Jumat, 19 Februari 2016

Mozaik Cinta bag 9-16



9. Bertemu dengan pak somad.

Setelah sholat subuh dan berdzikir tak terasa Sinar mentari dengan lembut menerobos jendela, pemuda itu membuka matanya yang sedang asyik berkhidmat di sejadahnya, ia menoleh kearah depan dinding atas, 06.00 begitu jarum panjang menunujukan waktu saat itu. Arief bergegas mandi, dan ingin keluar pagi itu untuk mencari keberadaan  Pak somad, Arif hanya menitipkan surat untuk Aini ke kamar sebelah bahwa ia Pergi sebentar untuk mencari Informasi, seorang Wanita bertubuh kurus mengangguk kemudian Arif mengunci kamar.

“oh ya mba namanya siapa”? Tanya Arief.  
“Nia mas” jawabnya dengan singkat. Kunci Itu ia bawa agar nanti pulang larut malam tidak mengganggu yang lain, ia masukan kunci ke kantong celananya dan bergegas mencari telpon Umum.
Pemuda itu langsung menapakan kakinya yang pertama seorang diri di kota yang masih asing baginya  dengan Hati yang masih galau, ia berharap ada orang yang bisa membantu atau memberikan informasi, sambil berjalan dengan tangan merogoh kantong celana hitam pudar, sesaat kakinya berhenti melangkah ada sesuatu yang ia genggam,mencoba mengeluarkan,  dikepalnya benda putih itu, sobekan kertas yang sudah lusuh yang  bertuliskan Nomer telephone, matanya memandang jauh ke sebarang dengan pikiran keras ia mengingat nomer telpon siapak, tak lama Arief mulai ingat bahwa sebelum ia ke Jakarta Pak haji tohir yang memberinya, sambil duduk di sebuah taman “Taman Solo” begitu ia membacanya dalam hati dengan papan dan huruf yang jelas di sampingnya, matanya menerkanm ke smua penjuru Taman bermaksud untuk mencari telpon umum ia bisa digunakan, siapa tau nomer itu bisa membantunya, tak jauh dari deretan toko buku Almanar sebelah Bank ia temukan dengan mata yang mulai kabur, bergegas Arif menyebrang dan langsung di genggamnya gagang telpon tanpa ragu ia mulai menekan tombol (021) 4754407 nomer yang tertera di sobekan kertas itu.
Tuuut… tuuut.. suara telpon itu tersambung, Arief bersukur sobekan Kertas itu masih menyelip di Kantong Celananya.
“ Halloo,,  Assalamu alaikum, bisa bicara dengan Pak somad”?
"Waalaikum Salam,Iya benar, saya sendiri, dengan siapa?"
"Saya Arief  Pak. Saya mendapat nama dan nomor Bapak dari Pak haji Tohir Bogor."
"O ya ya. Pak haji, gimana Beliau sehat? lama saya tidak kebogor .
"Alhamdulillah Pak, O ya pak,Bagaimana caranya saya bisa bertemu Bapak? Saya baru datang kemarin malam dan tidak banyak tahu tentang Jakarta. Terus terang saya perlu sedikit bantuan Bapak…!!!"
"Sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu Sesama . De Arief  sekarang di mana?"
"Di taman Lagura cempaka Putih."
"Begini saja De  Arif dari Taman Lagura naik kopaja 47 Arah pondok Kopi nanti Turun di Mall Arion,Saya jemput di sana. Baru nanti kita bicarakan segalanya dengan lebih leluasa."
"Apa tadi Pak, Mall Arion ya…?!!"
"Ya, Arion.  tunggu saya disana nanti saya pake kemeja biru muda
"Baik Pak. Terima kasih."

Siang itu, ia merasa bahagia, sebab disambut dengan hangat oleh Pak somad yang tak lain adalah seorang murid Pak haji Tohir saat nyantri di Bogor . Pak haji Tohir  pernah mengajar di sebuah pesantren sebelum pindah ke Lewiliang-bogor Pak somad mengajaknya makan siang di sebuah restaurant sederhana.
"Jadi yang mendorong De Arief  ke Jakarta  ini Pak Haji?"
"Iya Pak.
"Itu maknanya De Arief diminta untuk belajar. Menuntut ilmu. Saya tahu persis siapa Pak Haji. Tapi De Arief tidak akan bisa melanjutkan studi di sini, kalau tidak dengan bekerja. Dari mana uang untuk membayar kuliah kalau tidak dicari dengan bekerja? Iya kan?"
"Iya Pak."
"Jangan kuatir. Di sini banyak kok mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Nanti De Arief akan saya rekomendasikan untuk magang di salah satu cabang kursus saya, anak buah saya banyak nanti tinggal di atur aja mau yang mana. ya, itung- itung sambil mengamalkan Ilmunya.
“Dulu kuliah S1 atau”?.
“D1 bahasa Inggris pak”.
“Oh yaa... nanti ilmu yang dari D1 itung2 bisa di aplikasikan disini.
“iya pak.”
O ya De Arief bawa ijazah kan?"
"Bawa Pak..!"
"Dulu kuliah di mana?"
"Di Akademi Bahasa Asing Triadarma Bogor."
"Ya ya ya. Gampang nanti bisa diatur untuk kalau mau melanjutkan kita carikan jurusan yang pas. Yang penting  serius lanjut kuliah kan?"
"Iya Pak."
"Bagus. Pak Haji Tohir itu sebenarnya mendorongmu De Arif untuk memiliki modal paling mahal untuk sukses dan jaya."
“iya pak.”
pak somad membawa Arief ke Rumahnya dan mengenalkan kepada beberapa Karyawannya, Ada Indra, Ojan, Gio,mereka adalah para jurnalis Artikel Majalah Mabrur.

Malam itu Arief  merasa menemukan setitik cahaya yang bisa dijadikan sedikit penerang bagi jalan masa depannya. la kembali mendapatkan gairah hidup yang baru. la merasakan kedamaian seperti rasa damainya saat dulu bisa melanjutkan pendidikan setelah lulus SD. la tetap bisa lanjut ke SMP meskipun harus dengan bekerja membantu kakanya berternak ikan Nila di belakang rumah sepulang sekolah, di SMA pun sama, bekerja mulai dari pengiriman isi ulang air Galon, cleaning service, ngajar adik-adik kelasnya dan jasa karikatur, walaupun tidak seberapa harganya tapi Arief menikmati itu semua dengan bersyukur.

la merasa bahagia saat itu, sebab banyak teman-temannya yang putus sekolah karena tidak ada biaya.Mereka selesai SD,SMP langsung bekerja di sawah atau kerja sebagai buruh harian di Kawasan Bogor Barat.
Malam itu, untuk pertama kalinya ia tidur dalam keadaan lebih nyaman dan tenteram. Dadanya terisi cahaya optimisme dan semangat. Bertahun-tahun sebelumnya ia selalu tidur dalam bayang kekuatiran, rasa takut dan ketidakpastian hidup. Ia mengalami itu sejak Ayahnya Meninggal, Ayah  yang selalu merawatnya sejak kecil,  saat ia masih di bangku  kuliah semester tiga Sejak itu ia seperti merasakan ketidak pastian hidup. Dengan berusaha tetap tegar ia akhirnya berhasil juga menyelesaikan D3 nya bahkan masih bisa hidup sampai sekarang. namun selesai kuliah ia belum juga mantap menapakkan kakinya. Hal itulah yang membuatnya merantau. Dari Bogor Ke Aceh dan kembali Ke bogor merantau lagi ke Jakarta.

10. Tiga tahun berjuang

Hari berganti Minggu, Minggu berganti Bulan dan bulan berganti tahun, tak terasa hampir tiga tahun sudah ia berjuang seorang diri di tanah yang ia anggap Asing, ya tiadak sanak family dan kerabat yang bisa di jadikan tawanan ekonomi untuk kehidupan Arief, namun ia cukup bersyukur sampai saat ini ia masih hidup dan di berikan kesempatan untuk bisa Ibadah, 3 tahun memupuk pengalamannya di sebuah kursus yang bonafid yang sempat menjadi kursus bahasa inggris terbaik dan memiliki cabang terbanyak di Indonesia di era 90an, meskipun saat ini hanya sebatas nama dan famornya sudah padam, beberapa cabang kini mulai tutup akibat krisis pada tahun 2000, banyak para pemimpin cabang yang tidak amanah kala itu, sungguh tragis kursus raksasa kini hanya tinggal nama, Arief hanya bisa melihat semua Album kenangan dan beberapa penghargaan terpajang didinding kursus itu, walaupun semua Usahanya sudah maksimal ia tempuh untuk mengembalikan kejayaan itu namun tetap hasilnya nihil, “OXFORD COURSE INDONESIA” dengan gamblangnya ia katakan di hadapan para siswa SMP,SMA, dan Umum pada waktu Demo di setiap sudut sekolah-sekolah se-jakarta selatan. selama itu  pula Arief lost kontek dengan Aini, walau sebenarnya hatinya tidak bisa mengelak, wajah ayu penuh kesejukan itu membuat ia di hujam rasa rindu sampai ke ulu hati, masih terbayang dengan jelas di pikirannya.  waktulah yang belum menjawab karena hampir seluruh waktunya ia korbankan untuk kerja dan kuliah, walaupun kuliahnya sedikit terbengkalai. tiga tahun  pula kuliahnya terbengkalai, hanya midtest dan semester saja walaupun begitu ia tetap lulus menjadi seorang Sarjana Muda. hatinya mulai tidak istiqomah, ia benar-benar merasa menapak  linglung semua sel syaraf otaknya mulai kendur, semangatnya turun drastis. ia mulai cape, lelah dan hanya bisa melentangkan tubuhnya di sofa kantor ketika jam belajar mengajar usai. ia hembuskan nafas dalam- dalam ia ingin istirahat. istirahat dari semua kesia-siaan yang tak ada hasilnya, ia pejamkan mata sampai menjelang adzan subuh berkumandang.

“Rief banguuun !! ayoo bangun sudah subuh” Arief  terperanjat  dari sofa  saat Indra teman satu kampus menepuk pundaknya. ia benar-benar tidak sadar bahwa semalam ia tidur di kantor, untung Indra menginap karena ada kerjaan lembur dari pak somad. walaupun kosannya pas dibelakang kantornya, tapi bagaimana jadinya kalau indra tidak membangunkan Arief, pasti pemuda itu bablas sampai siang, sampai anak-anak kursus pada datang, dan membangunkannya, bagaimana jadinya.
“Ayoo kita ke mesjid !!”seru indra
pemuda itu hanya  menganggukkan kepala, dengan mata yang masih menutup sambil berdiri gontai dan berjalan membuntuti Indra menuju Masjid.
Mesjid AL-ITTIHAD TEBET hanya 15 meter ke depan dari kantor, selesai wudhu dan sholat berjamaah biasanya ada kajian subuh yang diadakan rutin oleh petugas mesjid sesuai jadwal yang tertera di mading depan.
Arief duduk di shaf ke dua bersebelahan dengan Indra, usai dzikr, seorang pengurus mesjid bergegas mengambil meja yang biasa di pakai untuk kajian seraya membuka kajian itu, tampak disampingnya seorang laki-laki muda dengan pakaian putih (baca:koko) dengan peci hitam lekat.
Hembusan angin masuk dari luar merambat menusuk kulit, menyuguhkan mata untuk berimajinasi mimpi kembali, Arief merapatkan tangannya kedada tanda ia benar-benar kedinginan dengan mata setengah ngantuk. Dua puluh menit berlalu kajian itu sudah berlangsung namun tampaknya Arief tidak memperhatikannya, ia tenggelam dengan separuh imajinasinya di mimpi walau tampak samar- samar terdengar halus masuk ke gendang telinganya, indra yang melihatnya langsung menyenggol lutut Arief, seketika itu Arief langsung bangun.

“semangat itu harus kita tanam dan kita jaga, islam mengajarkan umatnya untuk tetap istiqomah dalam semangat mencari Ridho-Nya”. tegas da’i muda dengan penuh spirit.

Arief terbelalak dengan pernyataan yang disampaikan Da’i itu, ia mencoba focus mendengarkan dan memahami kajian subuh itu sampai usai. ajaib, Arief dengan spontan seperti terhipnotis, mendadak semangat kembali menjalani kehidupannya. namun rasa penasarannya kepada Da’i muda itu membuat Arief ingin bertanya secara husus di usai kajian, beberapa pertanyaan tentang profil Da’i itu di jawab oleh Indra, karena Indralah yang tau semua Da’i yang  sering mengisi kajian. sebelum keluar Arief meminta Indra untuk menemaninya menemui Da’i itu, Indra hanya membalas dengan senyum simpul. mereka berdua bergegas menuju mimbar depan.

11. Nasehat yang Bijak

“Assalamu alaikum ustad”?? serentak Arief dan Indra memberi Salam.
“Walaikum salam waroh matullah” jawabnya dengan penuh karismatik.
selang beberapa menit dari percakapan tentang identitas dan maksud Mereka, Arief membuka pertanyaan, dan Da’i muda itu langsung merespon.
“Iya, antum ada persoalan apa?” jawab Ustad Sobari (nama pamiliarnya) dengan lembut.
“Gini, Ustad. saya ada persoalan tentang ruhiyah ! saya merasa ruhiyah ini semakin lama semakin down Ustad. saya masih bingung kenapa iman ini melemah hari demi hari!” Arief sejenak berfikir, lalu melanjutkan keluh kesahnya.
“saya menjadi begitu tidak bersamangat untuk melakukan apapun, bahkan belajar sekalipun. Langkah-langkah saya  begitu berat dan gamang dalam setiap melangkah ! saya butuh pencerahan kembali, Ustad!”
Arief menyelesaikan dengan menghembuskan nafas panjang, disebelahnya Indra hanya mendengarkan dengan hidmat.
“Hem, iya ana mengerti,! Apa yang antum rasakan memang beberapa kali sering
menghinggapi pada perasaan kita. Kadang kita merasa sangat bersemangat sekali, sehingga seakan-akan bahwa kekuatan semangat kita tidak akan terbendung! Tetapi dalam waktu tertentu, ghiroh (semangat) kita menjadi melemah, atau bahkan luntur. Ini menjadi pelajaran yang baik bagi kita semua!” sejenak Da’I muda itu tersenyum, lalu melanjutkan penjelasannya. “saat ghiroh kita dalam semangat, puncaknya adalah saat kita tidak dapat mencapai apa yang kita inginkan. Sehingga semangat kita menjadi kendur, atau melemah. Dan lama kelamaan akan terkikis habis. Maka dari itu, kenapa kita sangat perlu adanya Liqo’(pertemuan/berkumpul). Dengan adanya Liqo’ semangat kita yang semula luntur, Insya Allah akan bangkit kembali. Atau kalau lah semangat kita luntur tidak begitu drastis penurunannya. Ibaratnya adalah handphone yang perlu dicharge. Maka kita juga perlu untuk di charge kembali. Untuk menumbuhkan keimanan kita kembali. Untuk mengisi melemahnya ruhiyah kita, saat menghadapi permasalahan-permahasalan yang berat!” ucap Da’I muda itu  dengan sikap tegasnya.
Coba pikirkan kembali apa yang membuat ghiroh antum melemah?” tanya da’I muda itu yang akrab di panggil Ustad Sobari. Arief  terlihat sedikit mengerutkan dahinya, mencoba untuk memikirkan apa yang membuat semangat dia luntur.
semenjak perkenalannya dengan Da’i muda itu, Arief semakin rajin mengikuti kajian baik disaat ba’da subuh ataupun ba’da maghrib, asalkan yang mengisi kajian itu adalah ustad sobari, semakin hari semakin tambah akrab anatara mereka, Arief tidak sungkan lagi untuk ngobrol mulai dari karirnya sampai dengan privasi, bahkan untuk penyebutan namapun Arief diminta untuk tidak lagi memanggil Ustad kepadanya, ia lebih suka dipanggil Abang, Mas atau apa saja yang terpenting baginya adalah baik dan sopan, hal ini di lakukan semata-mata karena ketawadhuan dan rasa kekeluargaannya.
“Rief, kamu ini masih kaku aja..” tandasnya kepada Arief.
“terus, apa aku harus panggil Abang gitu...”
“terserah, yang penting jangan panggil ustad, aku masih jauh dari sifat sempurna”.
“hmmm,, bagaimana kalau aku panggil Mas. biar orang-orang  mengira kita seperti ade kaka,, gimana?  “ahaa,, tidak terlalu buruk”.jawabnya dengan melempar senyum kepada pemuda itu.
***

12. Kunci alat Perindu
Separuh bulan Nampak berseri di langit kelam, menunggu  para mahluk Bumi bersimpuh. Sebuah kenikmatan yang teramat dalam bagi Arief Saat sebuah kebutuhan telah ia laksanakan. Layaknya kenyang, saat orang-orang menelan makanan-makanannya. Bahkan layaknya tidak akan pernah kenyang. Bagaikan seorang yang memakan-makanan yang lezat. Tetapi kenikmatan bagi pemuda itu  bukan karena kekenyangan makanan, atau bahkan tidak menikmati kekenyangan lezatnya makanan-makanan dunia. Tidak, bukan itu semua. ia menikmati sebuah rasa kenyang dalam ruh. Yang membuatkan tidak kenyang adalah lezatnya dalam menyembah, bersimpuh. Pada sang Maha pencipta kelezatan. Sungguh nikmat. Arief masih duduk bersila. Menikmati dzikir-dzikirnya di malam itu yang terasa bagai sebuah candu. Benar-benar sebuah candu. Memang ada benarnya apa yang dikatakan sanusi pane seorang Satrawan legendaris Indonesia.
 Kalaulah sanuse pane menyatakan Syair adalah candu. Maka sesungguhnya Sanusi Pane lupa, atau mungkin bahkan Ia tidak tahu. Candu yang diberikan dalam kenikmatan bersyair dalam Do’a di tengah malam, merupakan esensi dari Syair kehidupan. yang nyatanya adalah kita. kita adalah duplikat dari sang maha Penyair. syair yang memabukkan. bagai candu yang membuat orang akan terus ingat, tentang perbuatan keburukannya. Candu yang membuat orang akan terus melakukan perbaikan dalam dirinya. Candu yang membuat manusia-manusia terlena akan buaian kasih sayang-Nya. Buaian yang akan membuat manusia ingat, akan ada hari pembalasan bagi perbuatanannya. Yang membuat manusia, menjadi lebih sempurna. Karena rasa keimananannya terhadap Tuhannya.
Malam itu semakin larut, namun Arief tetap terjaga dari tidurnya. Entah kenapa ia tidak bisa tidur, di lihat kamarnya yang berantakan yang belum sempat ia bereskan karena kesibukannya yang amat padat, ia mulai memebereskannya mulai dari tumpukan baju, ia lipat pakaian yang bertumpuk itu dan menatanya hingga benar-benar rapi, tak sengaja   ada sebuah kunci rumah keluar dari kantong celana hitam yang ia lipat, Arief memegangnya serasa ia pernah memegang kunci itu sebelumnya,  ia berfikir sejenak. dan benar  bahwa kunci itu adalah Kunci yang pernah ia terima dari Aini ketika pertama kali menginjakan kakinya di Ibukota, namun ia lupa bahwa ia akan kembali setelah mendapatkan informasi dari Pak somad, ia ingat bahwa waktu itu ia hanya menitipkan surat ke Nia untuk Aini bahwa ia keluar sebentar untuk mencari angin segar.
Dentang waktu bergelayut pada pikiran Arief, dan suasana itu ketika kebersamaannya dengan Aini.  Arief terus mengingat Aini. Bayang-bayangnya menghiasi alam bawah sadarnya. Sejak peristiwa itu.  Arief semakin di hujani sosok perempuan itu. Sosok perempuan yang kuat dan ramah meruah kedalam balutan singgah sana keimanan.


malam ku urai rasa di ujung pena
membawa jiwa mengembara entah kemana
gelap telah menutup terang berganti
mekarkan kuncup tebarkan wangi tiada henti
sang embun mulai mengering
ketika heningnya merayap di reranting
mengapa angin berlalu bisu...
hadirkan tanya pada setiap risau...
untuk insan yang bergelar BIDADARI...
disudut jiwa masih kusimpan sketch cinta dengan setangkup rindu
duhai jelita pencipta rasa
jangan biarkan aku menunggu pun menderu
harap bertatap segera.
(@aefsugihartoni/02/04/15)







 “Tluutt…tluutt..” dering hp berbunyi keras. memecahkan lamunan pemuda itu, segera ia Ambil dari sudut dinding yang terhalang oleh sisa Pakaian yang belum di lipat.
  private number! Siapa yach? Tanyanya dalam hati
“Hallo… Assalamualaikum!”
“Walaikumsalam!” Ucapnya.
“Ini siapa yah?” Tanynya penasaran.
“Hehehe,, ini aku Indra, sorry Rief mengganggu sebentar,,
“ia ndra, ada apa malam-malam gini nelpon?.
“kau tau kan pembicaraan kita tempo lalu, aku sudah dapat info semuanya dari Istriku, pokonya jangan nolak seminggu lagi kita Taaruf sama  dia”.
“apa maksudnya”?
“oh my god, can you remember our discussion..Rief? Arief berfikir sejenak….
Ya. Ya. Ya.. l remember! secepat itu? apa tidak terburu-buru ndra”??
“ pokonya kamu harus datang, nanti aku tunggu di Kampus ya!!”
“yaudah terserah kamu, aku manut saja”
“ ok, sampai ketemu hari senin depan, don’t Forget! ..Assalamu alaikum”
“ok, waalaikum salam”.
usia arief memang sudah cukup untuk menikah bahkan teman-teman seangkatannya semua sudah menikah dan mereka menemukan kebahagiaan mereka masing-masing, berjuang bersama dan segala sesuatu bersama. Arief merenungkan kondisi seperti ini dan mulai membuka pikiran untuk mencari pasangannya hal ini ia utarakan kepada teman-teman dekatnya khususnya Indra sahabat yang paling dekat dan paling tau kondisi Arief.
Arief mulai gelisah, bagaimana bisa ia harus taaruf dengan Orang yang belum Pernah ia kenal, bahkan namanya pun tau dari Indra. dalam hatinya ia ingin sebelum Acara Taarufnya itu, ia berniat untuk ke lagura besok pagi. ia ingin mengembalikan kunci yang belum sempat ia berikan kepada Aini. hatinya lebih condong ke sosok perempuan itu.
Esok harinya, usai mengikuti kajian dengan Mas Sobari, Arief bersegera bersiap-siap, Hari ini ia tidak masuk Kerja, SMS ijin ia kirimkan ke Indra. Indra membalas “Ok, tapi besok masuk ya..!!
*****

13. Berkelahi dengan Jarot

Hatinya tidak bisa ditahan, ada rasa sesuatu yang mendorongnya untuk bertemu Aini, pagi itu awan mendung, tanda akan hujan lebat, namun niat Arief tidak goyah, ia tetap kesana. “Hujan itu adalah rizqi, kenapa harus takut”dialognya dalam hati.

Hujan dengan petir yang beradu seakan melumatkan telinga, Arief Tiba di depan rumah Aini. Ada mobil Avanza berwarna silver di depan gerbang, Pintu besi rumah itu terbuka, Namun pintu kayunya tertutup rapat, Artinya ada orang di dalam. Tiba-tiba ia mendengar suara barang dibanting. Seperti piring, Hujan kembali turun semakin lebat, Ia mempercepat langkah menuju teras. Bersama suara guntur yang menggelegar ia mendengar suara perempuan menjerit-jerit minta tolong dari dalam rumah. Ia kaget, Spontan ia lari ke pintu. Ia menggedor-gedor pintu. Pintu terkunci. Ia ingat, bahwa ia membawa kunci rumah itu. Suara perempuan dari dalam rumah kembali menjerit-jerit minta tolong. "Toloong, tolooong! Jangan! Jangan!"

Halilintar kembali menyambar. Ia menyangka suara itu adalah suara Nia yang mungkin hendak dianiaya oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Walaupun ia tidak suka dengan perbuatan dan cara berpikirnya, tapi ia merasa perempuan itu tetap harus ditolong. la membuka pintu. Dan... Alangkah terkejutnya ia. Di ruang tamu itu ia melihat Aini tengah bergelut melawan seorang lelaki gondrong bertubuh besar yang hendak merogolnya.

Aini meronta-ronta sekuat-kuatnya. Kedua kakinya menendang-nendang. Pakaiannya bagian atas tidak sempurna lagi menutupi tubuhnya. Ia melihat Aini mati-matian mempertahankan roknya yang hendak dilepas paksa. Melihat kemungkaran itu emosi Arief  tidak tertahankan lagi. Darahnya mendidih. Ia langsung membentak dengan sekeras-kerasnya.

 "Hai bajingan! Berhenti kau! Kurang ajar!" Bersama dengan meluncurnya bentakan keras dari mulutnya ia langsung melompat menendang lelaki itu, tepat saat lelaki itu kaget dan menoleh ke arahnya. Tendangan itu mengenai muka lelaki gondrong itu. Tepat di hidungnya. Tak ayal tubuh lelaki gondrong itu terpelanting dari atas tubuh Aini. Aini langsung bangkit dan lari ke pojok ruangan sambil mendekap tubuhnya yang gemetar ketakutan.

"Bangsat! Siapa kau berani mencampuri urusanku!" Lelaki itu berdiri dengan amarah memuncak di ubun-ubunnya. Ia memegangi hidungnya yang terasa sakit. Arief tidak gentar. Ia pernah dikeroyok oleh preman Bogor dan tidak mati meskipun saat itu tidak bisa dikatakan ia menang atau kalah. dan Terakhir menyelamatkan Tas Aini dari pencopet pada waktu di stasiun Bogor.

Arief balik menggertak, "Justru seharusnya aku yang harus bertanya. Siapa kau bajingan berani kurang ajar sama pacarku !" "Apa? Aini itu pacarmu?! Dasar penjahat. Rupanya kau ya yang membawa lari Aini  kemari. hei bocah kamu harus tau aku Jarot suaminya, suami Aini yang sah. Aku ingin membawa dia kembali ke rumahku!"
 "Dasar bajingan iblis! Kau bukan suamiku lagi! Aku tidak sudi melihatmu apalagi kembali !"
"Tutup mulutmu perempuan Goblok! Mau tidak mau kau tetap isteriku! Dan kau kucing alas, jangan ikut campur urusan rumah tangga orang lain! Atau...."
"Atau apa? Aku sudah tahu semuanya. Kau dan Aini tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kau boleh bawa Aini ke mana saja asal bisa melangkahi mayatku!"
"Kurang ajar!" Lelaki gondrong  itu mengayunkan pukulan tangannya dengan sekuat tenaga. Jika pukulan itu mengenai dada Arief, bisa jadi dada yang tipis itu akan rontok. Tapi Arief yang sudah pernah belajar Merpati dan pencak silat di Bogor saat SMA dulu dan pernah berkelahi dengan preman Pasar Lewiliang-Bogor, dengan tenang mengelit sambil menyarangkan tendangan ke perut Jarot. Jarot terhuyung. Emosinya semakin amenghebat.

"Setan alas!" Ia langsung mengambil kursi plastik dan mengayunkan ke kepala Arief. Arief menghindar. jarot  terus memburu. Satu sabetan Jarot mengenai pelipisnya.
Langsung berdarah. Di pojok ruangan Aini menjerit histeris. Arief  berusaha tetap tenang. Ia mencopot sandalnya yang ia rasa mengganggu gerakannya. Ia mencari peluang untuk menyarangkan serangan yang tepat. Jarot terus memburunya dengan ganas. Melihat darah mengalir di pelipis Arief, semangat Jarot  untuk membunuh semakin membara. Pada saat Jarot merasa bisa menghantam Arief dengan kursi plastiknya ia langsung mengerahkan segenap tenaganya. Sabetan itu sangat keras. Pada saat menyabet, kaki jarot tidak kokoh menapak di bumi. Dengan gesit Arief mengelak dengan menjatuhkan diri ke lantai. Lalu ia melakukan tendangan memutar sekeras-kerasnya ke arah kemaluan jarot. Tendangan itu sangat cepat dan keras. Tendangan itu yang tak lain adalah jurus Cimande  yang pernah ia pelajari dari pak Haji Tohir  yang dikenal sebagai guru silat di desanya. selain Guru menimba ilmu Agama Arief pun menimmba Ilmu pencak silat darinya. Kekuatan yang digunakan menyerang dalam tendangan itu adalah kekuatan putaran kaki dan senjata untuk melakukan serangan adalah kerasnya tumit kaki. Tendangan Arief sangat akurat.
Akibatnya...
"Plakk!" Tendangan Arief tepat mengenai sasaran. Tumitnya menghantam kemaluan Jarot dengan sekeras-kerasnya. Jarot langsung terjengkang dan mengerang kesakitan. Kursi plastik itu terlepas dari tangan jarot. Arief tidak mau membuang kesempatan. Ia langsung menyerang tendangan keras ke rahang Jarot. jarot kembali mengaduh.
Ia berusaha bangkit. Namun Arief langsung memukulnya dengan kursi kayu sekeras-kerasnya. Jarot mengerang sambil mengucapkan kata-kata kotor. Arief melihat televisi yang telah hancur. la angkat televisi itu dan ia tumpukkan ke muka jarot. Muka itu langsung luka dan berdarah. Seketika itu Jarot mengaum minta ampun.
 "Sudah aku mengaku kalah! Aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Tolong maafkan aku!" teriak Jarot  sambil memegangi kemaluannya.
Arief melihat ke arah Aini.
"kau mau memaafkan dia?" tanya Arief.
Aini menggelengkan kepala.
Arief melangkah ke kamar Aini yang terduduk gemetar di pojok ruangan. Ia pernah melihat ada palu di bawah meja rias. Jika tidak dipindah palu itu pasti masih ada di sana. Dan benar palu itu masih ada di sana. Arief langsung memungutnya. Sementara Aini masih mematung di pojok ruang tamu. Jarot  berusaha bangkit. Pada saat ia mau bangkit Arief telah kembali ke ruang itu dan langsung menendang kepala Jarot yang gondrong  itu sekeras-kerasnya. Jarot  langsung mengaduh, Arief menarik rambutnya
"Ampun tolong. Aku mengaku kalah! Biar aku pergi!
Ampuni aku!"
Kini tangan kanan Arif memegang palu erat-erat.
"Bagaimana Aini, mau mengampuni penjahat ini?"
Aini menggelengkan kepala.
Begitu melihat Aini menggelengkan kepala, Arief langsung memukulkan palu yang ada di tangan kanannya itu ke jari kaki kanan Jarot  sekeraskerasnya. sedangkan Tangan Kiri Arief Masih konsisten memegang Rambut Gondrongnya itu, Arief memukulnya dengan cepat tiga kali berturut-turut. Jarot  merasakan tulang jarinya remuk. Ia menjerit sekuat-kuatnya minta ampun.
"mau memberi ampun?" Tanya Arief.
Aini diam saja. Jarot memandang Arief yang saat itu berwajah sangat dingin. Ia berusaha menyeret tubuhnya ke belakang.
"Berhenti di tempat! Atau aku gantung Rambutmu di atas pintu sampai lepas . Aku tahu kau bajingan dan punya anak buah banyak. Tapi kau harus tahu aku ini tahu bagaimana cara memecah dan meremuk tulang kepala seorang penjahat seperti kamu. Tahu!"
Arief membentak.
Jarot  seketika diam tak berani bergerak. Ia sudah benar-benar tidak berdaya.
"Bagaimana Aini, mau mengampuni penjahat ini?" Arief kembali bertanya pada Aini.
Aini kembali menggelengkan kepala. Arief langsung mendekati Jarot . Jarot  mengaduh minta ampun.

"Letakkan tangan kananmu di lantai!" Perintah Arief. Jarot malah menggenggam tangan kanannya dan tangan kirinya seolah-olah hendak melindunginya.
"Dengar, sekali lagi letakkan tangan kananmu di lantai atau aku akan menghancurkan kemaluanmu dan kau akan mampus saat ini juga!" Gertak Arief dengan muka merah padam. Jarot  yang tak punya nyali itu dengan tubuh gemetar meletakkan tangan kanannya di lantai.
"Hmm itu tangan yang selama ini digunakan untuk menjahati dan menodai kaum perempuan. Baik nih rasakan!"
Arief memukulkan palunya ke jari-jari Jarot dengan keras beberapa kali. Jarot merasakan sakit luar biasa. Sampai ia tidak bisa lagi menjerit.
"Ini pertanyaan saya terakhir, Aini lihat aku,mau mengampuni penjahat ini? Jika tidak palu ini akan mengeluarkan otak penjahat ini dari batok kepalanya. Biar dia mampus di sini dan tidak akan mengganggumu lagi.
Mendengar kata-kata itu Jarot kembali memohon ampun. Jarot melihat bahwa ancaman Arief bukan gertak sambal saja. Ia melihat pemuda kurus yang menghajarnya ini punya nyali yang luar biasa dan jika nekat matanya seolah buta.
"Aini, to... tolong maafkan aku! Aku tak ingin Aini.
“A... aku khilaf. A... aku janji tidak akan mengganggumu lagi dan tidak akan menampakkan wajah di hadapanmu lagi!" Kata Jarot mengiba dengan suara terbata-bata.
"Bagaimana Aini? Ini pertanyaan aku terakhir!" Tanya Arief dengan wajah dingin.
Aini bangkit dan melangkah lalu meludahi Jarot..
"Saat ini aku belum bisa memaafkan dia . Tapi biarkan dia pergi. Biarkan dia hidup. Jika kau bunuh dia Mas nanti urusannya panjang!"
"Aku tahu dunia preman. Urusannya tidak akan panjang. Kalau mau biar kubereskan dia. Sampah seperti dia inilah yang merusak kesucian anak gadis di mana-mana. Dia tak pantas hidup!"
"Biarkan dia pergi Mas"
"Baik”,
Jarot  langsung berkata, "Te... terima kasih Aini!"
"Hei, cepat pergi. Sebelum aku berubah pikiran!
Ingat, hari ini kau berhutang nyawa pada Pacarku. Sebab jika tidak karena dia menyuruh membiarkanmu pergi, Rambutmu yang Gondrong itu sudah ku lepas  dan hancur! Cepat pergi!"
Bentak Arief dengan mata dipelototkan. Dengan susah payah Jarot  bangkit. Arief mengambil Gordeng di pojok jendela dan dilemparkan  ke muka Jarot.
"Hei, usap lukamu dengan ini!"
Jarot berdiri. Ia mengusap darah yang mengalir dimukanya. Juga darah yang keluar dari jari-jari tangan kanannya yang hancur. Dengan langkah pincang tertatih-tatih ia berjalan keluar rumah. Di luar hujan tinggal menyisakan gerimis. Arief mengikuti sampai di pintu.

Ia mengamati Jarot  dengan pandangan dingin. Susah payah Jarot masuk ke dalam mobilnya. Ia lalu menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan rumah itu. Begitu deru mobil itu tidak terdengar lagi. kemudian Arief masuk dan langsung duduk di sofa.
Aini  langsung menghambur bersimpuh menangis di kaki Arief . Aini menangis terisak isak mengucapkan rasa terima kasih dengan terbata-bata. Arief  terpana sesaat seakan hilang kesadaran. Ia mematung tak tahu harus berbuat apa menerima luapan keharuan Aini yang ditumpahkan sepenuhnya kepadanya. Beberapa saat kemudian kesadarannya pulih kembali.
"Aini , Aini..sudahlah. tolong bangkit ..." Ucap Arief pelan.
Aini  menghentikan isakannya. la melihat tubuhnya sendiri. Barulah ia menyadari ada bagian tubuhnya yang seharusnya tertutupi tapi tidak tertutupi. Baju yang seharusnya menutupi aurat itu sobek. Dan penutup aurat di bawah baju telah lepas dan tidak lagi menempel di pinggangnya. hanya celana dalam yang tersisa dan Kaos dalam putih yang masih membungkus badannya,Ia tidak menyadari hal itu sebelumnya karena ketegangan dan ketakutan luar biasa.

Begitu sadar muka dan perasaannya berubah seketika, dari haru menjadi malu. Aini langsung melindungi bagian itu dengan menutupkan  celananya yang sudah lepas, lalu menyilangkan kedua tangannya ke dada. Kemudian ia bangkit dan bergegas ke kamarnya dengan raut wajah merah.

Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menunjukkan bahwa ia malu luar biasa.
Arief  menarik nafas dalam-dalam. Ia memejamkan kedua matanya. Punggungnya ia sandarkan sepenuhnya ke sofa. Ia tak membayangkan akan pernah berkelahi dengan penjahat yang hendak memperkosa seorang wanita seperti yang baru saja terjadi. Ia jadi teringat keinginannya yang sangat kuat untuk pergi ke rumah ini. Keinginan yang tidak bisa ditepisnya sama sekali. Rupanya ia harus datang untuk membela orang yang pernah berbuat baik padanya.
"Kau datang dan membuat bajingan itu terpelanting.
Awalnya aku kira kau adalah malaikat utusan Tuhan yang menyambar penjahat itu dengan cemeti mahasaktinya. Malaikat yang diturunkan Tuhan karena rintihan doaku di saat paling kritis. Malaikat dalam arti sebenarnya. Ternyata bukan, yang datang bukan
malaikat tapi manusia. Mahakuasa Allah."
"Siapakah yang menghadirkan keinginan untuk datang kemari itu kalau bukan Allah Aini? Dan siapakah yang menghadirkan keberanian dalam dada ini untuk bertarung dengan penjahat itu kalau bukan Allah? Dan siapa yang menolong saya memenangkan pertarungan tadi kalau bukan Allah?"
Airmata Aini kembali meleleh. Arief terdiam. Sesaat lamanya ruangan itu diselimuti kesunyian.
"Tapi Mas, walau bagaimana pun aku sangat berhutang budi padamu. Bagaimana aku harus membalasnya?" Lirih Aini seraya mengangkat muka memandang wajah Arief. Arief  memandang ke arah Aini, lalu menarik pandangannya ke lantai.
"Sudahlah.. Aku merasa tidak berbuat apa-apa selain melakukan kewajibanku sebagai seorang manusia yang melihat kezaliman di depan mata. kamu jangan mengatakan hal seperti itu lagi."
"Mas harus tahu sesuatu . Agar kau tahu betapa aku sangat berhutang padamu.Mas "
"Sesuatu apa?"
"Seperti yang dulu pernah kuceritakan kepadamu.
Kalau tidak salah aku pernah cerita . Dia pergi ke Jakarta dengan alasan bisnis. Ternyata beberapa hari kemudian ia tertangkap dalam kondisi over dosis di sebuah hotel. Ia masuk penjara. Dan aku kemudian tahu semua kejahatannya. Saat itu aku mengajukan gugatan cerai. Tak bisa ditawar lagi, karena aku tidak mau punya suami seorang penjahat yang kejahatannya benar-benar telah melampaui batas. Jadi meskipun aku telah menikah sejatinya kesucianku belum pernah dijamah oleh suamiku. Dan sampai hari ini mahkota kesucianku belum tersentuh oleh siapapun. Statusku memang janda, tapi kesucianku masih utuh. Sumpah demi Allah, Zat Yang Maha tahu.
"Kau harus tahu Mas, selama ini betapa mati-matian aku menjaga mahkota ini. Betapa mati-matian aku menjaga iman ini. Godaan, bujuk rayu datang setiap saat. Alhamdulillah aku kuat. Tiba-tiba si “Je” itu datang mau merenggut mahkota itu. Dan mahkota kesucian yang lebih berharga dari nyawaku sendiri itu nyaris ternistakan, kalau saja kau tidak datang Mas. Inilah sesungguhnya yang aku alami. kau harus tahu, kau telah menyelamatkan kesucianku, kegadisanku. Aku benar-benar berhutang padamu.Mas".

Mendengar cerita Aini, hati Arief bergetar. Tanpa ia sadari air matanya meleleh. Ada rasa kebahagiaan yang sangat halus yang menyusup begitu saja ke dalam hatinya. Rasa bahagia sekaligus rasa bangga karena ia bisa menyelamatkan kesucian seorang wanita. Ia berharap apa yang dilakukannya itu dinilai ibadah oleh Allah. Dan apa yang dilakukannya itu bisa menghapuskan dosa-dosanya saat ia masih remaja dulu. Ia kembali teringat ketika di Pondok saat SMA, saat ia pacaran dengan gadis desa. Saat itu ia nyaris melakukan perbuatan yang menistakan kesucian gadis itu. walaupun saat itu Ciuman dianggap biasa oleh teman-teman Arief namun Bagi dirinya inilah awal kehancuran Untunglah saat itu tidak terjadi, karena terhalang oleh keadaan yang tidak memungkinkan. Ia meneteskan airmata, bersyukur kepada Allah, bahwa kesucian dirinya pun masih belum ternista.

"Mintalah apa saja padaku Mas, selama itu tidak dosa dan aku mampu aku akan memenuhinya." Ucap Aini dengan suara jelas tanpa isak tangis.
“Aini..Aku tidak minta apa-apa. Cukuplah Dirimu terus menjaga diri, kesucianmu, dan terus mendekatkan diri kepada Allah serta berusaha menjadi wanita salehah selamanya, itu akan membuat apa yang aku lakukan hari ini bermakna dan tidak sia-sia."
"Baik mas, aku akan berusaha sebisanya. O ya sampai lupa, aku buatkan minuman ya? Mau minum apa ?"
"M...tidak usah repot-repot."
Arief melihat jam di dinding. Ia merasa sudah terlalu lama di rumah itu.
Arief pamit pulang dan tak lupa ia serahkan Kunci yang ia bawa kepada Aini.
jika bukan agama yang melarang, hati Aini ingin sekali memeluk Arief dengan Erat dari arah belakang, namun dari sudut itu ia hanya bisa melihat kepergiaan pemuda yang baru saja membuat hatinya terpikat oleh keberaniannya.
***

14. Bertaaruf dengan  S2

Minggu  berikutnya Arief ingat bahwa ia punya janji dengan indra di STIBA, ia berangkat ke Kampus  naik Angkot biru  04 arah rawasari - Matraman  lalu naik  01 arah kampoeng melayu, Ia bergegas turun menuju masjid kampus STIBA IEC. Indra ternyata sudah menunggu di masjid. Begitu ia sampai ia langsung diajak ke ruangan sidang. Di sana ada seminar membahas dua judul proposal skripsi. Dua orang mahasiswa Program sastera inggris dan Sastera Jepang. Mereka berasal dari suku sunda dan batak sedang mempresentasikan judul proposal skripsi mereka di hadapan dosen dan guru besar. Arief dan Indra  duduk di belakang. Satu per satu kandidat Mahasiswa itu mempresentasikan kajiannya.  Ada tiga professor yang menilai dan mengkritisi dan satunya lagi seorang Moderator Sidang, Moderator yang tampak masih muda dan cantik. ia hanya mencatat beberapa point yang di presentasikan, kemudian menanyakannya ke pada para calon sarjana itu, dengan bahasa inggris dan bahasa jepangnya yang fasih dan bagus tampak seolah-olah native Asli, Dialah yang menjadi artis di ruangan itu. Arief  diam-diam tersihir oleh keanggunan dan kecerdasan perempuan yang baru saja menamatkan S2 nya di Universitas Negeri Jakarta selama 2 tahun.
“umurnya kisaran satu tahun di bawahku”, (celetuk Arief dalam hatinya).
"Perempuan  Sunda ada yang hebat juga ya. Itu yang di depan itu. Masih muda sudah Master.
“Woow great. do you know her?"
"no, who is she?”
"She’s a woman who is going to be introduced by me to yourself. Itulah orangnya.
Arief kaget bagai disambar petir tak terkira.
"Reallyyy?,  Don’t make me getting a green face. Seriusan ndra?
“frankly Speaking it’s occasion for you to know your future. Masak jauh-jauh datang kemari hanya untuk bercanda?" Aku tidak bercanda Rief. Dia itu namanya Dzakiya halimatun sya’adah M.Pd, Dia menyelesaikan S.1 nya Satu kelas dengan isteriku di UNINDRA, Hanya saja isteriku tidak melanjutkannya ke S.2, ia langsung mendirikan Sekolah Formal dan mengaplikasikan ilmunya di sini, di Jakarta.  sedangkan dia langsung lanjut S2 di UNJ. Kata isteriku, ketika di UNINDRA dia termasuk mahasiswi yang disanjung banyak dosen karena kecerdasannya. pemuda itu hanya mendengarkan celotehan temannya itu, matanya tetap tertuju kedepan memandangi perempuan muda itu.  pantaslah, kecerdasannya sesuai namanya, Dzakiya yang artinya Cerdas  gumamnya dalam hati. Itulah kelebihan yang dia miliki.
“Bagaimana Rief? mau dilanjutkan apa tidak? Terus terang aku tidak bilang apa-apa padanya. Kalau mau nanti kita datangi dia dan kita ngobrol santai saja. Bagaimana?"
"Lanjut dech."
"Okay, kau juga harus tahu kekurangannya, kalau ini dibilang kekurangan, dia itu sudah janda. Sudah pernah mau punya anak tapi keguguran. Dia janda karena suaminya meninggal dunia. Bagaimana Rief? Dilanjutkan apa tidak?" Arief berpikir sejenak. Lalu menjawab,
"okay never mind."
"Baik." Jawab Indra sambil tersenyum. Setelah seminar selesai Indra bangkit. Isteri Indra menyalami perempuan S2 itu. Keduanya berangkulan mesra. Lalu Indra menyapa seraya memperkenalkan Arief. Mereka berempat lalu berbincang-bincang sambil berdiri beberapa saat.

Dzakiya sangat ramah dan murah senyum. Arief terpesona dengan aura kesundaanya. Mereka berbincang tidak lama, sebab waktu shalat Ashar tiba. Dzakiya minta diri ke ruangannya. Indra dan isterinya serta Arief bergegas ke masjid di sebrang kantin. sambil berjalan kaki isteri Indra menjelaskan bahwa Dzakiya  adalah teman akrabnya saat  ngampus bareng di UNINDRA.
Beberapa bulan lalu Dzakiya meminta padanya kalau punya calon yang sesuai untuknya. kalaupun gelar yang di sandangnya tidak sebanding dengan Calon Imamnya itu Dzakiya tidak merasa itu hal yang menjadi problema.hal yang paling penting adalah tanggung jawab, setia, dan bisa membimbingnya ke jalan yang di Ridhoi Allah.
mendengar penjelasan dari istrinya Indra itu hati Arief  terenyuh, Hari itu Arief  seperti mimpi. la seperti tidak percaya kalau calon yang dikenalkan dengannya adalah seorang Dzakiya, perempuan cerdas lulusan S2 UNJ. dengan tatapannya tadi, ia  rasakan Dzakiya lebih dari seorang bidadari.
"Tapi Dzakiya belum tahu apa-apa”.
 Dia tidak tahu kalau ada orang yang satu suku dengannya berniat ta'aruf dengannya. Besok baru aku akan jelaskan padanya. Apa kira-kira reaksi dan tanggapan dia. Semoga seperti yang kita harapkan. Kalau melihat suami dia dahulu juga dari kalangan orang biasa. Bukan dari kalangan bangsawan," kata isteri Indra.
"Insya Allah, kalau ini jodohmu tidak akan lari ke mana-mana Rief." Sambung Indra. Arief mengamini dalam hati berharap semoga surga itu telah ia rasakan di dunia. Setelah shalat Ashar mereka pulang meninggalkan kampus STIBA. Indra dan isterinya membawa mobil. Arief naik metromini hijau. Indra menawarkan padanya untuk satu mobil, tapi Arief ingin berkunjung ke rumah seorang kenalannya bernama Ajan seorang pemain golf di rawamangun. ia ingin melepaskan kepenatan hari-harinya dan menikmati lapangan yang indah itu sembari berbaring di hamparan rumput-rumput yang masih segar itu.

15. Bertemu Nia

Enam bulan sudah dari waktu taaruf Arief dengan Dzakiya di STIBA waktu itu. kini Arief seperti biasa ingin ke Rumah Temannya yang di Golf Rawamangun ia bertujuan untuk menanyakan kabar Aini dengan Harapan ia bisa mendapatkan kabarnya meskipun ia sudah taaruf dengan Dzakiya namun hati kecilnya selalu terbesit wajah Aini, dan Ajanlah orang yang tepat dan sumber informasi yang baik.

Arief naik bus mini kuning ke Hentian halte UNJ. Ongkosnya cuma 3500 Rupiah. Sepuluh menit kemudian bus itu sudah sampai di Hentian Halte. Arief  berjalan ke kanan menuju tempat duduk para penumpang. Ketika ia melewati tempat itu, sekonyong-konyong ada seorang wanita berjilbab yang memanggilnya dengan keras.
"Mas Arief!" Ia menghentikan langkah dan menoleh ke arah suara. Seorang wanita berjilbab dengan wajah gembira melangkah ke arahnya. Ia mengamati dengan seksama, mencoba mengingat-ingat.
"Lupa ya sama saya? Pasti lupa?" kata wanita itu sambil tersenyum.
"Siapa ya? Agak lupa-lupa, ingat," jawab Arief.
"Sudah terlalu sibuk dan sudah 3 tahun tidak bertemu jadi Mas lupa. Sangat wajar. Apalagi penampilan saya dulu dengan sekarang berbeda. Pasti Mas susah menerka."
"Aduh langsung saja. Siapa ya?" katanya sambil melihat jam. Ia memang tidak punya waktu terlalu longgar untuk hal yang kurang penting.
"Baik Mas. Saya Nia. Kita dulu pernah ketemu di Lagura. Ingat? itu lho yang Mas Arief titipkan Surat Untuk Aini dan Mas Arif keluar sampai sekarang tidak kembali, Ingat? Saya dulu memang tidak jilbaban seperti sekarang."
"Oooooh Mbak Nia. Ya Allah, saya benar-benar susah mengingat-ingat tadi. Saya sepertinya pernah bertemu. Tapi di mana saya tak ada bayangan. Iya Mbak benar-benar beda setelah pakai Jilbab. Tambah anggun." Nia tersenyum mendengar pujian.
“O ya mas sudah tau kabar mba Aini blum”?
"Berita yang mana?"
"Ah baiklah. Aku ceritakan biar nanti kalau suatu saat Mas dengar berita itu tidak salah faham. Begini Mas, enam bulan yang lalu tepatnya setelah peristiwa mba Aini dengan mantan suaminya yang bajingan itu, sempat mba Aini Cerita tentang Pertolongannya Mas. Namun sejak itu kami terusir dari kostan, beberapa warga yang menjadi saksi atas sebuah tuduhan bahwa di antara kami telah berbuat maksiat. Padahal yang berbuat itu hanyalah Debora.teman satu kamar yang dulu bersebelahan dengan kamarnya Mas Arief ketika menginap itu. Debora sangat keterlaluan, Maksiatnya sudah terang-terangan. Aku yakin kau tahu apa pekerjaan Debora . Melacurkan diri. Biasanya ia dijemput dan berbuat maksiat itu di hotel. Kami mengingatkan tidak mempan. Mbak Aini sering bertengkar dengannya. Apalagi mengingat bahwa kejadian yang menimpa mba Aini itu tidak Wajar. Mbak Aini curiga Deboralah yang memberitahu keberadaan dirinya pada mantan suaminya. Debora semakin nekat seolah menantang penghuni rumah yang lain. Ia maksiat di kamarnya. Beberapa teman lelakinya datang ke rumah. Hal itu dicium oleh masyarakat. Akhirnya rumah itu digrebek. semua Cady di kostan itu dianggap pelacur semua. Padahal pelacurnya cuma Debora . Kami diinterogasi habis-habisan. Kami difoto dan masuk koran. Yang paling sabar dan tabah menghadapi ujian ini adalah Mbak Aini. Mbak Aini berusaha sekuat tenaga berdialog dan menjelaskan bahwa tidak semua yang ditangkap adalah pelacur. Akhirnya Mbak Aini bisa menelpon seorang kenalannya. la anak seorang pejabat penting. kemudian kami di bebaskan kecuali Debora, Sejak itu saya memakai jilbab dan berhenti dari Golf. Saya ingin lebih berarti menjalani hidup ini. Dan Mba Aini ikut Mba Imza menjadi Aktivis Dakwah. Begitu ceritanya Mas.”
Arief  mengucapkan syukur berkali-kali dalam hati mendengar penjelasan itu. la merasa berdosa telah berprasangka buruk pada semua penghuni kostan itu. Kabar itu memang pernah selentingan terdengar tidak jelas ke telinga Arief. Sekarang ia tahu Aini bersih. Ia jadi tidak sabar untuk menanyakan keberadaan Aini. Walau bagaimanapun nama itu pernah tertanam dalam hatinya.
"terus Aini sekarang di mana?"
"daerah Kramat Gundul."
“Ada alamatnya?"
"maaf Mas, Buku catatanku yang ada alamat dan kontak Mbak Aini hilang di angkot. Mungkin jatuh. Saya dengar terakhir kali ya dia ikut mba imza itu tapi kata temannya mba Aini dia pindah ke jambi sama mba Imza."
"Mmm di jambi.,,Apakah Aini sudah Menikah?"
"Saya juga tidak tahu. Tapi dia pernah ngobrol dengan saya. Maaf lho Mas Arief ya kalau tidak berkenan. Ia pernah cerita kalau dia diam-diam suka sama Mas Arief. Tapi dia bilang jangan bilang ke siapa-siapa. Ya saya juga baru kali ini sich mengatakannya sama Mas. Biar Mas Arief tau, setiap malam ia menangis, mungkin karena bersyukur sudah di selamat pada waktu itu sama Mas. Atau entahlah. Yang jelas dia suka mengigau ketika tidur dan memanggil- manggil Mas Arief”.
Seperti ada setetes embun membasahi hatinya. Wajah Aini hadir dalam pikirannya. Kenangan lama perlahan muncul ke permukaan. Tapi cepat-cepat ia tepis kuat-kuat. Ia tidak boleh menghadirkan kenangan itu. Ia telah siap menghitbah dengan Dzakiya seorang yang akan menjadi Calon Istrinya kelak.
"Maaf Mas bus saya sudah datang, saya harus pergi. Saya sekarang tinggal di sekitar sini. “Mari Mas. Sukses ya." Nia izin untuk pamit.
Arief terpaku di tempatnya beberapa saat lamanya. Kemudian ia teringat hari sudah sore. Ia harus sudah ada di tempat Ajan. Keinginannya untuk menemui Ajan terpaksa ia urungkan. informasi dari Nia Cukup jelas dan ia tidak usah cape-cape menanyakan kabar Aini. Ia langsung bergegas menuju Halte Busway dan merogoh Kartu busway ke penjaga dan langsung pulang sore itu.
* * *





16. Gagal melamar Dzakiya

pagi-pagi sekali Indra datang ke kosannya Arief. Indra menyampaikan hasil komunikasi antara isterinya dan Dzakiya selama waktu 6 bulan lamanya untuk memikirkan matang- matang. Arief tidak sabar menunggu berita gembira itu.
"Bagaimana, sesuai harapan?" tanya Arief.
"Pada dasarnya Dzakiya menerima dan tidak masalah." jawab Indra tenang.
"Alhamdulillah”.
"Eiit... dengarkan dulu sampai aku selesai bicara!"
"Oooowh masih ada lanjutannya tho. Apa lanjutannya?"
"Ya pada dasarnya Dzakiya menerima dan tidak ada masalah. Yang jadi masalah adalah Uanya, Kakak dari Ayahnya Dzakiya, yang sekarang jadi walinya telah membawa seorang calon untuknya. Dzakiya belum mengambil keputusan. Tapi agaknya Dzakiya merasa berat jika harus berseberangan dengan Uanya itu. di tambah setelah Ayahnya wafat semua biaya kuliah Uanya yeng menanggung."
“terus”? Tanya Arief dengan kepenasarannya.
"Artinya ia cenderung mengiyakan calon dari Uanya.
Arief menunduk kecewa dengan pernyataan itu. Kenapa dalam masalah seperti ini aku selalu menuai kecewa. Ketika ingin serius dengan  Aini, malah ia ke jambi dan entah dimana keberadaanya sekarang. ketika aku sedang focus untuk masa depan pak oleh menawarkan putrinya yang aku sendiri tidak begitu suka, walaupun sebenarnya pak oleh merasa bangga kalau anaknya menjadi pendampingku, “ya Robb Apa ya dosaku ini?"
"lho..mulai deh, berprasangka tidak baik pada Yang Mahakuasa! Sabarlah Rief. semua itu pasti ada hikmahnya.
Selain membawa kabar menyedihkan itu aku juga membawa kabar baik untukmu." 'Apa itu ?" "Aku kemarin dibel Pak Chandra kepala Pudir STIBA, ia menawarkan katanya ia membutuhkan tenaga pengajar. Yang dicari S.1 jurusan bahasa Inggris.
“lha.. aku kan jurusan Sastra”
“sastra Inggris kan? timpal Indra sambil melemparkan pandangan ke arah pagar Kosan.
“Coba kau masukkan lamaran ke sana”.
"ok, aku coba" timpal Arief dengan semangat.
"Caranya bagaimana?"
"Masukkan langsung lamaranmu ke sana. 0 ya Sekalian bersilaturrahmi ke pesantren Mas Sobari. Siapa tahu mas Sobari  juga mencarikan jodoh untukmu. seorang Penulis professional seperti Mas Sobari pasti punya banyak relasi Cantik, atau paling Tidak santriwatinya itu lho yang jilbaber-jilbaber kan banyak."
"Wah that’s brillian” timpal Arief dengan senyum simpul,namun Arief masih bingung dengan perkataan indra “Penulis”. setaunya Mas Sobari adalah beliau seorang Da’i Muda yang Karismatik dan Tawadhu walau ia sudah mendapat gelar Megister Di sebuah Institut Jakarta.
Ah.. atau mungkin indra salah sebut.(dialog panjng dalam hati Arief)

“ Dunia ini sejatinya luas ya kan” ? balas indra.
 “Ya”( fikiran Arief  mulai menjalar kemana-mana.)
“Wanita di dunia ini pun miliaran jumlahnya. Tidak cuma Aini atau Dzakiya saja"
"Kenapa aku baru menyadarinya sekarang ya ndra?."
"Karena kamu selalu menyempitkan ruang berpikirmu selama ini Rief. Cobalah kau buka lebar-lebar. Hidup ini akan terasa mudah, menyenangkan, dan menggairahkan."
 "Ya sudah saatnya aku meluaskan ruang hati dan pikiranku sekarang "
"Di antara caranya adalah dengan selalu berprasangka baik kepada Allah."
sambil senyum kecut kepada pemuda itu.
"ok, ok,thank you my best friend, you are very kind to me.
“Hmmmm But there’s one more time”?
"apa itu?"
"Pinjami aku uang 2 juta untuk beli motor second" kata Arief dengan  tersenyum.
“2 juta? aduuh..motor buat apa? bukannya kamu sudah terbiasa naik angkot sama busway kan?
“ndra, untuk menjadi Tutor Private itu butuh transport, nanti aku bayar setelah salary pertamaku keluar.
“ya sudah nih”
"Kau memang sahabatku yang terbaik yang pernah ku kenal."
"jangan memujiku seperti itu. nanti kembalikan secepatnya ya”.
“siap boss”!!
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar