Jumat, 19 Februari 2016

Mozaik Cinta bag 17-20



17. Berkunjung ke Pesantren Mas Sobari

Lima hari kemudian, Arief mampir ke pondok pesantren mas Sobari dengan motor barunya walaupun second tapi tetap modis untuk dipakai. Begitu bertemu mereka berangkulan erat sekali. Mas Sobari tampak bahagia sekali bertemu dengan Arief, begitu juga ia. Kesahajaan dan kesederhanaan Mas Sobari sama sekali tidak berubah, meskipun ia telah menyandang gelar Megister di PTIQ Jakarta. Ia berpakaian biasa, layaknya orang biasa. Orang yang tidak mengenal Mas Sobari bisa jadi menyangka beliau adalah tukang ojek. Atau tukang sayur. Sebab saat itu beliau memakai batik Cirebon berwarna kuning terang yang tersembunyi dalam jaket cokelat yang tampak tua. Beliau langsung membawa pemuda itu ke ruangan pribadinya dilantai Atas. karena lantai bawah di pakai oleh santri-santrinya mengaji.
“Mas rasanya aku betah tinggal disini”.. ujar pemuda itu sambil memandang Pesantren itu ke setiap sudut.
 "pesantren ini tempatnya masih kondisi sewa Rief" kata Mas Sobari begitu sampai diruang atas. "Doakan tahun depan ada rejeki untuk melunasi angsurannya. ya,Meskipun dengan mengangsur," lanjutnya.
"Semoga Mas." jawabnya dengan singkat.
"Ayo masuk. Kita cuma berdua disini.
“Istri Mas”?
“Isteriku sedang ke jambi mengurusi Administrasi TK."
“Jambi?“ (isendiri”?
“tidak, berdua sama temannya”.
 “Jambi”? (Arief merasa mengingat pesan dari Nia tentang keberadaan Aini di jambi, tapi dia tidak yakin, apakah Aini bersama istrinya Mas sobari atau bukan. Hmm. Mungkin hanya kebetulan aja. Mana mungkin Aini ngurus Pendidikan apalagi TK, apalagi aku belum kenal sama Istri Mas Sobar”. Ujarnya dalam hati.

Begitu masuk mas Sobari langsung ke dapur. membuatkan minuman. "Adanya ini ." Kata mas Sobari sambil membawa dua gelas berisi air jeruk.
 "Nyaman hidup di lingkungan pesantren ya Mas?" tanya Arief.
"Nyaman dan tidaknya hidup itu yang mengkondisikan adalah hati dan pikiran Rief. Kalau aku di mana saja merasa nyaman. Aku tak pernah kuatir atau takut sebab aku yakin Allah mengasihiku."
mendengar kata-kata bijaknya,  pemuda itu terenyuh dan merasa takjub kepada Mas sobari, walaupun usianya belum Tua, ia sudah Megister dan sekaligus punya pesantren.

 "O ya Aku dapat kabar dari Indra katanya Kamu mau mengisi posisi itu?
“posisi mengajar”
“Oh jadi info dari indra itu sebenarnya dari Mas”?
“ia rief”
“pantesan indra bilang kalau nanti di terima menyuruhku untuk mampir ke pesantrennya mas”.
“mmm.. trus sudah di terima?
Sudah mas. saya sudah diterima ngajar disana sebagai Tutor, makanya setelah ngajar saya mampir kesini, sekalian ingin tau lokasi Pesantren Mas, tadi sih sempat nyasar tapi orang sekitar memberi tahu alamat ini.”
“oh, syukurlah, nanti sering-sering mampir aja kesini biar tidak nyasar lagi, sekalian aku ingin kenalkan istriku, kamu belum pernah kenal kan Rief”?
“belum”.
"O iya Rief. Kamu tidak ada rencana nikah? Atau masih mengharap gadis yang di lagura itu, yang pernah kamu ceritakan dulu”.
"Aduh jadi malu. Jangan diingat-ingat lagi Mas. Tapi penggerebekan di kosan cady itu  seperti yang tertulis di koran ternyata tidak seperti itu lho mas. Arief menceritakan panjang lebar semuanya, dan  tentang gagalnya melamar Dzakiya dengan jelas kepada Mas sobari.
Mas Sobari mengangguk-angguk.tanda semuanya itu adalah sekenario Tuhan. “ini pelajaran berharga untukmu Rief. Jadi setelah tahu kabar itu apa masih mau mengejar si Aini dan melupakan Dzakiya? Atau bagai mana?"
"Aduh  mas itu masa lalu. Dunia ini kan luas. Jumlah wanita di atas muka bumi ini miliaran Mas. Gadis Muslimah yang belum menikah jumlahnya jutaan, kenapa  mesti mempersusah diri."
"Wah..wah..wah kamu sudah berubah Rief. Tapi ada satu sifatmu yang aku sangat salut. Dan aku berharap sifat itu tidak pernah berubah apalagi hilang dari dirimu."
"Apa itu Mas?"
Arief bijaksana sesuai namamu, kamu bisa bijak ketika semua persoalan hidup bisa di hadapi dengan kepala rasional dan jiwa tenang. Itu yang aku salut  padamu. Jujur itulah sifat yang mutlak harus dimiliki seorang anak Adam, agar ia tidak bersangka buruk pada penciptanya. ini jadi barang yang sangat langka di masa kini Rief."
"Doakan agar hati ini tetap terus istiqamah Mas."
"Semoga Rief. O ya kembali tentang nikah. Muslimah seperti apa yang sekarang kamu inginkan. Mungkin aku bisa membantu. Tidak hanya membantumu tapi juga membantu kaum Muslimah yang ingin menikah tapi belum menemukan jodoh. Siapa tahu di antara mereka ada yang sesuai untukmu.  Arief menerawang kalau mas sobari akan memilih dan menawarkan dari salah satu santriwatinya, seketika muka pemuda itu tersenyum Lebar.
"Yang solehah  pastinya mas. Mas kan sudah kenal aku cukup lama jadi untuk kriteria mas pasti tahu yang cocok dan tepat "
"begini Rief. Ada Muslimah baik sekali. Ini menurut isteriku. Sebab Muslimah ini kenal baik dengan isteriku. Pernah satu kampus di PTIQ Jakarta, tapi beda kelas, dan jurusan, istriku adalah seniornya dulu. Dulunya seorang cady Golf rawamangun, tapi berhenti sekarang ia mengikuti jejak istriku berda’wah, menjadi aktivis dan pendidik. untuk namanya aku lupa”.
 "Umurnya berapa mas?"
"Ya beda sedikit dengan  isteriku."
"berarti sudah tua dong mas."
"Eitss.... jangan salah. kamu tahu berapa umur isteriku?"
"Berapa Mas?"
"Dua puluh sembilan tahun. dan umurmu?"
"baru Tiga-puluh mas."
"Berarti kira-kira dia lebih muda tiga tahun darimu. Bagaimana?"
Arief merenung sejenak, dan sesekali ia teguk Air jeruk yang sudah hambar itu, tenggorokannya kering, tanda bahwa ia sudah lama bercakap dengan Mas Sobari.
"Kalau boleh tahu. Apa dia berjilbab ?"
"Kamu ini gimana Rief. Isteriku  ini aktivis dakwah, masak mau mencarikan calon buatmu yang suka yang pakaiannya kurang bahan. Ya pasti berjilbab rapat-lah."
"Kalau begitu boleh. mm..maksudku Boleh tahu secara detailnya mas?
"nanti saja, kalau Istriku sudah datang dari jambi, soalnya istriku juga mengajaknya kesana”.seminggu lagi aku mau jemput nanti aku kabarkan lagi infonya, jangan lupa sholat istikhoroh ya.
“aku serahkan semua ini sama Allah dan Mas sobari, aku ikut manut mas saja." telah lama bercakap akhirnya Arief izin pamit pulang.
***
Arief meneguk kembali kelezatan bermunajat di waktu hamba yang lain tertidur pulas diatas pusara empuk . Arief memohon agar tetap Istiqomah dalam menjalankan segala ketentuan dan Syariat Islam keyakinan Arief  Islamlah jalan Yang paling haq di antara jalan selainnya , ia pun berdo’a untuk kesiapan dirinya menjemput seorang Calon pendamping Hidup untuk mencukupkan segala bentuk kebutuhannya kelak. Arief selalu mengatakan kepada Indra bahwa menikah adalah hal yang sangat kodrati. Dalam bahasanya  menikah tidak dapat dimatematiskan. Jika suatu saat ada orang yang mengatakan, “secara materi saya belum siap,” saya akan selalu mengejar dengan pertanyaan yang lain, “berapa standar kelayakan materi seseorang untuk menikah?”
Tak ada. Sebenarnya tak ada. Jika kesiapan menikah diukur dengan materi, maka betapa ruginya orang-orang yang yang belum cukup secara materi. Begitu juga dengan kesiapan-kesiapan lain yang bisa diteorikan seperti kesiapan emosi, intelektual, wawasan dan sebagainya. Selalu tak bisa dimatematiskan. Itulah sebabnya Arief selalu mengatakan kepada teman-temannya yang masih melajang  mengatakan bahwa menikah adalah sesuatu yang sangat kodrati.
Bukan dalam arti ia menyalahkan teori-teori kesiapan menikah yang telah dibahas dan dirumuskan oleh para ustadz. Tentu saja semua itu perlu sebagai wacana memasuki sebuah dunia ajaib bernama keluarga itu. Sebagai contoh saja, banyak pemuda berpenghasilan tinggi, namun belum juga merasa siap untuk menikah. Belum cukup, lah... itu alasan yang paling mudah dijumpai. Dengan gaji sekarang saja saya hanya bisa hidup pas-pasan. Bagaimana kalau ada anak dan istri?
Arief ingat betul dengan kata-kata Mas Sobari apakah kamu menunggu gajimu cukup, maka kau tak akan pernah menikah. Bisa jadi besok Allah menghendaki gajimu naik tiga kali lipat. Tapi percayalah, pada saat yang bersamaan, tingkat kebutuhanmu juga akan naik... bahkan lebih tiga kali lipat. Saat seseorang tak memiliki banyak uang, ia tak berpikir pakaian berharga tertentu, televisi, laptop... atau mungkin hp merk mutakhir. Saat tak memiliki banyak uang, makan mungkin cukup dengan menu sederhana yang mudah ditemui di warung-warung pinggir jalan. Tapi bisakah demikian saat Anda memiliki uang? Tidak akan. Selalu saja ada keinginan yang bertambah, lajunya lebih kencang dari pertambahan kemampuan materi. Artinya, manusia tidak akan ada yang tercukupi materinya. Arief sambil menerobos kuat Nasehat mas Sobari sewaktu ikut kajian-kajiannya.
Menikah adalah sebuah elemen kodrati sebagaimana rezeki dan juga ajal. Tak akan salah dan terlambat sampai kepada setiap orang. Tak akan bisa dimajukan ataupun ditahan. Selalu tepat sesuai dengan apa yang telah tersurat pada awal penciptaan anak Adam.
Menikah adalah salah satu cara membuka pintu rezeki, itu yang pernah Arief baca di sebuah buku. Ada pula sabda Rasulullah, “Menikahlah maka kau akan menjadi kaya.” Mungkin secara logika akan sangat sulit dibuktikan statemen-statemen tersebut. Namun sabda rosul tidak akan pernah salah.
Arief sangat tenang sekali, damai dalam hati malam itu, seperti mendapatkan kejernihan dalam sanubarinya meskipun dalam hati kecil ia masih menyimpan rasa kepada Aini.
 Apabila seseorang mencintai Saudaranya, beritahukanlah kepadanya bahwa ia mencintainya” (HR Abu Daud)

18. Buku Rahasia

Senin Berikutnya setelah seminggu rasanya tidak sabar Arief pun mendapatkan sms dari Mas sobari untuk ke pesantrennya siang itu. setelah sampai Arief pun seperti biasa langsung bergegas ke Lantai atas, Mas Sobari hanya berpesan bahwa ia akan menjemput Istrinya ke Bandara, ia tidak bisa bercakap banyak dengan Arief. Arief diminta untuk menunggu di sekat kamar berhadapan dengan beberapa koleksi buku, bisa katakana perpustakaan mini. Kebanyakan buku-buku tentang pendidikan dan bahasa Arab. Mas Sobari adalah pakar manajemen pendidikan dan ahli Bahasa. Untuk seorang Megister yang cukup terkenal semua karyanya banyak di jumpai di beberapa toko buku dan banyak beberapa kampus mengampu ilmunya sebagai rujukan.
Siang itu ia tidak bisa duduk tenang. ia melihat-lihat buku yang ada di depannya itu. Banyak judul-judul baru terbitan Indonesia. Ia senang dengan perkembangan penerbitan buku di Indonesia yang semakin marak. Tiba- tiba kedua matanya tertuju pada warna sampul sebuah buku yang sepertinya pernah ia lihat. Ia ambil buku itu. Buku bersampul hijau muda. Terbitan Rasibook Jakarta. Rasa-rasanya ia pernah memegang buku itu. Ia mencoba mengetes ingatannya. Di mana ia pernah memegang buku seperti itu. Ia mengingat-ingat tempat-tempat ia bisa mengambil dan membaca buku. Akhirnya ia ingat di kamar Aini di lagura, saat ia pertama kali tiba di jakarta. Ia tersenyum bahagia ingatannya masih tajam. Ia buka buku itu. Halaman pertama. Dan ia bagai tersengat listrik. Nama pemilik buku itu ko sama dengan Mas Sobari. Apakah Sobari yang ia kenal adalah Sobari  pemilik dan penulis buku ini? Dan ia yakin buku yang ada di tangannya adalah buku yang beberapa tahun lalu ia pegang dilagura. Lalu bagaimana buku itu bisa sampai di kosan Aini di lagura itu? Puluhan kemungkinan dan pertanyaan berkelebat dalam pikirannya. Ia tak mau pusing. Ia merasa lelah dan harus istirahat. Masalah buku itu bisa ia tanyakan pada Mas Sobari nanti. Lima belas menit sebelum azan Ashar berkumandang ia telah bangun. ia sholat Ashar dengan para santri Dilantai  bawah sampai maghrib sampai menjelang isya. ia merasa nyaman di tempat yang penuh dengan derasan lantunan kalam ilahi yang di lontarkan oleh hafidz dan hafidzah yang luar biasa, Arif terkagum-kagum kepada Muridnya Mas Sobari. Sebelum azan Isya berkumandang Mas Sobari sudah tiba di masjid dan memberitahu Arief bahwa Istrinya  sudah ada di lantai atas, termasuk teman istrinya.
Shalat jamaah didirikan dengan penuh kekhusyukan. Dalam sujud Arief berdoa agar dilimpahi kebaikan dunia dan akhirat, serta diberi pasangan hidup yang menjadi penyejuk hati, teman sejati dalam mengarungi hidup beribadah kepada Allah Azza wa Jalla
seusai sholat Isya berjamaah Arief bertanya:
“Mas,aku boleh Tanya sesuatu?”
“tanya apa?”
“Mas, Apa betul Mas seorang penulis?"
“kenapa tanya itu?” sambil melempar senyum lebar kearah Arief.
“Tadi,sewaktu jemput Istri mas ke bandara, aku buka buku tapi aku tak faham isinya, tapi ada nama penulisnya di cover depan namanya sama dengan mas”.
“aha..a lalu?”
“aku Yakin itu Tulisan Mas”.
“dulu semenjak masih belum punya Istri, aku gemar Tulis menulis Rief”.
“jadi, itu artinya .....sambung Arif dengan rasa keingintauannnya.
“Ia, memangnya kenapa”?
“Oh Luar biasa Mas, dalam hati Arief masih mengganjal, kenapa Buku Tulisan mas Sobari pernah ada dikosan Aini waktu itu?.masih tanda tanya besar dalam hati pemuda itu.

19. Pertemuan yang mengharukan

“Mas, Punten.. Apa ada mahasiswi Mas yang Namanya Aini di kampus PTIQ  ?
“Mahasiswi?,, ada banyak nama Aini disana, Aini mana yang kamu maksud Rief, mm O iya aku sampa lupa Nama teman Istriku yang akan bertaauruf denganmu juga Aini namanya. Istriku yang bilang”.
 masa sich Mas? dengan penuh keheranan.
“tapi, Aini yang ini Pake Jilbabkan? Seolah arief meyakinkan hatinya Bahwa Aini yang ia maksud adalah Beda.
“iya”
O ya.. jadi aku harus gimana nanti. aku cuma pakai sarung  begini Mas?"
"Lha memangnya kenapa? Kalau pakai sarung apa terus hilang ketampananmu?"
"Nggak sih. Mmm.. Nggak apa-apa dech mas."
“O iya, ayo kita cepat ke lantai atas”..
 Semakin dekat dengan Pintu hati Arief  semakin bergetar hebat. Ia akan bertemu dengan calon pendamping Hidupnya. Yang dalam bayangannya akan menyejukkan hatinya. Mas Sobari melangkah duluan. dari terawang sela-sela gorden, ada dua Muslimah berjilbab yang sedang berbincang di ruangan itu. Namun tidak jelas. Jantungnya semakin keras berdegup. Ia berusaha menguasai dirinya, dan menenangkan batinnya.
“Hatiku bagaikan diterjang gelombang pasang yang amat besar”. gumamnya dalam hati, sambil berjalan Arief masih saja berdialog dengan hatinya , “apakah aku siap menatap seorang ahwat yang bukan mukhrim, Iman ini sudah malu yang teramat sangat Oh Ya robb.. aku pasrah.”
Mas Sobari melihat ke wajah Arief hanya tersenyum simpul melihat pemuda itu. Mas Sobari sudah mengucapkan salam. Dua Muslimah itu menjawab bersamaan. Arief mencopot sandalnya. Pandangannya menunduk ke lantai. Mas Sobari masuk. la mengikuti di belakang. la memandang ke depan. Dan... Pandangannya bertatapan dengan pandangan seorang perempuan berwajah bersih, wajah yang dibalut jilbab putih bersih. Wajah yang pernah ia kenal. Mata yang pernah ia kenal.
Dan... “Mas Arief”Dari bibir perempuan itu tersebut namanya Ia berdiri mematung di tempatnya. Hatinya sesak oleh keharuan luar biasa. Hawa dingin seolah menyebar ke seluruh syarafnya. Tak terasa airmatanya meleleh.
Lidahnya kelu. Perempuan berwajah bersih itu adalah Aini. "Ja..j.adi ternyata yang dimaksud temannya Mas Sobari ini kau?" Arief shock dan hanya terdiam mulutnya terasa rapat dan kaki terasa kaku Ariefpun tidak bisa menjawab matanya berkaca- kaca ada rasa takjub, haru, dan bergejolak, Arief hanya kembali mengangguk. Arief pun kaget bukan kepalang, ia tidak menyaka akan bertemu Aini disini, bertemu dengan gadis yang dulu ia rindukan "Ini tidak mimpi kan?!" seru Aini. "Ti...tidak Aini. Tidak! Ini kenyataan!" Arief buka suara dengan tangis yang pecah.
Begitu mendengar kalimat yang keluar dari mulut Arief, Mas Sobari langsung mengerti. Beliau meneteskan airmata. Hanya Istri Mas Sobari yang masih bingung.
"Jadi kalian sudah saling kenal?" tanya Isteri Mas Sobari heran. Arief dan Aini mengangguk serentak.  mas Sobari menyuruh Arief duduk Aini tak kuasa membendung tangisnya. suasana itu menjadi sebak dalam dada keduanya, Istri mas Sobari belum mengerti apa yang terjadi. Mas sobari memperkenalkan Istrinya kepada Arief  lalu menceritakan apa yang terjadi pada pemuda itu saat jatuh cinta pada Aini.
Arief nyaris gila dan binasa. Sampai akhirnya ia memanggil Arief untuk memilih menikahi Aini. Ia dan Arif hendak pergi ke Lagura berniat untuk melamar Aini, sehari sebelum berangkat Mas Sobari mendapat Berita di Koran Bahwa ada Penggeladahan Rumah Kosan DiLagura, dan menurut Tulisan dari Koran Semua penghuni itu di ciduk polisi.
"Saat itu aku lihat Arief sangat terpukul. Aku masih ingat bagaimana ia seolah tidak bisa percaya atas apa yang dibacanya. Ia berteriak histeris 'Tidak mungkin! Tidak mungkin ini terjadi!' Aku melihat bagaimana ia membaca lagi nama-nama penghuni kosan itu satu persatu  dengan hati hancur. Dengar nada putus asa Arief saat itu mengatakan, 'Sia-sia aku menolongnya. Sia-sia aku mencintainya.'' Mendengar cerita Mas Sobari, tangis Aini menjadi-jadi. Perempuan yang baru berjilbab itu jadi tahu betapa pemuda yang di depannya itu sebenarnya sangat mencintainya. Bahkan sampai sakit karena mencintainya. namun seiring waktu Arief sering mengikuti kajian ba’da subuh denganku maka hatinya mulai lapang. tandas mas sobari
Aini lalu berbicara dengan suara terbata-bata. Menceritakan bagaimana dia sebenarnya sangat berharap Arief datang. Ia lalu menceritakan kejadian pemerkosaan atas dirinya dan bagaimana Arief menolongnya. Sejak itu ia merasa bahwa orang paling berhak menerima pengabdiannya adalah Arief. Aini juga mengakui ia berubah total cara hidupnya semenjak berkenalan dengan mba Imza, yang Tidak lain adalah Istri dari Mas Sobari. Mas Sobari dan isterinya, ikut terharu mendengar kisah mereka berdua.
"Subhanallah. Allah tidak mempertemukan sesuatu yang salah pada hambanya jika hambanya selalu ingin menggapai kesucian hati dan Cinta yang berlandaskan ridho-Nya. Kata Mas Sobari  dengan berlinang airmata.
"Jadi tak perlu ada ta'aruf ini?" tanya mba Imza. Pertanyaan itu malah dijawab dengan derai airmata oleh Aini. Semuanya kemudian diam. Masing-masing menyelami perasaan dan pikirannya sendiri-sendiri. Malam itu adalah malam yang tak akan pernah Mereka Lupakan.

****

20. Pernikahan yang dinanti

seminggu berikutnya, pernikahan antara Aini dan Arief di laksanakan di Pesantrennya Mas Sobari, di saksikan oleh semua Santri dan santriwati. hiruk pikuk suara bergemuruh tanda ramai saling berdesakan antara para tamu dengan santri, mereka ingin menyaksikan sebuah acara yang amat sakral Sekali seumur hidup.
“Walaikumsalam!  Ustadz datang pada waktu yang tepat.” Ucap Mas Sobari. “Rief, ini  adalah Ustadz Ilyas, beliau adalah petugas dari KUA. Yang akan mengurus pernikahan kalian sekarang juga termasuk sekaligus dari penghulu kalian!” jelas Mas sobari.
“Baik. Kalau semua sudah siap!” ucap penghulu itu. “saya harap untuk pengantin wanita dan prianya duduk didepan saya. Untuk saksi dari laki-laki, silakan duduk disebelah kiri saya. Dan untuk wali dari perempuan, silakan duduk disebelah kanan saya.”
kaliamat takbir tak putus dari hati Arief  Jantungnya kini  berdetak kencang. Semua ini terasa mimpi. Mimpi yang benar-benar terjadi. Aini akan menjadi pendamping hidupku. gumamnya dalam hati.
“Baik, Anakku tirukan kata-kata saya!” ucap penghulu itu dengan penuh rasa kebapaannya. “Dengan ini, Muhammad Arief wahyudin, menikahi Nuraini  Rosyidah binti  Rosyid dengan mas kawin Cincin Mas”
Sambil bersalaman dengan Penghulu itu. Arief melafalkan ucapan sakralnya itu. “Dengan ini, saya Muhammad Arief wahyudin, menikahi Nuraini Rosyidah ” hening sejenak Entah kenapa mulutnya terasa kaku. pemuda itu benar-benar merasa gugup.
“Baik kita ulangi sekali lagi.” Ucap Penghulu itu. “Dengan ini, saya Muhammad Arief Wahyudin, menikahi Nuraini Rosyidah dengan mas kawin sebuah Cincin emas”
“Dengan ini, saya Muhammad Ari...f wahyu..din, menikahi Nuraini Rosyi..dah binti Rosyid dengan mas kawiii..n….” Arief benar-benar gugup. pemuda itu  tidak dapat melafalkannya dengan lancar.
Suasana menjadi agak hening. Serasa ia benar-benar menjadi orang yang tidak dapat melakukan sesuatu yang mudah. Sungguh ia sangat gugup sekali.
“Hem…! Alhamdulillah” sela Mas Sobari. Mengagetkan. “Alhamdulillah, dengan begini kita tahu. Bahwa seorang Arief  memang belum pernah menikah!” Semua yang ada diruangan itu tertawa. hati pemuda itu merasa malu sekali.
“Rief,  tenanglah. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu!” ucap Mas Sobari. Dengan kekharismatikannya.
“Bagaimana? Mau diulang?” ucap penghulu itu. Arief hanya mengangguk. “Bismillah” ucapnya  lirih.
“Baik, kita ulang.” Ucap Penghulu itu lagi. “Dengan ini, saya Muhammad Arief wahyudin menikahi Nuraini Rosyidah binti Rosyid dengan mas kawin sebuah Cincin emas ”
“Dengan ini saya, Muhammad Arief Wahyudin menikahi Nuraini Rosyidah binti Rosyid dengan mas kawin sebuah Cincin emas dibayar tunai” Ucapnya dengan sedikit  lancar.
Alhamdulillah.
Selanjutnya Penghulu itu mempersilahkan Pihak dari mempelai Wanita untuk mengikuti kata-katanya.
Seketika itu pandangan Mas Sobari kepadanya terlihat sangat serius. Mas Sobari memegang tangan Arief dengan erat. Seraya mengatakan
Jagalah ia, jangan kau sakiti dia, brjuanglah bersama-sama untuk mengharap Ridho Allah semata.

“Saya resmikan pernikahan pasangan pengantin ini.”
dalam hatinya Arief gemetar “Ya Allah, ucapan penghulu benar-benar membuatku melambung. Aku kini sudah mempunyai seorang istri. Seorang yang akan menemaniku sepanjang waktu. Setiap saat akan ada yang menopangku . Menjadikan aku raja. Dan aku akan menjadikan dia ratu. Ya
Allah sungguh kenikmatan yang begitu indah.”
Tetes air matanya mengalir lirih dalam pelupuknya. Keindahan ini harus ia lewati tanpa disaksikan oleh kedua orang tuanya. yang sudah lama meninggalkan Dunia ini dengan wajah tersenyum, kini Arief pun tersenyum tanda ia rindu dengan Orang tuanya.
“Anakku, sekarang engkau resmi menjadi suami dari ananda Aini. Apakah yang engkau risaukan sekarang!” tanya penghulu itu dengan bahasa kebapaan. “Ustad, sungguh saya sangat berbahagia sekali menikahi seorang bidadari. Tidak pernah terlintas sedikitpun rasa kecewa.  sayangnya kebahagiaan Ini tidak dapat dirasakan oleh kedua orang tua saya.
“Anakku, janganlah kamu berkata seperti itu, Orang tuamu bahagia disana, melihat anaknya yang sedang bahagia apalagi ini adalah sebagian dari ajaran Rosul, jadilah lelaki yang tangguh seperti nabi Musa as” Jelas penghulu itu dengan nada penuh karismatik.
hati Arief terenyuh mendengar pernyataan itu dan membenarkan dalam hatinya.
Hari itu tiadaklah kebahagiaan di dunia untuk mereka, melainkan bersatunya Cinta yang sangat mulia lagi suci.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar