ucapan
penghulu benar-benar membuatku melambung. Aku kini sudah mempunyai seorang
istri. Seorang yang akan menemaniku sepanjang waktu. Setiap saat akan ada yang
menopangku . Menjadikan aku raja. Dan aku akan menjadikan dia ratu. Ya
Allah sungguh kenikmatan yang begitu indah.”
Tetes air matanya mengalir lirih dalam
pelupuknya. Keindahan ini harus ia lewati tanpa disaksikan oleh kedua orang
tuanya. yang sudah lama meninggalkan Dunia ini dengan wajah tersenyum, kini
Arief pun tersenyum tanda ia rindu dengan Orang tuanya.
“Anakku, sekarang engkau resmi menjadi suami
dari ananda Aini. Apakah yang engkau risaukan sekarang!” tanya penghulu itu
dengan bahasa kebapaan. “Ustad, sungguh saya sangat berbahagia sekali menikahi
seorang bidadari. Tidak pernah terlintas sedikitpun rasa kecewa. sayangnya kebahagiaan Ini tidak dapat dirasakan
oleh kedua orang tua saya.
“Anakku, janganlah kamu berkata seperti itu,
Orang tuamu bahagia disana, melihat anaknya yang sedang bahagia apalagi ini
adalah sebagian dari ajaran Rosul, jadilah lelaki yang tangguh seperti nabi
Musa as” Jelas penghulu itu dengan nada penuh karismatik.
hati Arief terenyuh mendengar pernyataan itu
dan membenarkan dalam hatinya.
Hari itu tiadaklah kebahagiaan di dunia untuk mereka, melainkan bersatunya Cinta yang sangat mulia lagi suci.
Hari itu tiadaklah kebahagiaan di dunia untuk mereka, melainkan bersatunya Cinta yang sangat mulia lagi suci.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar