1.Pagi yang membelenggu.
Pada senin yang bening, Matahari bangkit perlahan
sinarnya memancar dan menembus celah-celah jendela. Anak-anak berlarian penuh
kegirangan dan suka cita ramai di jalan itu, orang-orang berlalu lalang hingga
tak terdengar jelas obrolan di sekeliling, nampak pagi itu suasan riang dengan
Aktifitas Ibukota namun tidak untuk Aini, wanita paruh baya yang selalu
mengenakan gamis itu, dengan segala hati yang berkecamuk kesal dan sedih
menyelimuti jiwa dan fikirannya, malang melintang raut wajah beku pikiran
terbang seperti tornado yang seketika meluluh lantakan apa saja yang ada di
sekitarnya.
Dengan gamis lusuh berwarna pink pudar, ia mangayuh
sebuah roda dua dengan hati getir ia terus dan terus mengayuh dengan keringat
yang meleleh di dahi dan pipinya, seakan tak merasakan itu, terbesit dalam
pikirannya menuju sebuah rumah seorang yang tak asing baginya, ia hentakan kaki
sekuat-kuatnya terus mengayuh untuk segera
menumpahkan segala beban yang ada, tak kuat meraskan balutan kesedihan juga
amarah yang sudah memuncak, Aini tidak menggubris orang-orang di sekeliling
yang menyapa baik dengan suara atau dengan klakson motor dan mobil, Ia melaju
cepat seakan mengendarai motor
herly , tak peduli hingga kalaupun tertabrak truk atau mati sekalipun. Aini merasa sudah kehilangan semangat
jihadnya, pasrah dan hanya tertuju pada sebuah rumah temannya yang jarakanya
agak jauh dari sebrang Kramat Pulo Gundul.
***
2. Menuju rumah Imza
Hampir setengah jam Aini menempuh perjalanan itu, padahal
bisa saja ia naik angkot dan tidak perlu cape-cape untuk kesana, namun dengan rasa dongkol dan
kesalnya yang memuncak ia memilih bersepeda untuk bisa ia lampiaskan.
Terdengar dari kejauhan sebuah lagu yang tak asing
didengar di telinganya sebuah lagu yang
selalu menemani Aini dikala dirundung sedih, dikala hati merasa jauh dengan
sang Esa, sejuk kedalam jiwa “ insyaallah” sebutnya dalam hati, sebuah judul
lagu beraliran pop islami yang di populerkan oleh Maher Zein .
Semakin kencang Aini mengayuh, lagu itu semakin terdengar
dekat dan jelas, entahlah apakah hanya Aini yang mendengar, tetapi suara lagu
itu menunjuk ke sebuah rumah yang Aini tuju, memang benar lagu itu berasal dari
sana, selayang mata memandang di teras
depan sebuah keluarga yang amat harmonis yang sedang bergegas untuk memulai
aktifitas, Aini tersontak hampir-hampir segala pikirannya menggeleparkan urat-urat
kesyahduan di jiwa Aini.
Sosok wanita paruh baya yang Aini lihat itu membuat
jantung Aini berpacu cepat bagaimana tidak? Ia merasa cemburu kepada keadaan
yang memaksa dirinya untuk sendiri , keluarga yang amat bahagia tak ayalnya
bila itu masih terjadi pada Aini dan keluarganya, Aini masih berdiri diam,
seolah dalam hatinya sedang berdialog panjang, kaku rasanya bak akar-akar yang
menjalar, walau bagaimanapun Nuansa Harmonis yang Aini lihat itu ia dapatkan
dulu ketika ijab Qobul di saksikan.
Tak ingin lama dalam lamunan, Aini turun dari sepedanya
yang tanpa rem itu, disandarkan ke tembok pagar
yang membatasi antar pagar rumah dengan jalan, ia hembuskan nafas seolah
tak terjadi apa-apa, hanya untuk menenangkan batinnya saja yang sedang
bergemuruh sambil menatap ke kaki langit, langkah mulai ia tapakkan dengan
tangan dikepal berbaris keringat beku dipipi dan dahinya yang mulai mencair dan
menetes di pucuk-pucuk rumput yang berbaris.
“Tuhanku, aku tidak pernah
berjalan selemah ini” gumamnya dalam hati. Beberapa langkah dari pintu masuk terdengar
“ Assalamu alaikum”.. Aini? Aini mencoba memfokuskan diri dan menyibakkan
matanya yang berkunang-kunang, sambil mengangkat
kepalanya.
“Waalaikum salam”....jawabnya dengan nada lirih dan serak. Sedikit ia perhatikan ternyata
Mas sobari....? Mau ke pesantren ya Mas..?
“Ia, tapi sedikit telat
nih, soalnya ada
acara reunian Santri-santri disana,jam Sembilan harus sudah tiba.
Guh..... teguh.......!
Ayooo,, cepatan ! ayah telat nih.
“ia.... tunggu sebentar !
sabar donk yah, Aku lagi naliin sepatuku dulu”, sahut anak itu dari kejauhan.
“O iya,,, habis dari
mana? Tumben pagi- pagi sudah mampir..?”, tanyanya sambil mengalih pembicaraan.
“sengaja kesini mas,
sengaja ada perlu sama mba Imza”, jawabnya dengan singkat.
“memangnya hari ini nggak
ngajar..? tanya Mas Sobari.
“kebetulan hari ini ada Acara Home-Visit ke rumahnya mamah Dhea,
jadi hanya kelas B aja yang kesana Paling yang ikut cuman guru kelas”, jawabnya sambil menutupi kepenasaranan
Mas Sobari.
“oh begitu....”
Hening sesaat,,,,
kemudian Mas sobari
memboyongkan dadanya kearah kanan dan
tampak dari jauh anak laki-laki itu namanya Teguh lari dengan hentakan sepatunya
(bluk....bluk...bluk...) rupanya tak mau di tinggal, teguh yang berpostur gemuk,tinggi,
berkulit redup, merasa kelelahan, ia
lemparkan tas ke punggungnya sambil mengusap-usap wajah yang nampak belum rapi
itu, sesekali menghela nafas yang terputus-putus mengejar ayahnya yang sedang
menunggu di depan.
“Ayooo.... guh cepetan”!
sahut Mas Sobari yang kedua kali.
“Mau berangkat sekolah ya
Guh”..?
“ia (sambil nyengir lebar di sela-sela gigi kuningnya
terlihat masih ada sisa-sisa makanan ,ia mengulurkan dan mencium tangan ke arah Aini) berangkat dulu ya mba,
doakan teguh,ini hari pertama teguh midtest” , ucapnya sedikit kepayahan.
“ia, semoga lancar, bikin mamahmu bangga padamu
ya guh”......
Sambil menekuk pandangan
hening ke arah Aini “ rebes boss” jawabnya
sambil mengangkat tangan laksana kapten yang baru saja dapat tugas dari
komandannya.
“walaah guh..guh gaya
kamu”... ucap Aini sambil dibalas senyum.
“Aini, masuk aja kedalam kami
berangkat duluan ya,takut macet,! Kamu tau sendiri ibukota tidak mengasihi
orang-orang seperti kami, ujar Mas Sobari.
“ya, Mas, hati- hati....
di jalan, sahut Aini
Sambil berjalan menuju
teras depan Aini memaknai ucapan Mas
Sobari tadi Ibukota dengan kriminalitas dan tingkat kemacetan terpuruk abad
ini, membuat semua Masyarakat mengeluh, tak ubahnya walau pemimpin silih
berganti, dari tahun ke tahun bukanlah membaik situasinya, malah semakin keruh,
untuk orang seperti Mas Sobari, ia rela
berangkat ba’da subuh dan sekalipun hari masih gelap, daripada terlambat dan terjebak di kemacetan,
hmm,, memang ada secercah
penerang dan harapan untuk Presiden sekarang
yang memang berkarakter serta Peduli, tapi entahlah walaupun banyak orang
bilang Presiden jokowi itu besar karena Media, terlepas daripada itu, aku
pernah melihat kebijakannya ketika di TV banyak Anggota Dewan yang telah ditangkap
tangan oleh KPK gara- gara APBN yang di selingkuhkan, Presiden jokowi
menerapkan system e-budgeting yang di sodorkan ke pak gubernur Ahok, maka
dengan system itu Anggaran menjadi transparan dan jelas, tidak ada lagi yang
namanya Anggaran siluman yang menyelip di kantor pak Dewan, semua Anggaran itu
akan lebih fokus ke infrstruktur dan MRT yang sedang di rencanakan itu sehingga kemacetan dan Banjir
Ibukota teratasi (Gumam Aini dalam Hati)
***
3. Guyonan Mba Imza
Ketika pikirannya
tidak menyatu dengan raga. Aini tidak merasakan jika kakinya ini sedang
melangkah, tiba-tiba terdengar suara sahutan dari teras depan.
“Heeey..... gadis sunda…! kenapa hanya mematung
disanaaaa... ayoo masuuk”! sontak langsung matanya menggubris hayalan di benak lari entah kemana, ternyata
Mba imza dari jauh menyahut, memang dari dulu mba Imza selalu memanggilku dengan panggilan itu
padahal aku sudah menikah, entahlah mungkin sosok inilah yang lebih muda dari
pada umurku. gumamnya dalam
hati.
“Iya mbaaa !”..... jawab Aini sambil mempercepat langkahnya, plaak..plaaak..plak
sesampainya disana,
“Assalamu alaikuuum....! knapo
to ndo pagi-pagi sudah melamun?”...
“Iyiiih... harusnya aku yang
salam duluan mba Im” ucap Aini yang sedikit kesal dan dan merasa konyol, memang begitulah Mba imza ,benar-benar
tau cara menghibur Aini.
“yowesss... ulang dari
awal gih” celetuknya.
“Ahaha... aduuuh Mbaaa
aku seriuuuus, hmm dan satu lagi aku kan bukan orang jawa” ..!
Lalu?
“hmmm...Ya, ya .. aku
ulang”( dengan hempasan nafas panjang ) Aini membalikan badan dan memberi salam “ Assalamu alikuum” sapanya pada mba Imza.
“waalaikum salaam” jawab
Mba Imza (sedikit melesungkan kedua pipinya ).
Mereka terpingkal- pingkal menertawai
kondisi dan gaya mereka masing- masing, seperti sebuah Drama kolosal komedi yang naskahnya Mereka karang sendiri, rasa sedih itu serasa
hilang seketika, mereka saling menatap satu sama lain akhirnya mba imza
mempersilahkan Aini masuk.
“ kamu mau tetap disini sampai malam”?? .
“ kamu mau tetap disini sampai malam”?? .
“ jika mba Im tak kasihan,
yasudah aku kemping disini”.
“Hahaha... hush gak ada
yang boleh kemping di terasku, ayoo masuk” celetuknya sambil menyimpan guratan
tawa di lesung pipinya, terlihat ia sedang berderama dengan Aini.
“o ya tadi ku dengar suara maher Zein kemana dia mba? Mp3 nya kali… tuh sudah ku off kan speakernya,lagi pula gak ada Mas Sobari, gak enak sama tetangga, kalau dengar MP3 keras- keras. ujar Mba imza sambil berjalan menuju pintu Rumah.
“o ya tadi ku dengar suara maher Zein kemana dia mba? Mp3 nya kali… tuh sudah ku off kan speakernya,lagi pula gak ada Mas Sobari, gak enak sama tetangga, kalau dengar MP3 keras- keras. ujar Mba imza sambil berjalan menuju pintu Rumah.
“Ya ampuuuuun mbaaa,
Berantakan sekali, ini rumah apa Pasar sih”??
“jika kamu anggap ini rumah, bantulah bereskan, aku blum beres-beres tadi, Mas Sobari sama Teguh baru beres sarapan,jadi belum aku cuci, Ucap mba Imza.
“jika kamu anggap ini rumah, bantulah bereskan, aku blum beres-beres tadi, Mas Sobari sama Teguh baru beres sarapan,jadi belum aku cuci, Ucap mba Imza.
Setelah Mba Imza
mempersilahkan Aini masuk, Aini tak bisa menahan senyumnya yang di bumbui tawa
terhadapnya, Meskipun Mereka saling kenalnya ketika di Golf dan akrabnya di kampus, saat kajian Alqur’an. Mba imza adalah kaka kelasnya, ia mengambil jurusan PGRA
dan Aini Tarbiyyah di kampus yang
sama PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu
Quran) Jakarta Pusat.
Mba imza aktif di lembaga
pendidikan formal hampir 10 tahun memupuk pengalamannya di RA (baca:TK) ,dan Aktivis Mesjid
Istiqlal sekaligus kepala sekolah dan belum Lama ini sudah membuka Cabangnya di Jambi serta TPA (Taman
Pendidikan Al Fatwa) yang semuanya itu didapat hasil impiannya dan Sebuah
kepercayaan dari seorang Pemegang saham yang Dermawan, Buk Arti begitulah ia
memanggilnya, yang Tidak lain adalah pemilik YAYASAN AL-FATWA sekaligus
Direktur disalah satu Bank Ternama di Jakarta.
14 tahun sudah Aini merasa telah menjadi bagian dari
keluarganya Mba Imza, hampir tak satupun
rahasia di antara Mereka yang disembunyikan, kecuali privasi masalah Rumah tangga, cukup keluarga dan Allah sahaja yang tau
,mba imza sudah Aini anggap seperti kakanya sendiri, Aini tak pernah marah atau
tersindir jika ia menegur Aini, kadang menegurnya dengan tindakan yang orang bilang itu tidak familiar, Tapi kali ini Aini tidak bisa
berbohong pada dirinya sendiri yang sedang dihujani lembaran – lembaran hitam pada album kehidupannya, mungkin itulah posisi Aini sebagai wanita dengan
kodrat yang Lemah dan terlalu perasa terhadap kondisi, tapi sungguh ini diluar kemampuan
dan Iman Aini yang sedang diuji.
Setelah bantu beres-beres
Mba Imza menyuguhkan Sepiring Pisang Goreng,
“ kamu doyan gak pisang
Goreng”??
“ada yang lain gak Mba?, pizza gitu, biara kaya
orang-orang”,
“ ahaa..haa... gayamu itu
aduuuuh, kaya orang Bule”
“Orang Bule? Haha haa..haa.. orang Bule gak makan pizza kali Mba, lagi pula Lidah
aku gak cocok Makan Gituan”
***
4. Curhatan Aini
“Memangnya hari ini kamu
gak ngajar Aini”? Tanya mba Imza .
“Nggak, hari ini aku
izin karena memang tidak ada jadwal apa-apa di sekolah, lagipula ada acara home-visit
ke rumahnya mamah Dhea, hanya guru kelas yang ke sana, aku kesini ada perlu
sama mba imza”. jawabnya sedikit serius.
“tumben, pasti masalah
keluarga.. iya kan? kamu sebagai istri harus faham keadaan suamimu, kalau
akhir-akhir ini ia jarang ngomong, mungkin di kantornya lagi ada masalah.
“bukaaan,,, bukan itu
mba, semalam Mas Arief ngamuk”? “aku gak yakin, pasti kamu yang memulainya, aku
kenal betul si Arif, 10 tahun kamu berumah tangga baru kali ini aku mendengar
kalian berantem”. Aini diam, ia tahu bahwa sesungguhnya polemik rumah tangganya
bukanlah pertama kali, semua persoalan bisa dilalui, namun cibiran orang semakin
lama membuat hatinya gontai seketika, ketika para tetangganya mencela dengan
kata-kata “si perempuan Mandul” Aini merasa sakit sekali mendengar kata-kata
itu. di tambah lagi ketika Arief meminta Izin untuk menikahi seorang Janda dan
benar- benar menikahinya seminggu setelah ia utarakan kepadanya, memang saat
itu Aini hanya memilih diam, tidak memberikan jawaban apa-apa. di satu sisi
Aini mengakui sampai sekarang ia belum bisa memberikan Anak untuk suaminya, di
sisi lain Aini kurang perhatian kepada suaminya, di tambah dengan alasan
yang di utarakan oleh Arief bahwa ia
kasihan kepada Janda itu, hidup sebatangkara di Jakarta. cemburu yang membara
pada hatinya ketika tau Istri kedua Suaminya itu lebih Mempesona terlihat di
sebuah poto di dalam dompet suaminya.
Dengan sudut wajah yang
bingung Aini harus bercerita tentang hati dan persoalan ini walaupun tak tau
dari mana ia harus bercerita.
hening sejenak…....
“Entahlah Mbak, saya merasa bingung. Mungkin
saya yang salah. dalam hati Aini membenarkan perkataan orang-orang yang pernah
sinis padanya sepuluh tahun berumah tangga tanpa anak adalah sesuatu yang
sangat menggalaukan. Mba imza
mengkerutkan dahi sambil menatap tajam ke arah Aini, Ia benar –benar dibuat Bingung.
“Lah… kho jadi kamu yang merasa bersalah, ada
apa sebenarnya? Mba Imza Memaksa Keras Aini untuk Terus Terang.
“Mm..Mas Arief,,,, Mas Arief ingin Punya
keturunan”. jawabnya sambil menunduk lemah dengan nafas terbata- bata.
“Hmm…. kalau itu masalahnya, aku rasa tak ada
yang harus di obrolkan, kamu seharusnya bersyukur Ai.. (Mba imza dengan
memotong maksud Aini).
“ Bukan itu mbaaa”,,, ( sanggahnya dengan
cepat dan rasa dongkol membuat Aini tidak Bisa menjelaskan secara langsung).
“Laluu”? Tanya mba imza dengan penuh
kepenasaranan. Aini menatap kosong, getaran- getaran suaranya mulai Hilang ,
helaan nafas panjang itu ia suguhkan ke ruang tamu.
Hening
sesaat…….
“ Mas Arief ingin punya keturunan dari wanita
lain Mbaaa” !. dengan nada amarah dari bibir merahnya..
“Apaaa..aa” !! sontak seketika mba imza kaget dengan berita itu seperti mendapat petir di musim kemarau.
“Apaaa..aa” !! sontak seketika mba imza kaget dengan berita itu seperti mendapat petir di musim kemarau.
“ Apa aku tidak salah dengar Ai??”. tanyanya
dengan mempertegas.
Aini hanya diam saja , tidak cukup lagi
kata-kata apa yang harus di katakan, air Mata Aini tanpa terasa jatuh deras ke
lantai. begitu berat pergulatan bathinnya, menggeleparkan segala rasa yang ada
penuh sesak yang menghimpit dadanya. Ruangan itu mendadak sunyi, dan bercampur
isak sendu biru. mba Imza mencoba melangkah setindak demi setindak, kakinya
serasa Bagai diIkat beban yang amat sangat berat. Wajahnya memandang Lurus ke sorot mata Aini, Perempuan itu merangkul
Aini dengan Bahasa sesama Wanita.
“Aini… Aku sangat faham perasaanmu sekarang”.
Ucapnya seraya melumatkan Kegontaian hati Aini. Dipeluknya erat, amat erat
bahkan tidak ada Celah di antara Mereka. terdengar sayup- sayup adzan dzhur
yang mendayu-dayu dari sudut celah jendela semakin mengikat ruhnya suasana itu,
detakan jarum pun terdengar jelas di dinding
mematung seakan larut dalam percakapan Mereka.
wanita paruh baya itu kenal betul sosok Aini
wanita yang kuat, cerdas dan pantang menyerah, Imza ingat betul ketika pertama
kenal dengan Aini di Golf ia tampak lebih semangat bertarung di Ibukota dan
siap menaklukannya seorang diri. tak pernah ia melihat Aini selemah Ini.
“Aini.. usap air matamu, jujur sebenarnya aku
tidak ada hak untuk mencegah atau memutuskan perkara ini. tapi aku ingin Tanya
kata hati dan Imanmu sekarng, apakah kamu bersedia”??
Aini hanya menatap kosong, lurus kepada
perempuan itu .matanya berkaca-kaca, tak bisa menahan air matanya yang jatuh
itu.
“ Cintamu kepada sang kholiq haruslah lebih
besar daripada cintanya kepada manusia. aku tau ini berat tapi jika kamu ingin
menjadi orang yang paling mulia disisi sang robb alam dan pintu syurga akan terbuka lebar untuk
mereka yang benar-benar siap ikhlas membagi Cintanya untuk org lain, Apakah
kamu siap?
“Aini dengarlah ini, ini Nasehat bukan dariku
Tapi dari Agama, Agama Kita Mengatakan hati-hatilah dengan Penyakit al-isyq yaitu suatu Penyakit yang menimpa
orang-orang yang hatinya kosong dari rasa mahbbah (cinta) kepada Allah, selalu
berpaling dariNya dan dipenuhi kecintaan kepada selainNya”.
“Hati yang penuh cinta kepada
Allah dan rindu bertemu dengaanNya pasti akan kebal terhadap serangan virus
ini, Penyakit al-isyq terjadi dengan dua sebab, Pertama : Karena mengganggap
indah apa-apa yang dicintainya. Kedua: perasaan ingin memiliki apa yang
dicintainya,,”
Nasehat itu membuat Mata Hati
Aini Reda sesaat. Kemudian Mba Imza Melanjutkan Perkataanya “ Jujur sebagai
wanita aku pun masih merasa tidak rela jika apa yang kita Cintai jatuh ke
tangan orang lain, namun aku sering sadar dalam kehilafanku bahwa aku hidup
bukanlah untuk hidupku, bukanlah untuk suamiku dan anak-anakku, tetapi
kehidupan ini adalah Untuk Umat. aku yakin kau masih ingat betul kata-kata itu
dari pak taufiq hidayat kan”?
Aini mengangguk pelan namun tetap diam mendengar
penjelasan Mba Imza, dalam jiwanya ia menjerit ,namun masih tetap terkontrol
oleh Imannya sesekali ia bertanya kepada
hati kecilnya ia ingat bahwa kejadian ini tidak hanya menimpa dirinya dan ini
memang tersirat dalam Al –qur’an. Aini merenung seolah dalam hatinya berdialaog
anatara Iman dan Egonya. ia pejamkan Mata dengan kedua tangan di kepal erat
kebawah.
“Aini...Aku akan Bacakan Surat Annisa untukmu,
yang Artinya” :
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku
adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu menikahinya), maka
nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat.
Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang
saja”......... (QS. An Nisaa: 3)
“Syariat Islam tentang
poligami adalah Untuk mengangkat derajat seorang wanita yang ditinggal atau dicerai
oleh suaminya dan ia tidak memiliki seorang pun keluarga yang dapat
menanggungnya sehingga dengan poligami, ada yang bertanggung jawab atas
kebutuhannya. poligami merupakan cara efektif menundukkan pandangan, memelihara
kehormatan dan memperbanyak keturunan.
Menjaga kaum laki-laki dan wanita dari berbagai
keburukan dan penyimpangan.namun dengan syarat seorang Lelaki haruslah berlaku
adil.jika tidak laknat dan siksaan Allah tidaklah main-main.” tandas perempuan
itu dengan tegas.
Lagi-lagi Aini hanya diam saja, merenung dengan wajah kosong, entah
membenarkan perkataan yang di ucapkan wanita yang di anggap sudah menjadi
kakanya itu atau apa, di sudut Iman ia hanyalah hamba dan ingin menjadi
mujahidah dengan segala kehidupannya hanyalah mengharap Ridho Tuhan dan berbagi
kebahagian kepada orang lain, walau ia harus mengorbankan perasaannya. di sudut
lain dimana ia adalah perempuan dengan perasaannya yang halus, peka dan
pencemburu adalah hal yang tidak bisa ia elakan, terkadang merasa jiji dan rasanya
seperti ingin muntah seketika ketika melihat Suaminya Arief berduaan dengan si
janda itu, walaupun hanya sebatas bercakap biasa. kini perasaannya mulai
sedikit menyusut, binar iman dalam hatinya mulai terbuka.
Aini menyadari bahwa selama sebagai seorang istri kewajibannya jarang ia
tunaikan, selama beberapa tahun ini Aini cuek dan tampak tidak peduli dengan
suaminya, perhatiannya mulai memudar alasanya adalah pekerjaan, ya sebagai
seorang Guru RA (baca: TK) juga menjadi aktivis membuat ia hampir tidak ada
waktu ngobrol atau saling memadu Kasih untuk keduanya, pergi pagi pulang malam,
begitulah setiap hari Aini lakukan, penampilan yang dulu nomor wahid namun kini
sudah tidak peka lagi terhadap sindiran orang tentang stylenya, kuno lah,dan sebagainya, bahkan untuk berhijab pun
seadanya yang penting baginya menutup Aurat dan nyangkut di kepala. kini Aini
benar-benar menyadari bahwa perhatian dan penampilannya untuk Arief suaminya mulai
berkurang, dan tidak ada lagi cara lain selain ia harus merubahnya “saya harus
berubah”(gumamnya dalam hati).
Dari dekapan yang hangat Imza hanya mengingat perjuangan Cinta mereka yang
di saksikan langsung oleh matanya amatlah besar
dan Karunia Tuhan yang akhirnya sampai ke tempat sakralnya
pernikahan Aini dan Arief mirip seperti
kisah drama yang membuat semua penonton menangis penuh kesenduan pada waktu
itu, begitupun Aini menerawang ke langit dari
celah jendela sambil memeluk mba Imza. seperti ia dipaksa untuk mengingat 14 tahun berlalu tentang kisah Perjalanan
Karirnya di Ibukota, tentang pergulatan batinnya akan sosok pemuda yang tangguh
yang menyelamatkan harga dirinya dari si jarot, laki- laki bejat yang hampir
menodai kesucian Aini. Aini merindukan Arief yang dulu, entah kenapa ia ingin
kembali kemasa itu, ia mulai mengingat kisah itu satu demi satu, berawal dari
pertemuannya yang pertama dengan Arief di stasiun kereta Bogor.
***
5. Nostalgia Perkenalan pertama Aini dengan Arif
Inilah awal kisah perjalanan Aini mengenal
Sosok Suaminya yang memang Pas dengan Namanya, Arief.. begitulah Aini
memaknainya dengan sifat yang bijaksana, pemberani, dan Sederhana. Aini ingat
ketika Tasnya di copet di stasiun Bogor, tiba-Tiba sosok pemuda itu menerjang
Buas dari arah samping dan langsung meringkus
pencopet itu hingga babak belur.
kerumunan orang mulai merapat, Aini panik dan
merasa cemas, semua dokumen dan uang gajinya masih di simpan rapat di tas itu,
awalnya Aini berjalan menuju Antrian loket comuter line, sambil merogohkan
tangan ke resleting tas dalam untuk mengambil Ongkos, tidak di duga sebelumnya,
pria dengan memakai topi coklat terus membututi dari tadi, Aini memang tidak
Curiga sedikitpun, karena kondisinya saat itu ramai, Aini merasa bersyukur
Tasnya selamat dan tak sedikitpun yang hilang, Arief mengembalikan Tasnya
ketika menyelesaikan Hantaman terakhir ke si Pencopet dan kemudian di serahkan
ke Polisi setempat.
Aini
mengucapkan terimaksih kepada pemuda itu, namun pemuda kurus itu hanya
melemparkan senyuman simpul dan langsung masuk ke Kereta yang sudah tiba dari
arah citayam, tanpa satu patah katapun ia ucapkan kepada Aini, Aini hanya mematung bisu dan dibuat
bingung entah bagimana ia harus membayar
jasanya itu. tanpa berfikir panjang dan Kreta sudah mau berangkat Aini pun
masuk, sesak terasa para penumpang didalam tanpa melihat kanan kiri Aini
berdiri tanpa mendaptkan tempat duduk. kereta mulai berjalan dan sudah melewati
beberapa stasuin, stasuiun citayam, cilebut, dan bojong gede.
Aini
melemparkan pandangan ke semua sudut kursi kereta, ia bermaksud untuk mencari
pemuda tadi, dan memberinya sedikit Uang sebagai balas jasanya itu, sesaknya penumpang tidak bisa di tawar lagi sehingga
ke fokusan Aini membuyar dan berhenti berharap untuk menemukan pemuda itu .
Tak
lama kereta berhenti di stasuin depok, para penumpang berbaur ke luar, terlihat
di samping kanan kursi kosong para penumpang yang dari arah pintu mulai masuk,
tak mau berdiri lama Aini langsung duduk bersebelahan dengan Pria yang memakai
jaket kulit hitam, Aini merasa yakin
bahwa pria itu adalah yang menyelamatkan Tasnya tadi.
Pemuda
itu menunduk seperti tidur pulas sambil
mendekap tas selempang di dadanya. Diam-diam Aini menatap wajah pria itu untuk
meyakinkan hatinya, awalnya Aini ragu karena posisi pemuda itu menunduk dengan
Masker yang menempel di wajahnya. ia melihat dengan detail dari kepala sampai
ujung kaki,pemuda itu terlihat letih namun ada sedikit goresan luka di tangan
kanannya, lukanya masih segar, tampak
masih baru tergores. Aini mulai yakin bahwa pria di sampingnya itu adalah pria
tadi. ingin rasanya Aini langsung membangunkankannya untuk bisa langsung memeberikan
ucapan terimakasih dan sejumlah uang yang ia sudah siapkan dari awal masuk tadi.
Pemuda
itu memejamkan mata namun ternyata bukan tidur ia hanya merasa bingung sambil
meneguhkan hatinya. Ia meyakinkan dirinya harus kuat. Ya, sebagai lelaki ia
harus kuat. Meskipun ia merasa kini tidak memiliki siapa- siapa lagi. Bagi
seorang lelaki cukuplah keteguhan hati menjadi teman dan penenteram jiwa.
Lintasan
kereta dari sebrang memekik di telinga, sudah beberapa Stasiun Kreta yang di
lewati dari bogor, citayam dan sekarang sudah sampai Stasiun Cawang, namun
pemuda itu Belum juga Turun, tinggal satu stasiun lagi Aini turun, ya,, stasiun
Tebet.
sambil mengambil nafas panjang pemuda itu
mengangkat kepalanya dan mulai melemparkan pandangan ke seisi kereta yang padat
itu.
“maaf mas”.. mas yang tadi kan? tiba-tiba pertanyaan
itu datang dari arah samping kanan, Pemuda itu kaget dan menatap sambil
mengingat –ingat walaupun samar- samar ia temukan perempuan Muda di sebelahnya
dengan memakai celana cokelat dan jaket ketat merah muda. dengan Rambutnya di
biarkan terurai
“M,, oh mba yang tadi ? Pemuda itu bertanya Balik.
“ia, aduuh Mas terima Kasih banyak ya tadi,
kalau tidak ada Mas entahlah..
mungkin saya tidak bisa ke Jakarta hari ini.
“ sudah menjadi kewajiban saya mba sebagai
Muslim”.
Arief menaksir usia perempuan itu sekitar 25
puluhan lebih.
“o ya ini ada sedikit Ongkos Buat Mas, Anggap
ini adalah tanda Terima kasih saya Sama Mas”.
“ tidak Usah Mba, jawab Arief dengan senyum simpul sambil menggelengkan kepala.
tapi Mas? “nggak Usah, simpan Aja, ada yang lebih berhak dari pada saya mba”
“ tidak Usah Mba, jawab Arief dengan senyum simpul sambil menggelengkan kepala.
tapi Mas? “nggak Usah, simpan Aja, ada yang lebih berhak dari pada saya mba”
Aini
terdiam, harus bagaimana ia harus membalasnya. ia bingung dan akhirnya balik
bertanya, sambil basa basi Aini bertanya supaya Ia bisa merayu pemuda itu agar
dapat menerima Uang di tangannya itu. dengan sedikit canggung dan agak kikuk
harus darimana ia bertanya.
Baru pertama ke Jakarta ya Mas? Tanya Aini
sambil Menutup keheningan di antara mereka.
"Iya Mbak. Mbak juga yang pertama?"
jawabnya balik bertanya.
"Tidak. Saya sudah empat tahun di Jakarta.
"Berarti sejak tahun 2010 ya Mbak."
"Tidak. Sejak awal 2011."
"Mmm,, Kerja atau?"
"Iya Mas. Kalau Mas sendiri mau kerja?
Atau mau sekolah?"
Ia
berpikir sejenak. Ia tidak tahu pasti. Ke Jakarta mau bekerja atau mau sekolah.
Sesungguhnya selama ini ia merantau dari satu daerah ke daerah lain, selain
untuk bertahan hidup juga demi mencari takdir yang lebih baik.
"Kok malah bengong Mas?."
"Emm... tidak, saya ke Jakarta mungkin
untuk dua duanya. Ya untuk cari kerja dan untuk sekolah lagi."
"Baguslah. Sudah ada pandangan mau kerja
dimana?
"Belum sih. Nanti saya cari di sana saja.
M..mbak kerja di mana?"
"Saya kerja di golf Rawamangun. mmm
(berfikir sejenak) Kalau Mas mau, saya
bisa bantu. Saya punya banyak teman yang bisa membantu. O ya kenalkan, nama
saya Aini. Perempuan muda itu
mengulurkan tangan kanannya. sambil menekuk Amplop yang sejak tadi di tangan
Kirinya. Pemuda itu juga mengulurkan tangannya dan menjabat tangan perempuan
muda itu.
"Saya
Arief,Jadi Mbak kerja membuat bola golf gitu Mbak?" Perempuan muda itu malah melesungkan pipinya.
“tidak,
saya kerja sebagai Cady, Arief mengkerutkan dahinya tanda belum Faham
apa yang dimaksud perempuan itu, kemudian perempuan itu menjelaskan.
“Cady
Itu orang yang menemani para pemain golf di lapangan, Nah.. tugas cady
menyiapkan Bola yang hendak di Pukul oleh Para Pemain namun ada beberapa Cady
yang dimainkan oleh para Pemain yang bermata Dollar”. maksudnya?Tanya Arif
Penuh keheranan. “ya,,, di jadikan
pemuas para bajingan Kantor”. tiba- tiba perempuan itu merubah haluan
pembicaraan.
"Rencananya nanti mau ke mana? Di Jakarta
sudah ada tempat yang dituju?" tanya Aini.
"Tempat yang dituju secara pasti beluma
ada. Saya hanya membawa sebuah nama dan sebuah nomor telpon.Saya ingin sampai ke
Jakarta dulu, baru setelah itu saya akan telpon orang itu."
"Ya syukurlah. O Ya..Saya nanti lewat Stasiun Tebet. Kalau
mau kita bisa jalan bareng."
pemuda
Itu Tidak menjawab apa-apa. Lintasan
Gerbong Kereta terus melaju. Tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lambat.
Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam, Lintasan Kreta Berhenti
di Stasiun Tebet . Begitu pintu Comuter line dibuka. para penumpang berebutan
keluar.
Arief
keluar dengan membawa tas Selempang dan tas jinjing besar coklat tua. la
mengiringi Aini yang berjalan di depannya. Perempuan itu menenteng tas kempit
putih dan koper kecil beroda warna merah jambu. Mereka berjalan menuju tempat
duduk disebrang Tulisan EXIT. Petugas
security Stasiun sibuk memeriksa barang bawaan para penumpang. disebabkan
Informasi yang beredar Bahwa tiga hari yang lalu Ada seorang Terroris yang
membawa Sebuah Peledak di dalam Tas Penumpang, untungnya Terroris itu bisa
segera di tangkap.tak pernah hilang Rasanya Kasus Terroris di negeri ini.
belum lama lagi kasus ISIS yang meresahkan
Warga, anehnya banyak dari kalangan Mahasiswa yang terjerat klompok itu, salah
satunya adalah seorang Mahasiswa UIN Bandung dan Makasar. Entah apa Motifnya
sampai-sampai mereka Siap melakukan Pembiadaban semacam Itu, bahkan Nyawanya
sendiri yang menjadi taruhannya.
Tas dan koper Aini diperiksa. Setelah
beberapa saat lamanya, Aini dipersilahkan langsung menuju Halte. Tas jinjing
Arief juga diperiksa. Isinya hanyalah pakaian, beberapa makanan ringan, dan
sebuah mushaf Al-Quran kecil pemberian Pak Haji Tohir kala ia berpamitan,
sebelum berangkat. Petugas security itu memerintahkannya untuk terus jalan.
Arief bergegas menuju Halte. puluhan sopir taksi dan ojeg menawarkan jasanya.
Aini menjawab tegas bahwa ia sudah ada yang menjemput. Arief agak bingung
menentukan langkah. Beberapa sopir taksi menghampirinya. Ia masih ragu harus ke
mana. Ia menatap ke arah Aini yang melangkah dengan mantap. Aini melambaikan
tangan agar ikut dengannya. Arief merasa tidak ada salahnya pergi Ke Ibukota
bersama Aini. Apalagi ia benar-benar asing di negeri Metropolitan ini. "Kita
tunggu bus di sini. Kita akan menuju ke Halte Cempaka Putih Dari situ kita naik Kopaja 47 ke Taman Lagura
Jelas Aini. lima belas menit kemudian bus datang. Aini dan Arief serta puluhan
penumpang berebutan naik. Bus itu mengantar mereka ke halte Cempaka Putih. di
dalam bus suasana terasa sesak dan kendektur menggencring-gencringkan uang
recehan tanda para penumpang harus langsung Bayar.
"gak usah biar saya yang bayar Mas, sekalian
menukarkan Uang receh" Aini menepis tangan pemuda itu dan ia sodorkan Uang
Kertas Merah bergambar Pak Sokerno yang Masih kaku dan bersih dari Dompetnya,
pemuda itu Menatap Aini dengan Rasa Malu.
"Jangan begitu Mbak, saya jadi tidak
enak."
"Anggap saja ini tanda Terimakasih saya
waktu tadi siang, Dua berapa Pak?" "Enam belas ribu”.jawab pak
kendektur.
Selain
wajah Melayu,tampaklah wajah-wajah Sunda, Papua dan wajah jawa yang menjadi
penumpang bus cepat itu. Sopirnya berwajah betawi Campuran, dan tampaknya ia
seorang Muslim, sebab sebelum menjalankan bus ia membaca basmalah. Setengah jam
kemudian bus itu sudah meninggalkan Stasiun Tebet dan mulai melaju dengan
kecepatan tinggi. Bus itu Mengitari Kota Metropolitan dengan segala daya Tarik
serta Gedung- gedung yang menjulang Tinggi seakan menerobos ke atap Langit,
Arief memandang ke kanan dan ke kiri yang tampak hanyalah Deretan Gedung yang
Rapat Tanpa Celah di samping kiri kanannya berlarian ke belakang.
"Dari logat Mas bicara, sepertinya Mas
orang Sunda." Aini membuka pembicaraan sambil menaikkan resleting jaketnya
sehingga benar-benar rapat sampai ke leher. Ia tampaknya agak kedinginan.
"Iya Mbak benar. Saya asli
lewiliang-Bogor . Kalau Mbak?"
“wah.. kita satu suku donk,Tepatnya ibu saya
orang Jasinga tapi Ayah saya orang Betawi,tapi saya lebih Condong ke Adat Sunda
darpada Betawi. jelas Aini sambil melemparkan Senyum simpul. "Maaf, emm...
Mbak sudah berumah tangga?"
"Sudah."
"tos gaduh Putra?"Tanya pemuda itu
dengan bahasa sunda tanda mengakrabkan dirinya pada perempuan itu.
"Belum. Bagaimana mau punya anak rumah tangga saya hanya berumur satu
minggu."
"Cuma satu minggu, maksudnya?
"Iya bisa dikatakan demikian."
"Suaminya meninggal, mmm...maaf maksudnya
wafat?"
"Tidak. Saya minta cerai. Sejak itu saya
trauma dan rasanya susah sekali untuk membina rumah tangga lagi."
"Punten
ya Mbak, jadi mengingatkan pada hal-hal yang tidak Mbak suka."
"Ah tidak apa-apa. Walau bagaimanapun kejadian
itu telah menjadi bagian dalam sejarah hidup saya. Memang menyakitkan jika
diingat." Kata Aini sambil mengambil nafas dalam-dalam. Seperti ada yang
menyesak dalam dadanya.
Arief
diam saja. la merasa tidak saatnya ia bicara. la kuatir jika salah bicara
justru akan memperburuk suasana.
"Mungkin ada baiknya juga ya saya cerita.
Ya untuk sekadar melepas beban yang menyesak di dada. Dan daripada selama
perjalan diam saja,Aini kembali membuka percakapan.
"Tidak apa-apa kan? Mas mau mendengarkan
kan ?" lanjutnya sambil memandangi Arief. Arief jadi menoleh. Pandangan
mereka bertemu. Arief mengangguk pelan, lalu kembali memandang lurus ke depan.
Aini mulai bercerita,
Penulis : aef sugihartoni

Tidak ada komentar:
Posting Komentar