Jumat, 19 Februari 2016

Mozaik Cinta bag 21-25




21. Manisnya suasana itu

sesuadah acara resepsi ijab qobul Arief membawa Aini ke sebuah hotel di Jakarta. dengan lunturnya sore hari Tabir malam membentang luas, bintang bertaburan seakan merasakan kegembiraan dianatara Mereka.
Mereka melaksanakn sholat Isya di kamar hotel itu, Arief menjadi Imam, takbir menggema dalam riak sukmanya menggetar penuh syukur yang amat dalam, begitupun Aini merasakan getaran itu masuk kedalam Relung hatinya sambil mengucap Amiin pada terakhir surah Alfatihah. Seusai sholat.
“Maaaas” panggil Aini dengan lembut nan manja.
mendadak bulukkuduknya merinding. Bagaikan bertemu dengan hantu. Tetapi hantu yang sangat cantik. “Iya Istriku!” jawabnya.
“Apa boleh aku duduk disampingmu” ucap Aini  dengan terlihat malu-malu.
sambil tersenyum lebar Arief berkata “boleh,kenapa tidak..duduk disini juga boleh (tangannya menunjuk sejadah yang masih terlentang di depannya)  rayunya dengan hangat.
Aini terlihat sangat malu. Pipinya memerah, dari warna putih kulitnya. Sungguh mempesona. Arief bingung entah apa yang harus  ia lakukan. mereka hanya duduk berdua di sebuah kamar luas dengan interior sejuk, bersih, dengan cat pink bercampur hijau.

“Istriku! Apakah engkau senang menikah denganku?” entahlah ia merasa sangat bodoh didekatnya. Sebuah pertanyaan yang tidak layak untuk dijawab pikirnya .
Aini hanya tersenyum. Lalu memegang tangan Arief . Diciumlah tangan kanannya, lalu disentuhkan dipipinya dan dibelai-belaikan sendiri. Sungguh jawaban yang efektif. Tidak menggunakan suara. Tetapi langsung pada tindakan.
“Istriku. aku mau tanya!”. (Membuka pembicaraan yang monoton.)
“Apa mas?”
“aku merasa bingung dengan pernikahan kita, apa tidak terlalu cepat?
Aini tersenyum. “Mas, ingat bahwa menyegerakan pernikahan itu adalah hal yang terbaik. Tetapi memang bukan terburu-buru. Rasulullah bersabda.
“Jika datang kepada kalian orang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika kalian tidak melakukannya, maka akan menjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” aku dan Mba Imza, telah sepakat  Bahwa Engkaulah orang yang benar-benar dapat dipercaya.
Dan sesungguhnya ak..u  sudah lama mencintaimu Mas, sejak awal pertama kenal. Tapi aku ingin menutupi semuanya. aku malu terhadap Allah. Karena aku belum memperbaiki diri, dan mencintai lelaki yang seharusnya tidak berada di hatiku karena memang belum halal untu ku. Tetapi kini engkau sudah menjadi suamiku” jelas Aini sambil menyandarkan kepalanya di dada pemuda itu. Jantung Arief berdetak kencang tidak beraturan. Keringat dingin terus mengalir di sekujur tubuhnya,betapa tidak? seumur hidup Arief baru kali ini memeluk seorang gadis yang amat ia nantikan dan amat ia rindukan meskipun didalam kamar ini air conditioner terasa sangat dingin.
“aku juga sangat mencintaimu. Alhamdulillah, Allah benar-benar mengabulkan doaku untuk memiliki salah satu bidadari-Nya.”  sambil membelai kepala istrinya yang masih terbalut mukena.
“sayang, peluk aku dengan erat”. ucap Aini dengan manja.
 Seketika itu, Arief mendekatkan wajahnya, amat dekat,bahkan  lebih dekat dari pada waktu Aini tersandung yang hendak mengantarkan mie dan telor ceplok itu tiga tahun silam di dapur,  Arief menatap mata Istrinya dalam-dalam, Mata keduanya bertemu cukup lama, terlihat di mata yang sendu itu sebuah perjuangan hebat serta kerinduan yang amat dalam, frekuensi  getaran halus itu masuk menyusup kedalam hati Arief dan menawannya sampai lidahpun kelu untuk berkata. Wajah Aini tampak sangat Cantik dan Teduh ada aura ketulusan yang memancar darinya. Dan ada pesona yang mampu membuat hati  mereabsorbsi segala bentuk enzim yang masuk begitu saja. dengan nada gemetar dan nafas terbata –bata “sayang, cukup lama aku merindukanmu” Arief mengeluskan tangannya di wajah yang bersih itu dengan mata berkaca- kaca. sebuah keberanian baru saja diungkapkan yang sudah lama ia pendam.
genangan air mata Aini pun mengalir hangat begitu saja, dengan isak haru bisu yang ia coba sembunyikan dalam- dalam, sungguh pergulatan batin yang tidak bisa di bendung dalam hatinya seperti bendungan Air Deras yang dalam hitungan detik akan membludak hebat,  ia ingin segera melumatkan rasanya dan segera memeluk erat Arief,suaminya.
sentuhan hangat nan lembut itu membuat degup jantung Aini semakin berpacu kencang, amat kencang, aliran darahnya naik seketika hingga ubun-ubun, keringat dingin dan bulu roma tampak membeku, menjalar diseluruh urat syaraf hingga ujung kaki, sekujur tubuhnya kaku ketika hembusan nafas hangat itu mulai mendekati bibirnya yang merekah, nafas Aini terbata-bata, Aini larut dalam buaian kasih itu, Arief memeluk erat tubuhnya dengan badan gemetar bercampur Air mata haru yang tak cukup diungkapkan oleh kata-kata.
***



22. Pulang dari rumah Imza
Aini tidak sampai hati merenung pada masa itu betapa tetesan air matanya di bayar dengan anugerah yang luar biasa oleh sang pencipta, dengan gemuruh hati yang masih melekat di sanubarinya. Aini dulu dengan Aini sekarang amat berbeda, dulu Aini sangat cantik sekarang kecantikan itu diselimuti oleh kulit yang tidak sekencang dulu, dulu mata yang yang indah nan tajam kini sekarang sudah mulai kabur. sepuluh tahun berlalu berumah tangga dengan Arief baru kali ini ia merasa benar- benar di landa cemburu yang membabi buta serta musibah yang amat berat, walaupun Mba imza sudah memberikan pencerahan, namun tetep saja hatinya sebagai perempuan tetap rapuh.
Nampak senja mulai ke perbatasan menunggu rembulan di malam hari, warna kebanggan itu telah menyinari garis batas pagar Rumah Imza, Aini masih di dalam, sesaat ia akan pamit pulang ke rumah, rumah yang pertama kali ia injakan ketika sakral pernikahan di sematkan meski begitu karena ia tau betul walau Perempuan yang ia anggap sebagai kakanya itu tidak keberatan jika ia menginap, tetap saja ia harus pulang, dan mba imza mengantarnya ke pintu depan, perempuan itu melihat sampai Aini benar- benar melambaikan tangan tanda mereka harus berpisah.
setengah perjalanan dengan Sepedanya yang tanpa rem itu, kumandang Adzan maghrib Tiba, hari itu Aini mengingat semua kenangan dan ada sedikit cerah dalam hatinya, bahwa sebagai Mujahidah yang memang seharusnya tunduk terhadap aturan sang Maha Kasih, dan menerima apapun Skenario Tuhan untuk ia jalani sebagai aktor dalam kehidupan. Tiba saatnya di depan Rumah, tampak sepi dan gelap, karena memang lampu-lampu belum ia nyalakan, Ia merogoh kunci dan menyandarkan Sepeda itu di belakang Teras depan.
ia bergegas untuk mengambil wudhu di kamar mandi dan mulai ia rapatkan keheningan dengan menyalakan beberapa keran di bak mandi, mesin Cuci, dan beberapa mesin lainnya.



23. Bertafakur
selesai wudhu di bentangkannya sejadah itu dengan hati tunduk dan sejuk ia mulai takbir, dan hati yang masih separuh terluka, ia menikmati setiap gerakan dan bacaan sholat dengan khusu dan khidmat seperti ia belum pernah merasakan itu sebelumnya, ia tau bahwa Tuhan mengasihi dan Ingin mengembalikan Hambanya ke jalan yang lurus, sadar dalam setiap hempasan nafas ia ingat betul ia selalu sibuk dan jarang sholat di rumah. kadang pulang hingga larut malam dan setelah tiba di rumah suaminya sudah tidur. atau sebaliknya Suaminya pulang Ba’da Isya Aini sudah tidur kelelahan, setiap hari seperti itu tak ada ruang dan waktu untuk mereka bermadu kasih seperti yang dilakukan dulu. dengan riak-riak air mata yang menggenang di matanya meleleh jatuh ke tangan yang sedang bermunajat kepada Tuhan semesta Alam usai shalat dan berdo’a Aini mengambil Mushaf Alqur’an dengan Lirih ia baca, ia buka Surat.. Al-Fajr: 27-30
Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah. irji ii ilaa Rabbiki raadhiyatan mardhiyyah. Fadkhulii fii ibaadii wadkhulii jannatii

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan hati puas 

lagi diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu Maka

masuklah ke dalam surga-Ku.

            ia mulai menghayati ayat demi ayat, ia mengerti ayat yang ia baca sesungguhnya adalah petunjuk untuk nya, mengembalikan semua sekenario Tuhan untuk ia jalani sebagai Aktor protagonis yang kelak selalu berbuah manis. Aini tau bahwa kecintaan sang Kholiq tiadak batas, bahkan manusialah yang sering melupakan_NYA. Aini ingat pesan dari Pak Ary ginanjar ketika ikut ESQ empat tahun yang lalu tentang Hakikat Cinta. ia buka halaman 5 tentang Cinta adalah memberi, ia baca dengan mata yang sedikit kabur “dengan segala daya dan keterbatasannya seorang pecinta akan memberikan apapun yang sekiranya bakal membuat yang dicintainya senang. Bukan balasan cinta yang diharapkan bagi seorang pecinta sejati, meski itu menjadi sesuatu yang melegakannya. Bagi pecinta sejati, senyum dan kebahagiaan yang dicintainya itulah yang menjadi tujuannya”.
Cinta adalah menceriakan, seperti bunga-bunga indah di taman yang membawa kenyamanan bagi yang memandangnya. Seperti rerumputan hijau di padang luas yang kehadirannya bagai kesegaran yang menghampar. Seperti taburan pasir di pantai yang menghantarkan kehangatan seiring tiupan angin yang menawarkan kesejukkan. Dan seperti keelokan seluruh alam yang menghadirkan kekaguman terhadapnya.
Cinta adalah berkorban, bagai lilin yang setia menerangi dengan setitik nyalanya meski tubuhnya habis terbakar. Hingga titik terakhirnya, ia pun masih berusaha menerangi manusia dari kegelapan. Bagai sang Mentari, meski terkadang dikeluhkan karena sengatannya, namun senantiasa mengunjungi alam dan segenap makhluk dengan sinarannya. Seperti Bandung Bondowoso yang tak tanggung-tanggung membangunkan seluruh jin dari tidurnya dan menegakkan seribu candi untuk Lorojonggrang seorang. Sakuriang tak kalah dahsyatnya, diukirnya tanah menjadi sebuah telaga dengan perahu yang megah dalam semalam demi Dayang Sumbi terkasih yang ternyata ibu sendiri. Tajmahal yang indah di India, di setiap jengkal marmer bangunannya terpahat nama kekasih buah hati sang raja juga terbangun karena cinta. Bisa jadi, semua kisah besar dunia, berawal dari cinta.
Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudera kebaikan. Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang. Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan yang lebih baik. Cinta selalu berkembang, ia seperti udara yang mengisi ruang kosong. Cinta juga seperti air yang mengalir ke dataran yang lebih rendah.
Tapi ada satu yang bisa kita sepakati bersama tentang cinta. Bahwa cinta, akan membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk berbuat lebih sempurna. Mengajarkan pada kita betapa, besar kekuatan yang dihasilkannya. Cinta membuat dunia yang penat dan bising ini terasa indah, paling tidak bisa kita nikmati dengan cinta. Cinta mengajarkan pada kita, bagaimana caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi dan mempertahankan.
Tentang Cinta itu sendiri, Rasulullah dalam sabdanya menegaskan bahwa tidak beriman seseorang sebelum Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selain keduanya. Al Ghazali berkata: "Cinta adalah inti keberagamaan. Ia adalah awal dan juga akhir dari perjalanan kita. Kalaupun ada maqam yang harus dilewati seorang sufi sebelum cinta, maqam itu hanyalah pengantar ke arah cinta dan bila ada maqam-maqam sesudah cinta, maqam itu hanyalah akibat dari cinta saja."
Disatu sisi Allah Sang Pencinta sejati menegaskan, jika manusia-manusia tak lagi menginginkan cinta-Nya, kelak akan didatangkan-Nya suatu kaum yang Dia mencintainya dan mereka mencintai-Nya (QS. Al Maidah:54). Maka, berangkat dari rasa saling mencintai yang demikian itu, bandingkanlah cinta yang sudah kita berikan kepada Allah dengan cinta Dia kepada kita dan semua makhluk-Nya.
Wujud cinta-Nya hingga saat ini senantiasa tercurah kepada kita, Dia melayani seluruh keperluan kita seakan-akan Dia tidak mempunyai hamba selain kita, seakan-akan tidak ada lagi hamba yang diurus kecuali kita. Tuhan melayani kita seakan-akan kitalah satu-satunya hamba-Nya. Sementara kita menyembah-Nya seakan-akan ada tuhan selain Dia.
Apakah balasan yang kita berikan sebagai imbalan dari Cinta yang Dia berikan? Kita membantah Allah seakan-akan ada Tuhan lain yang kepada-Nya kita bisa melarikan diri. Sehingga kalau kita "dipecat" menjadi makhluk-Nya, kita bisa pindah kepada Tuhan yang lain.
Tahukah, jika saja Dia memperhitungkan cinta-Nya dengan cinta yang kita berikan untuk kemudian menjadi pertimbangan bagi-Nya akan siapa-siapa yang tetap bersama-Nya di surga kelak, tentu semua kita akan masuk neraka. Jika Dia membalas kita dengan balasan yang setimpal, celakalah kita. Bila Allah membalas amal kita dengan keadilan-Nya, kita semua akan celaka.
dalam hati Aini terus berdialog dalam hatinya apa yang di sampaikan pak Ary itu membuat ia menerobos kehidupan yang tanpa batas. setimpal ia membuka buku ESQ hal 34 yang mencoba menjelaskan Cinta, Aini kemudian membuka dan membacanya isinya adalah Cinta berpijak pada perasaan sekaligus akal sehat. Aini mencoba menyibak matanya dan melanjutkan membaca.
Miskonsepsi pertama yang ditentang Bowman adalah manusia jatuh cinta dengan menggunakan perasaan belaka. Betul, kita jatuh cinta dengan hati. Tapi agar tidak menimbulkan kekacauan di kemudian hari, kita diharapkan untuk juga menggunakan akal sehat.
Bohong besar kalau kita bisa jatuh cinta dengan begitu saja tanpa bisa mengelak. Yang sesungguhnya terjadi, proses jatuh cinta dipengaruhi tradisi, kebiasaan, standar, gagasan, dan ideal kelompok dari mana kita berasal.
Bohong besar pula kalau kita merasa boleh berbuat apa saja saat jatuh cinta, dan tidak bisa dimintai pertanggunganjawab bila perbuatan-perbuatan impulsif itu berakibat buruk suatu ketika nanti. Kehilangan perspektif bukanlah pertanda kita jatuh cinta, melainkan sinyal kebodohan.
Cinta membutuhkan proses !!! Bowman juga menolak anggapan cinta bisa berasal dari pandangan pertama. Cinta itu tumbuh dan berkembang dan merupakan emosi yang kompleks, katanya. Untuk tumbuh dan berkembang, cinta membutuhkan waktu.
Jadi memang tidak mungkin kita mencintai seseorang yang tidak ketahuan asal-usulnya dengan begitu saja. Cinta tidak pernah menyerang tiba-tiba, tidak juga jatuh dari langit. Cinta datang hanya ketika dua individu telah berhasil melakukan orientasi ulang terhadap hidup dan memutuskan untuk memilih orang lain sebagai titik fokus baru.
Yang mungkin terjadi dalam fenomena cinta pada pandangan pertama adalah pasangan terserang perasaan saling tertarik yang sangat kuat-bahkan sampai tergila-gila. Kemudian perasaan kompulsif itu berkembang jadi cinta tanpa menempuh masa jeda.
Dalam kasus cinta pada pandangan pertama, banyak orang tidak benar-benar mencintai pasangannya, melainkan jatuh cinta pada konsep cinta itu sendiri. Sebaliknya dengan orang yang benar-benar mencinta. Mereka mencintai pasangan sebagai persolinatas yang utuh.
perempuan itu menghembuskan nafas panjang,ada persamaan dengan apa yang di katakana Mba Imza kepadanya kemudian Aini meneruskan bacanya ke halaman berikutnya.
Bukan cinta namanya bila kita berkehendak mengontrol pasangan. Juga bukan cinta bila kita bersedia mengalah demi kepuasan kekasih. Orang yang mencinta tidak menganggap kekasih sebagai atasan atau bawahan, tapi sebagai pasangan untuk berbagi, juga untuk mengidentifikasi diri.
Bila kita berkeinginan menguasai kekasih (membatasi pergaulannya, melarangnya beraktivitas positif, mengatur seleranya berbusana) atau melulu mengalah (tidak protes bila kekasih berbuat buruk, tidak keberatan dinomorsekiankan), berarti kita belum siap memberi dan menerima cinta.
Cinta itu konstruktif hal ini berlaku untuk Individu yang mencinta berbuat sebaik-baiknya demi kepentingan sendiri sekaligus demi (kebanggaan) pasangan. Dia berani berambisi, bermimpi konstruktif, dan merencanakan masa depan. Sebaliknya dengan yang jatuh cinta impulsif. Bukannya berpikir dan bertindak konstruktif, dia kehilangan ambisi, nafsu makan, dan minat terhadap masalah sehari-hari. Yang dipikirkan hanya kesengsaraan pribadi. Impiannya pun tak mungkin tercapai. Bahkan impian itu bisa menjadi subsitusi kenyataan.
Penganut faham romantik percaya cinta bisa mengatasi masalah. Seakan-akan cinta itu obat bagi segala penyakit (panacea). Kemiskinan dan banyak problem lain diyakini bisa diatasi dengan berbekal cinta belaka. Faktanya, cinta tidaklah seajaib itu. Cinta hanya bisa membuat sepasang kekasih berani menghadapi masalah. Permasalahan seberat apapun mungkin didekati dengan jernih agar bisa dicarikan jalan keluar. Orang yang tengah mabuk kepayang-berarti tidak benar-benar mencinta-cenderung membutakan mata saat tercegat masalah. Alih-alih bertindak dengan akal sehat, dia mengenyampingkan problem. namun beberapa penulis seperti Pak Dudun parwanto menganalisis Cinta sebagai Konstan. Ya, cinta itu bergerak konstan. Maka kita patut curiga bila grafik perasaan kita pada kekasih turun naik sangat tajam. Kalau saat jauh kita merasa kekasih lebih hebat dibanding saat bersama, itu pertanda kita mengidealisasikannya, bukan melihatnya secara realistis. Lantas saat kembali bersama, kita memandang kekasih dengan lebih kritis dan hilanglah segala bayangan hebat itu. Sebaliknya berhati-hatilah bila kita merasa kekasih hebat saat kita berdekatan dengannya dan tidak lagi merasakan hal yang sama saat dia jauh. Hal sedemikian menandakan kita terkecoh oleh daya tarik fisik. Cinta terhitung sehat bila saat dekat dan jauh dari pasangan, kita menyukainya dalam kadar sebanding.
perempuan itu mulai terbawa oleh kata-kata penulis buku itu, tanpa henti ia teruskan membaca sampai hal 56.
Dalam hubungan cinta, daya tarik fisik penting. Tapi bahaya bila kita menyukai kekasih hanya sebatas fisik dan membencinya untuk banyak factor lainnya. Saat jatuh cinta, kita menikmati dan memberi makna penting bagi setiap kontak fisik. Kontak fisik, ketahuilah, hanya terasa menyenangkan bila kita dan pasangan saling menyukai personalitas masing-masing. Maka bukan cinta namanya, melainkan nafsu, bila kita menganggap kontak fisik hanya memberi sensasi menyenangkan tanpa makna apa-apa. Dalam cinta, afeksi terwujud belakangan saat hubungan kian dalam. Sedang nafsu menuntut pemuasan fisik sedari permulaan. ada yang bilang Cinta itu Buta, namun beberapa penulis Fiksi seperti karangan Ismail Marzuki menjelaskan;
Cinta itu buta? Tidak sama sekali. Orang yang mencinta melihat dan menyadari sisi buruk kekasih. Karena besarnya cinta, dia berusaha menerima dan mentolerir. Tentu ada keinginan agar sisi buruk itu membaik. Namun keinginan itu haruslah didasari perhatian dan maksud baik. Tidak boleh ada kritik kasar, penolakan, kegeraman, atau rasa jijik. Nafsulah yang buta. Meski pasangan sangat buruk, orang yang menjalin hubungan dengan penuh nafsu menerima tanpa keinginan memperbaiki. Juga meninggalkan pasangan saat keinginannya terpuaskan, hanya karena pasangan punya secuil keburukan yang sangat mungkin diperbaiki. Orang yang benar-benar mencinta memperhatikan perkembangan hubungan dengan kekasih. Dia menghindari segala hal yang mungkin merusak hubungan. Sebisa mungkin dia melakukan tindakan yang bisa memperkuat, mempertahankan, dan memajukan hubungan. Orang yang sedang tergila-gila mungkin saja berusaha keras menyenangkan kekasih. Namun usaha itu semata-mata dilakukan agar kekasih menerimanya, sehingga tercapailah kepuasan yang diincar. Orang yang mencinta menyenangkan pasangan untuk memperkuat hubungan. Selain berusaha menyenangkan kekasih, orang yang sungguh-sungguh mencinta memiliki perhatian, keprihatinan, pengertian, dan keberanian untuk melakukan hal yang tidak disukai kekasih demi kebaikan. Seperti seorang ibu yang berkata tidak saat anaknya minta es krim, padahal sedang flu. ini membuktikan semua rasa menjadi satu dan terpatri dalam lubuk sanubari yang sedang mencinta.



24. Tausiyah yang menakjubkan

             malam itu Aini tertidur dengan sangat nyaman dari biasanya ada rasa ketenangan jiwa yang masuk menyusup kedalam batinnya, jam menunjukan 02:00 pagi, Aini terbangun dari sejadahnya, ia menyibakan Tangan dan mengelus pipinya yang masih menempel di sejadah, di malam itu ia berkhidmat dan menyempurnakan batinnya kepada sang pembolak hati dimana ia sadar dengan segala kekurangan dan Iman yang tidak pernah ia nikmati, alangkah indahnya menjadi muslimah, hal ini ia rasakan ketika pertama kali mengenakan hijab dan mulai mengenal dunia Islam secara spesifik, ia tanamkan kuat-kuat nasehat dan ajaran Rosul yang di sampakan melalui perantara Mba Imza sampai ia benar- benar memutuskan untuk mengambil konsentrasi studinya di PTIQ waktu itu, seusai Sholat tahajud ia mengambil HP di dalamnya ia putar kajian yang pernah ia dengar di kampus dulu, ia rebahkan badan dan mulai mendengarkan Tausyiah Almarhum Ustd Jefry al bukhori  Basahilah lidahmu dengan dzikir” duh.. sudah berapa kali saya denger hadist ini (dialognya dalam hati sambil memaknai ucapan ustad itu) tapi …waktu yang digunakan untuk berdzikir masih sedikit, padahal Allah berfirman “AKu bersama hamba-Ku ketika dia mengingat-Ku”. Allahu Akbar. Luar biasa, mencoba untuk melakukan variasi dalam berdzikir kenapa tidak ? La illahaillallah adalah sebaik-baik dzikir …wueshh pikiran Aini pun mulai menerawang balasan apa yang akan Allah kasih jika  mengucapkan Laillahailallah 1x apakah senilai uang 1 juta,10 juta atau 100 juta, lebih, pasti lebih dari itu di hadapan Rabbul Izzati. Subahannallah.  Rugiii…..berapa sudah waktu yag hilang, uang yang hilang, istana yang tertunda di surga nanti – InnaLillahiwainaillaihi’irojiun. Ga papa kan berdagang dengan Allah. Imam Al Ghazali dalam risalahnya Al Asma Al Husna menuliskan kecintaan kepada Allah bisa ditingkatkan dengan tiga cara (suara Ust. jeffry tampak karismatik di dengar kemudian ia meneruskan penjelasannya) ada 3 cara untuk meningkatkan kecintaan kita terhadap Allah SWT ;
(i) mengingatnya (ii) mempercayainya (iii) mempertahankannya. Begitu pula Pak Ary Ginanjar dalam bukunya “Rahasia membangun kecerdasan Emosional dan Spiritual” beliau menulis bahwa seorang hamba bisa menjadi manusia yang luar biasa jika mau meneladani sifat-sifat Allah dengan cara mengingat-ingatnya dan meneladani sifat-sifat-Nya. Aini langsung kaget ketika suara Ust. jefry menyebut Nama Pak Ary, betapa tidak Buku yang ia pegang tadi malam sebelum tidur adalah Buku pemberian Pak Ary dan kini Ustad jefry menyebut ulang dan menejelaskannya secara Rinci.
Sesungguhnya antara hamba dengan Rabbnya ada 2 panghalang ; (i) ilmu dan (ii) ego (Aku). penjelasan itu membuat Aini semakin kuat,
……..Perasaan jenuh, bosen, mandek atau tidak ada peningkatan terkadang datang pula, tapi ingat pesan “yang mencari akan menemukan” ada secercah harapan untuk mencari lagi, baik itu dari buku, artikel baik itu di majalah atau di internet, seminar , maupun taklim - apa saja. Alhamdulillah masih ada rasa haus yang belum terpuaskan dengan minuman yang standard. Mencoba untuk flash back ke zaman para sahabat yang memiliki tingkat keimanan yang mempesona dan berdecak kagum setiap kali membaca kisahnya, sudah tentu pengetahuan mereka tentang surga, neraka, negri akhirat dan segala sesuatu yang terjadi didalamnya berbeda dengan pengetahuan saya dan itu mungkin yang membuat tingkat keimanan saya seolah tak bergerak.
Ego, Aku “barang siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya dan barang siapa yang mengenal dirinya maka tidak ada waktu untuk mencari kesalahan orang lain”. Ada perasaan aneh menghampiri ketika mencoba berlama-lama bercermin. sudah berapa jauh saya mengenal diri saya dengan baik dan sudah berapa lama saya menyadari begitu sangat rentannya melakukan kesalahan setiap detik.
Menjadi milik-Nya bukan sebaliknya menjadikan Allah sebagai milik saya dan mengikuti semua keinginaan saya – Naudzubillahiminzalik, kebodohan apalagi yang saya lakukan berlarut-larut. STOP. “Ya Rabb biarkan aku menjadi milik-Mu selamanya…menyatu bersama-Mu, biarkan jiwa ini terbakar oleh cahaya-Mu..cinta-Mu”. lirih suara Ustad jefry membuat Aini berlinang dalam klopak matanya yang sayup.
Teringat kembali firman Allah SWT “Sesungguhnya Aku mengikuti perasaan hamba-Ku terhadap-Ku” kenapa tidak saya coba untuk mengatakan ke diri saya sendiri dengan menggunakan 3 metode dari imam Al Ghazali diatas : “saya selalu bersamaMu ya Allah” (bukannya saya ingin bersamaMu), “saya selalu mencintaiMu ya Rabb” (bukannya saya ingin mencintai-Mu), “saya selalu merindukan-Mu ya Tuhanku”. Ada perasaan puas yang mengalir, seolah-olah sesuatu yang sudah tercapai dan tinggal menikmati saja perjalanan hidup bersama Al Malik, Al Aziz.
Air mata Aini meleleh di pipinya, sesekali ia terseguk dan malu terhadap Allah yang selama ini ia campakan dan kini perempuan itu mulai sadar.
mendengar tausyiah Ustad jefry di MP3 HPnya, membuat Aini merasa haus ia rogohkan tangan ke atas meja, mengambil gelas dan menuangkan air dengan tetap suara tausyiah itu tanpa sedikitpun ia tinggalkan. kemudian ia melanjutkan mendengar dengan penuh seksama
“Ketika kita naik mobil angkutan umum di tengah kemacetan lalu lintas, maka kita dituntut untuk bersabar. Kita tak boleh mencaci si sopir, apalagi membentak-bentak. Ketika kita berdesak-desakkan di kereta api kita juga dituntut sabar. Pada saat itu kita tidak boleh marah, kendati mungkin kaki kita terinjak.
Demikian pula di saat negeri ini dibanjiri air yang melimpah kita pun harus sabar. Karena sumpah serapah yang kita arahkan kepada penguasa pun tak akan mengurangi volume banjir yang merendam hampir 30% wilayah Indonesia. Nah, dari air itulah kita tahu bahwa kehidupan dan kematian itu berasal dari air. Jadi sabar memang tak ada batasnya, sebagaimana iman itu sendiri.Pantaslah jika dalam sebuah kesempatan Nabi Muhammad SAW berpesan kepada kita untuk selalu bersabar (tabah dan ikhlas menerima kenyataan/taqdir). Bahkan beliau mengatakan,"Sebagian dari iman adalah sabar". Rasulullah yang mulia sendiri, setiap ditimpa musibah apa saja, tak pernah mengeluh apalagi sampai menyalah-nyalahkan orang lain. Entah itu pemerintah, tetangga, atau orang lain. Anehnya, kita tak pernah menyalahkan diri kita. Padahal, jangan-jangan kesalahan negeri ini juga karena kesalahan kita yang tanpa sadar kita turut menyumbangnya.
Kenapa kita diperintah untuk bersabar oleh Allah? Inilah terapi psikologis canggih yang diberikan Allah kepada kita. Melalui sikap inilah kita disadarkan bahwa manusia itu tak mampu mengelola hidupnya secara pasti. Dialah Allah yang mengurus segala urusan kita. Itulah makna kita membaca Alhamdulillahi Rabbil 'alamien. Artinya, bahwa yang mengatur segala urusan kita itu adalah Dia. Dengan demikian, bersama sabar kita menghadapi gejolak hidup itu dengan tenang, rileks.
Untuk menjadi seorang penyabar tidak mudah, memang. Tapi Allah melalui ayat-ayat-Nya, baik yang kauni maupun qauli mengajak kita untuk menjadi ash-shabirin (kelompok orang-orang yang sabar). Lihatlah betapa sabarnya seekor unta yang berjalan di padang pasir sembari membawa beban berat di punuknya. Simak juga kesabaran kerbau atau sapi ketika dengan tekunnya membajak lahan-lahan persawahan. Padahal kalau Allah mau, binatang-binatang itu menolak diperlakukan seperti itu oleh tuan-tuannya.
Kita ingat kisah tentang robohnya kuda Suraqah bin Naufal saat mengejar-ngejar Nabi untuk dibunuh. Kita ingat tenggelamnya Fir'aun bersama serdadunya di laut Merah ketika mengejar-ngejar Nabi Musa dan pengikutnya. Dan kita juga ingat selamatnya nabi Yunus dari telanan ikan hiu. Kalau saja Allah mau, tentu Nabi Muhammad SAW sudah dibunuh Suraqah, Musa sudah dipenggal oleh algojo-algojo Fir'aun dan Yunus tidak dikeluarkan lagi dari perut ikan buas itu.
Maka sangat wajar bila Allah mengabadikan mereka dalam al-Qur'an sebagai al-shabirien dan al-shadiqien, yakni orang-orang yang membenarkan ayat-ayat-Nya. Kuncinya apa? Mereka sabar dalam menjalani hidup ini, tanpa berharap materi di dunia.
Para kekasih Allah itu meneladani sifat Rabb mereka, Al-Shabur, salah satu al-Asma al-Husna yang Allah miliki. Saudara-saudaraku yang dirundung derita, dan mereka yang sedang ditimpa nestapa...........Bersabarlah, karena Allah bersama orang-orang yang sabar. cukup sekian dari hamba yang dhoif atas nama Jefry albukhory memohon ampun kepada sang maha kholiq semoga tausyiah ini bermanfaat untuk kita semua. wassalamu alaikum warohmatullohi wabarokatuh. (sampaian penutup)
              Aini tetap mematung dan terkesima dengan apa yang di sampaikan oleh ustad Jefri walaupun hanya perantara suara MP3. namun sosok beliau membiuat Aini jatuh cinta dan membuat Aini terperengkuh dalam kata- kata yang penuh karismatiknya.
malam itu semakin larut, ia berjanji dalam hatinya akan melaksanakan semua kewajibannya sebagai Istri dan Hamba Tuhan. ia akan memeperlakkan madunya sebagai sodara, walau memang berat tapi sebagai insane yang ingin mencapai kesempurnaan Iman ia harus berkorban, walaupun korban perasaan sekalipun.

Kriiiing...kriiiing.. suara handphone keras nyaring  Aini tersontak dan bergegas mengambilnya dari arah pojok sejadah tampak layar LCD, private number, Siapa yah, tannyanya dalam hati.

Halloo… Assalamu alaikum
Iya Halloo…waalikum salam
Mba, aku sumi…. Mas Arief nya ada di situ?
Aini kaget bukan kepalang, ternyata madunya menelpon tanpa di duga, ia mulai kikuk dan heran kenapa ia menanyakan Mas Arief padahal malam ini adalah malam jatahnya dia. Aini mulai menjawab dengan perasaan yang di paksa tenang.

“lho bukannya malam ini jatah situ ya, ??”
“ia mba, tapi sudah dua hari mas Arief tidak disini, aku pikir ada di rumah Mba.
jawabnya dengan sedikit kecewa. “tidak ada” jawab Aini dengan singkat.
yasudah dech mba, nanti kalau kesana tolong sampaikan hari rabu depan Mas Arief harus mengantarkanku ke Dokter kandungan, terimakasih ya Mba, Assalamu alikum”.
“Waalikum Salam”. Aini lagi-lagi tersonatak dengan bathinnya, ia tidak percaya secepat itu madunya hamil. ia ingin berontak. Berontak karena ada rasa cemburu yang mendalam,dalam hati, Ingin ia berteriak, menyuarakan rasa cemburu ini. Rasa sesak yang bertubi dalam lubuk hati. Sesak yang terus menyerang dalam diri hingga bagaikan menghambatnya untuk bernafas. Tetapi, sungguh Allah telah memberikan kekuatan yang Maha Dahsyat, Kekuatan yang diberikan kepada seorang istri yang mengikhlaskan, dan melepaskan saparuh kasih sayang suaminya untuk dibagi dengan wanita lain.
***


25. Bertengkar berbuah nikmat.

05;00 wib, seperti biasa seusai sholat subuh Aini mengambil mushaf dan membuka lembaran yang sudah ada tandanya, suara serak basah menerobos kesunyian subuh hingga fajar menjelang, seuasai baca alqur’an ia duduk dan selonjoran melemaskan otot-otot kaku di tungkai kakinya sekaligus menantikan duha, kamar kecil itu Nampak damai, tenang walau tanpa Arief suaminya.  namun tanpa sepengetahuan Aini, Arief datang dengan pintu tak di kunci akhirnya Arief Masuk, badannya lemas, hatinya terluka amat sakit bahkan mungkin lebih sakit daripada yang Aini rasakan sekarang, betapa tidak?. malam itu ia pulang ke rumah sumi istri mudanya, dan sumi menceritakan bahwa ia telah hamil.
Arief heran dan tidak percaya, sesingkat itukah ? atau ini hanya sandiwara belaka yang di buat oleh Sumi agar dirinya lebih di Cintai dan di sayangi, Arief bingung dan tanpa komentar dengan tubuh yang lemas ia langsung masuk kamar mandi, kemudian makan tanpa sedikitpun ia bahas tentang kehamilan istrinya Sumi. malam itu semakin larut dan sudah masuk pagi 03;00, selisih 2 jam saat Sumi menelpon Aini dan menanyakan Keberadaan Arief, pagi itu Arief tidak bisa tidur, hatinya serasa di hantui dan merasa ada teka-teki yang belum ia pecahkan, tiba-tiba wajah Aini muncul di benak Arief , niat kuat ia untuk menelpon istrinya Aini malam itu membuat pikirannya tergopah-gopah mencari handphone, ia bangkit dari tempat tidurnya menuju Almari, 5 menit sudah namun tidak di temukan Arief melihat kotak di sudut Almari itu, Merasa ada yang Aneh dengan Kotak itu karena baru kali ini ia melihat Kotak itu ada Di Almari, Arief mengambil dan membukanya tanpa di duga sebelumnya , setelah ia buka sepotong kaos putih ia yakin itu bukan miliknya, kaos laki-laki . tapi dengan rasa heran kenapa kaos ini ada disini dan punya siapa? punya sumi? aahh,, tidak mungkin rasa yang mengganjalnya membuat Arief bertanya dan membangunkan Sumi yang tertidur .
“Mah..ini kaos punya siapa”?
Sumi tidak mendengar pertanyaan Arief, rasa dingin dan ngantuk tak membuat sumi bangun.
“Mah.. Mah.. banguuun,”
“ada apa sih”.. jawab Sumi dengan setengah sadar.
“bangun cepetan,,, ini kaos punya siapa”? Arief melemparkan kaos itu kearah tempat tidur Sumi. sumi pun akhirnya bangun dan memegang kaos itu.. aaah dengan sontak kagetnya Sumi langsung bangun dari tidurnya dan meletakan kaos itu di bawah bantal.
“kenapa  kamu kaget”?
 “nggak”..itu..itu cuman…”
“itu kaos laki-laki, apa maksudmu menyimpannya di kotak itu? jawab? bentak Arief dengan nada tinggi.
“jangan berbohong kepadaku” tegas Arief yang kedua kali”.
Sumipun akhirnya buka mulut dengan didesak Arief dan di ancam Cerai jika tidak berkata jujur. Sumipun tidak ada pilihan selain mengatakan yang sebenarnya bahwa kaos itu adalah milik Pacarnya Dulu sebelum menikah Dengan Arief, Namun Sumi tidak terlalu suka dengan Pacarnya itu karena sering Mabok, Judi dan sering Berbuat Kasar. Waktu Itu Ketika pertama kali berkenalan dengan suaminya sekarang, Sumi merasa tenang dan Segala hal ia lakukan demi mendapatkan Arief. namun suatu ketika Ia menunggu lamaran dari Arief, sumi tidak sabar dan hasrat sexnya ia lampiaskan kepada Pacarnya. begitulah pengakuan Sumi dengan isak tangis yang mendalam, dan janin yang ada dalam perutnya adalah hasil pada malam itu ia merasa menyesal dan meminta maaf kepada Arief dengan Bersimpuh.
mendengar pernyataan itu Arief lemas dan matanya berkunang-kunang, setega inikah ia diperlakukan oleh wanita yang ia anggap baik. tanpa kompromi dan tekad bulat Arief menceraikan Sumi walaupun Tangisan darah sekalipun perbuatan itu tidak akan mendapat setitik maaf dari lubuk hatinya. Arief kemudian keluar dengan hati terluka dan menyesal lebih-lebih menyesal kepada Aini yang pernah ia campakan Cintanya hanya kerena tidak bisa mendaptkan keturunan. Tak terasa air mata lelaki itu mengalir, dadanya sebak kerana rasa terharu yang teramat sangat.  Tangisan itu mulai gugur dalam isak tangisannya, semua kebaikan Aini yang selama ini mulai terbayang di benak fikiran Arief.  Wajahnya yang teduh bagaikan hijaunya pohon dikala teriknya matahari , pengorbanan serta pengabdiannya yang tiada putusnya, dengan suaranya yang lembut, tangisannya yang mengalirkan perasaan haru dan cinta. 
Benar cinta itu datang dalam keharuan yang ia rasakan. Di saat keharuan yang dirasai, ada hawa sejuk yang turun dari langit dan menusuk masuk dalam jiwa. Pada ketika itu, wajah bidadari sekalipun pudar ...dengan cepat Arief Segera mengejar waktu untuk membuktikan cintanya pada Aini. Membuktikan rindunya  yang tiba-tiba memenuhi setiap rongga dada dan nafasnya. 
Air matanya berderai-derai ia pecut laju langkahnya dengan diringi deraian air mata yang tiada hentinya membasahi setiap perjalanan pada saat itu tak peduli lagi orang di bsekitar, merasa ingin segera sampai dan meluahkan semua rasa cintanya pada wanita yg berhati mulia. mungkin benar kini ia menyadari betapa jauh perlakuan Sumi dan Aini selama ini, Sumi yang ia anggap baik dan punya potensi untuk meneruskan garis keturunannya malah berhianat dan tidak pernah jujur selama menjadi istrinya, sedangkan Aini Cinta dengan segala pengorbanan dan Anugerah yang Allah berikan kepada Arief meski kehidupan membuatnya malu dan rasa keinginan besarnya untuk mendapatkan keturunan membuat Arief gelap,
Arief melangkah dengah langkah gontai dan berat rasanya kepala, memang hal ini akan sedikit akan membuat Aini tambah bingung dan bisa jadi ia tidak akan menerima Arief di rumahnya lagi, namun ia merasa lega karena kedustaan yang selama ini tersimpaan rapi kini terbongkar ,kini saatnya Arief mengatakan yang sebenarnya kepada Aini. ia yakin Aini akan menerima maafnya. malam itu juga ia berangkat ke rumah Aini jaraknya cukup Jauh. setibanya di rumah Aini tampak langit sudah berbinar terang. Arief masih berdiri di depan rumah Aini yang tak lain Rumah yang sama-sama ia bangun dulu dari keringat, Cinta dan kasih sayang. tetesan air mata jatuh tak terasa,sebak menyeret sesak didada menghimpit rongga-rongga nafas  hingga kelu bibir dan raga, ia tidak tau harus berkata apa kepada Aini. lelaki  itu mengetuk pintu beberapa kali namun tak ada suara yang menyahut, sejenak ia hempaskan Nafas dalam-dalam sambil dari celah lubang kunci, namun Aini tidak juga Nampak. “Apa Aini masih tidur”? tanyanya dalam hati.
dengan hati penasaran  ia pegang gagang pintu berbahan tembaga itu ah dengan kaget pintu itu tak dikunci. perlahan pintu itu ia buka “kreeek.. suara pintu menyuguhkan sunyi ke dalam rumah, tanda hening, samar-samar bayangan dari cermin yang di belokan pas ke kamar Aini, tampak dengan lembut suara terdengar  dengan hijab putih bak kapuk seoarng wanita tandasnya dalam pecahan lamunan Arief. ia wanita itu adalah Aini, Istrinya yang sedang Sholat Duha. guratan –guratan sendu mulai tampak dari wajah Arief riak-riak genangan air mata meleleh di pipinya tampak seorang Istri yang sholehah yang pernah ia Campakan yang pernah berjuang bersama dan yang Pernah rela membagi Cintanya untuk Wanita lain ia melihat Aini dari pantulan Kaca sedang berdiri cantik berbalut mukena putih menghadap pintu kamar yang terbuka. luluh seketika Perasaan Arief bagaikan lilin menjaga malam. lelaki itu duduk di samping dinding dekat pintu kamar yang terbuka matanya menggeliat ke arah langit-langit dengan isak tangis yang di jerat sebak dalam dadanya.
“assalmu alaikum waroh matullah” terdengar suara lembut Aini menutupi sholatnya. lelaki itu belum bisa memberanikan masuk kedalam kamar  selang beberapa detik sebelum panjatan Do’anya ia akhirkan Aini bersujud dan menangis kepada Tuhan sejadi-jadinya, “Ya ROBB” teriak Aini kemudian bungkam sesaat. Semakin kuusir semakin ia hadir, Semakin kulupakan, semakin ia membelenggu fikiran, kini Biarpun jauh kularikan diri, Namun ia tetap melingkar di tangkai naluri. ILahi,  berilah hamba ketabahan dan kekuatan” jeritan keras Aini dalam Hatinya.

Arief yang duduk terhalang di dinding itu merasakan Getaran yang hebat dengan tiba-tiba seperti di guncang dalam hatinya, Arief merasakan betul apa yang di alami Istrinya saat ini laksana salah satu badan yang tersakiti maka badan yang lain pun merasakan. lelaki itu merangkak mencoba menghampiri pintu kamar yang terbuka dengan maksud untuk meminta maaf kepada Aini sekaligus ia ingin menjalin hidup baru dengan benar-benar mengikuti tuntunan dari Rosul buwkan mengikuti hawa nafsu yang selama ini ia jadikan pemimpin dalam Rumah tangganya.

“Assalamu alikum Istriku”! suara serak basah Arief memecah keheningan Masuk ke kamar itu. Dalam sujud Aini terperanjat, kaget bukan kepalang,  jantungnya seakan jatuh dibanting.

“waalaik…um sal…am” jawab Aini dengan terputus- putus dengan Mata terbelalak. Aini menyibakan mata perlahan-lahan dari genangan Panjatan Doa’nya seraya bangun dari tempat sujudnya di ujung sejadah yang terbentang kedepan pintu kamar, lelaki itu langsung duduk berhadapan menatap Aini dengan penuh harap sepontan dengan tatapan lurus itu Aini langsung mual melihat Arief entahlah rasa mual itu berbeda dengan rasa mual masuk angin, rasa mual yang Aini rasa seolah rasa sakit hatinya dan rasa cemburu yang mendalam kepada lelaki yang dihadpannya, Ia tutup mulutnya dengan tangannya dan tanpa sepatah katapun terucapa dari Aini.

walaupun berkali kali Arief meminta maaf dan bersimpuh di hadapan Aini , tetap saja mulut Aini terasa terkunci untuk memaafkan walaupun dalam hatinya perasaan itu bercampur aduk, ada rasa bahagia karena Suaminya telah kembali, ada rasa kecewa dan rasa mual yang mencokol dalam isi perutnya terasa ingin mengeluarkan isi perutnya semua dan ada rasa rindu yang berkecamuk ia menangis dan ingin segera memeluk suaminya itu serta memaafkannya.
Arief berteriak keras  sambil menghantamkan kepalanya ke tembok sebagai rasa penyesalan atas perbuatanya.

“dug dug dug (suara hantaman kepala berkali kali terdengar amat keras ke tembok). Ainiiii… aku minta maaf… tolong maafkan akuu” jerih payah suaranya keluar bercampur isak yang mendalam.
Aini menyaksikan dengan bisu  mata yang tak lepas untuk berkedip dengan riak-riak mata yang bergelombang, Aini memaksa diri dan memboyong raga serta tangannya dan merangkul Arief yang bersimpuh di hadapan Aini.

“Maaas,, aku sudah memafkanmu walaupun sebenarnya sulit untuk aku terima kenyataan ini” Suara pecah Aini memecah kesunyian, mendengar pernyataan itu Arief bangkit perlahan kepala yang awalnya bersujud kini mulai ia angkat sejajar dengan Aini. “Istriku, apakah aku tidak salah dengar?” Arief meyakinkan apa yang telah ia dengar baru saja dari mulut Istri Tercintanya, Aini. Aini mengangguk pelan tanda ia memaafkan dan Mata keduanya bertemu, terlihat di mata keduanya ada sebuah kerinduan yang amat dalam antar Mereka, frekuensi  getaran halus itu masuk menyusup kedalam hati Arief dan Aini  sampai lidahpun kelu untuk berkata. Wajah Aini tampak sangat Cantik walaupun tidak secantik dulu terasa ada aura ketulusan yang memancar darinya. Dan ada pesona yang mampu membuat hati  terkudetakan dalam penjara hati yang masuk begitu saja. dengan nada gemetar dan nafas terbata –bata “sayang, cukup lama aku merindukanmu” Arief mengeluskan tangannya di wajah yang bersih itu yang masih berbalut mukena persis pertama kali Arief melakukannya saat pertama pengantin sepuluh tahun lalu dengan mata berkaca- kaca. sebuah keberanian baru saja diungkapkan, genangan air mata Aini pun mengalir hangat begitu saja, dengan isak haru bisu yang ia coba sembunyikan dalam- dalam, sungguh pergulatan batin yang tidak bisa di bendung dalam hatinya, kali ini Arief memeluk Aini seperti pertama ia memeluknya di hari pengantinnya dulu. Arief memeluk erat tubuhnya dengan badan gemetar bercampur Air mata haru yang tak cukup diungkapkan oleh kata-kata.
Hari itu adalah hari yang paling di tunggu Aini dan hari kebahagiaan yang tercipta dari sebuah hasil kesabaran dan keistiqomahan Aini, Arief berikrar kepada Aini akan selalu setia, dan menggapai syurga bersama-sama, Ia yakin anak adalah titipan, Jika Allah mengizinkan Titipan itu kepadanya maka Ia harus menjadikan dirinya lebih bersyukur, dan kalaupun tidak, bukanlah perkara yang paling besar. Tanggung jawab yang paling besar dibenak Arief kini adalah menjadi Suami Idaman yang dengan ketaqwaannya membangun rumah tangga yang sakinah mawadah warrohmah.



26. Mozaik Cinta

Lama rasanya hari-hari seperti ini di nantikan Aini dan Arief Mereka seperti berpacaran kembali,rasa sayanggnya semakin hari semakin besar.
Keesokan harinya Aini minta Izin kepada Arief untuk ke rumah Mba Imza ia dapat kabar bahwa mba Imza Sakit dan Aini ingin menengoknya. Aini seperti biasa berangkat sendiri dengan Sepeda yang ia kayuh, selain ingin menengok ia ingin menceritakan Kisah rumah tangganya kini sudah kembali seperti dulu, pagi sekali ia berangkat. Arief yang sibuk dengan job barunya membuat buku panduan untuk referensi bahan ajar di sebuah kursus ternama di Jakarta melalui tangan pak Candra seorang Pudir STIBA IEC yang dulu Arief mengajar disana, namun kini ia tidak mengajar lagi tapi lebih focus ke job barunya, ia kerjakan di rumah karena semua pasilitas kantor di berikan oleh Pak Candra.
“Mas aku mohon izin ke rumah mba Imza, kata Teguh ia sakit serius, o ya.. kopinya sudah aku buatkan di meja”. Kata Aini.
“ia, sayang, aku anter ya?”.
“Nggak Usah mas, Mas kan banyak Kerjaan”.
“yaudah hati-hati ya sayang”. Arief mencium kening Aini dan Aini sambil mencium tangan Arief.
Beberapa saat kemudian, Arief merasa sedikit pusing dengan job barunya serta ada beberapa surat kontrak yang harus ia tanda tangani, lelaki itu hendak mengambil bolpoint di Kamar karena di meja kerjanya tak satupun bolpoint yang nganggur. Beberapa langkah menuju kamarnya tidak sengaja ia menemukan sebuah buku mini,di sebuah kotak kecil yang bersampingan dengan ATK tanpa berfikir panjang ia ambil ternyata hanya sebuah diary, dalam benaknya mungkin Diary Aini, ia coba membuka dan membacanya, tulisan Aini itu tampak jelas untuk dibaca dengan tinta hitam berkertas putih yang bergaris biru


 “mudahnya kau campakkan aku hanya karena aku tak mampu memberiku seorang anak Tanpa beban sedikitpun, kau kenalkan dia sebagai sosok yang bisa kau harapkan mampu memuaskan impianmu.  Awalnya sulit menerima Naskah Tuhan  ini. Aku masa lalu, dan perempuan itu adalah masa depan, dimana harapanmu bertumpu. Sakit, perih, saat aku tak bisa meraihmu karena eratnya pelukannya. Putus asa, akupun coba meraih jalan terburuk yakni melepasmu. Dalam diam kucoba bertahan, karena kutahu bahwa hidup tak hanya soal menang dan kalah. Hidup adalah perjuangan sampai titik darah penghabisan untuk meraih kebahagiaan yang hakiki. Kini dan nanti, aku akan mencoba berdamai dengan hati yang kian lara. Biarlah, meski berat kan kucoba merawat luka diri yang mungkin hanya bisa sembuh oleh hadirmu. Sungguh aku merasa malu, jika tak bisa menjadikan ujian ini sebagai celah untuk menggapai ridho_Nya. Kini di setiap waktuku, aku mencoba hapus gelisah dengan lantunan doa dan pengharapan untuk keutuhan rumah tanggaku. Hari berlalu bulan berganti menyongsong tahun-tahun berikutnya. Aku tetap berada diposisi yang sama, menanti dengan penuh harap akan datangnya keajaiban. Suamiku masih asyik dengan impiannya, karena wanita itu tak pernah menyerah memberikan harapan palsunya kepada suamiku Tak ada angin, tak ada hujan, mendadak dia bersimpuh dengan berurai air mata dihadapanku. Aku hanya bisa membelai punggungnya perlahan sembari bertanya, apakah gerangan yang membuatnya serapuh ini. Dia tak mampu berkata apapun kecuali larut dalam isakan tangisnya sembari memohon agar aku mengampuni khilafnya. Perlahan aku memaksanya untuk jujur tentang perasaannya.

“Ampuni kebodohanku selama ini, Aini” katanya sembari membenamkan kepalanya dipangkuanku. Kuhela nafas perlahan. Sejenak kucoba menghapus luka hati yang sudah dia torehkan dihatiku. Mendadak rasa sakit kembali terasa manakala kenangan pahit itu menari dipelupuk mata. Sejujurnya hatiku sangat kecewa dan terluka, namun melihatmu selemah ini, aku jadi tidak tega untuk membalaskan rasa sakit yang sudah lama kupendam. Kutuntun tubuhnya menuju ke ranjang. Setelah emosinya redam, aku coba menelisik ke dalam hatinya. Dia hanya tersenyum seraya membelai lembut rambutku. Penyesalan terlihat jelas diwajahnya, “Istriku maukah kamu memberiku satu kesempatan lagi?” ucapnya dengan suara parau.
“Kesempatan itu selalu ada, Mas. Asalkan kamu janji tidak mengulanginya lagi,” jawabku dengan mata berkaca-kaca.
Kulihat dia menganggukkan kepalanya perlahan tanda setuju dengan persyaratan yang kuajukan. Setelah dia sedikit tenang, aku baru mengerti masalah apa yang tengah menimpanya hingga dia begitu terluka dan kecewa. Ternyata perempuan nakal itu tidak pernah berubah meskipun sudah menjadi istri dari suamiku. Kemarahannya semakin memuncak menyebutkan bahwa anak-anak yang di kandungan perempuan itu, bukanlah darah dagingnya.  Aku tidak tahu lagi apakah harus tertawa atau menangis. Yang jelas, ada rasa lega dan syukur yang tak hentinya menyeruak manakala senyum kembali membias diwajah keluargaku. Lara hati yang kurasakan selama beberapa tahun terakhir ini serasa menguap begitu saja.

Arief tidak sanggup melanjutkan untuk membacanya, Rasa Sakit yang di alami Aini kini benar- Benar Arif rasakan dan sudah membuat hatinya pilu, Arief menghempaskan nafas dalam- dalam seraya menenangkan diri, walaupun laki-laki pantang untuk menangis tapi kali ini ia menangis terisak –isak, rasa sebak dalam dadanya mengguncang setelah separuh Diary itu ia Baca.

***

Semakin hari semakin ia jatuh Cinta kepada Aini, benar- benar Jatuh Cinta yang amat dalam, Rasa Cinta yang terbungkus Oleh kepingan-kepingan hidupnya yang pait, kepingan-kepingan perjalanan Kisah rumah tangganya yang amat penuh Ujian, Pengorbanan, haru, Kecewa, dan Cinta Namun Kini ia melihat seperti Kepingan-Kepingan yang Manis yang di tempelkan pada Naskah Kehidupan yang Amat Rapi, Bahkan Mozaik Kerajinan tangan Seniman hebatpun tidak seindah Mozaik Kehidupan Arief dan Aini, Indah pada Akhirnya, dan Kisah ini Arief Tuangkan kedalam sebuah Tulisan Fiksi “MOZAIK CINTA” inilah sebuah judul Novel yang Arief persembahkan untuk bidadarinya.





Duhai Bidadariiku
aku ingin engkau tempat terakhirku
singgah dalam hati
penyejuk Imanku saat gontai
pelipur lara dalam kegamangan
Segenap Cinta yang mampir dalam tubuhku
adalah syahwat dan kau tutupi itu
adalah Kasar dan kau lembutkan itu
adalah  Amarah dan kau tenangkan itu
Duhai jelita pencipta rasa
Aku ingin mencintaimu seperti Ali kepada Fatimah
Sederhana, namun Istimewa
Seperti habibi kepada Ainun
Prahara namun Anggun setia
Tuhan telah takdirkan engkau untuku
Menjadi istri yang sangat mulia, nan Pesona
Engkau Bidadari
Yang lama aku nanti
(aef-sugihartoni)

Waktu bergulir Cepat kemesraan semakin tambah pada keluarga Aini dan Arief, apalagi dengan Hadirnya seorang bayi yang dinantikan, Sungguh Kuasa Allah, Arief tak henti- hentinya bersyukur dan bersimpuh sujud dalam doanya  sebagaimana doa nabi hamba pilihan Allah dalam Al-Qur’an,

Rabbana hab lana min azwaajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqiina imaama!

 Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa!

“Robbana atina fiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah waqina adjabannar!. Amin……


Percetakan Negara- Jakarta, 20 Juli 2015
Penulis
Aef sugihartoni









Biodata Penulis


Jalan Percatakan Negara 7 no 51 ♦ Jakarta Pusat

T: 085885118807   ♦   E: aefsugiharvardtony434@yahool.co.id


PERSONAL INFORMATION
Name                       : Aef Sugihartoni
Place, Date of Birth : BOGOR, 07 May 1993
Gender                     : Male
Marital Status          : Single 
Citizenship              : Indonesian 

EDUCATION

Elementary School : MI PUI Bogor, 1999 – 2006 
Junior High School : SLTP 1 Nanggung-Bogor, 2006 – 2008 
Senior High School : SMA Terpadu ABI Bogor, 2008 – 2011
College                    :  ABA Prawira Martha (D3)–Jakarta, 2011-2014
                                   STIBA IEC ( S1)–Jakarta, 2015- now

AWARDS

2008  : The Winner of School Debate Competition
2009  : Winner of Art Competition

ORGANIZATION EXPERIENCES

2009-2011  : Head of Boy Scout (ABI)
2011-2013  : Head of BEM (ABA Prawira Martha)
2008- 2009 : Comitee of BEM (STIBA  IEC)

WORK EXPERIENCE

2009-2011 : Public Service at Al- ikhlas ABI -Bogor
2011-2012 : Staff Administration at Oxford Course
2012-2013 : Branch Manager at Oxford Course-Tebet
2013-2015 : English Teacher at Prime Education Centre-Percetakan Negara



Tidak ada komentar:

Posting Komentar