Jumat, 19 Februari 2016

Mozaik cinta bag 1-5



1.Pagi yang membelenggu.


Pada senin yang bening, Matahari bangkit perlahan sinarnya memancar dan menembus celah-celah jendela. Anak-anak berlarian penuh kegirangan dan suka cita ramai di jalan itu, orang-orang berlalu lalang hingga tak terdengar jelas obrolan di sekeliling, nampak pagi itu suasan riang dengan Aktifitas Ibukota namun tidak untuk Aini, wanita paruh baya yang selalu mengenakan gamis itu, dengan segala hati yang berkecamuk kesal dan sedih menyelimuti jiwa dan fikirannya, malang melintang raut wajah beku pikiran terbang seperti tornado yang seketika meluluh lantakan apa saja yang ada di sekitarnya.

Dengan gamis lusuh berwarna pink pudar, ia mangayuh sebuah roda dua dengan hati getir ia terus dan terus mengayuh dengan keringat yang meleleh di dahi dan pipinya, seakan tak merasakan itu, terbesit dalam pikirannya menuju sebuah rumah seorang yang tak asing baginya, ia hentakan kaki sekuat-kuatnya terus mengayuh  untuk segera menumpahkan segala beban yang ada, tak kuat meraskan balutan kesedihan juga amarah yang sudah memuncak, Aini tidak menggubris orang-orang di sekeliling yang menyapa baik dengan suara atau dengan klakson motor dan mobil, Ia melaju cepat seakan mengendarai motor herly , tak peduli hingga kalaupun tertabrak truk atau mati sekalipun.  Aini merasa sudah kehilangan semangat jihadnya, pasrah dan hanya tertuju pada sebuah rumah temannya yang jarakanya agak jauh dari sebrang Kramat Pulo Gundul.
***

2. Menuju rumah Imza

Hampir setengah jam Aini menempuh perjalanan itu, padahal bisa saja ia naik angkot dan tidak perlu cape-cape  untuk kesana, namun dengan rasa dongkol dan kesalnya yang memuncak ia memilih bersepeda untuk bisa ia lampiaskan.

Terdengar dari kejauhan sebuah lagu yang tak asing didengar  di telinganya sebuah lagu yang selalu menemani Aini dikala dirundung sedih, dikala hati merasa jauh dengan sang Esa, sejuk kedalam jiwa “ insyaallah” sebutnya dalam hati, sebuah judul lagu beraliran pop islami yang di populerkan oleh Maher Zein .
Semakin kencang Aini mengayuh, lagu itu semakin terdengar dekat dan jelas, entahlah apakah hanya Aini yang mendengar, tetapi suara lagu itu menunjuk ke sebuah rumah yang Aini tuju, memang benar lagu itu berasal dari sana, selayang mata memandang  di teras depan sebuah keluarga yang amat harmonis yang sedang bergegas untuk memulai aktifitas, Aini tersontak hampir-hampir  segala pikirannya menggeleparkan urat-urat kesyahduan di jiwa Aini.

Sosok wanita paruh baya yang Aini lihat itu membuat jantung Aini berpacu cepat bagaimana tidak? Ia merasa cemburu kepada keadaan yang memaksa dirinya untuk sendiri , keluarga yang amat bahagia tak ayalnya bila itu masih terjadi pada Aini dan keluarganya, Aini masih berdiri diam, seolah dalam hatinya sedang berdialog panjang, kaku rasanya bak akar-akar yang menjalar, walau bagaimanapun Nuansa Harmonis yang Aini lihat itu ia dapatkan dulu ketika ijab Qobul di saksikan.

Tak ingin lama dalam lamunan, Aini turun dari sepedanya yang tanpa rem itu, disandarkan ke tembok pagar  yang membatasi antar pagar rumah dengan jalan, ia hembuskan nafas seolah tak terjadi apa-apa, hanya untuk menenangkan batinnya saja yang sedang bergemuruh sambil menatap ke kaki langit, langkah mulai ia tapakkan dengan tangan dikepal berbaris keringat beku dipipi dan dahinya yang mulai mencair dan menetes di pucuk-pucuk rumput yang berbaris.
“Tuhanku, aku tidak pernah berjalan selemah ini” gumamnya dalam hati. Beberapa langkah dari pintu masuk terdengar

“ Assalamu alaikum”.. Aini? Aini  mencoba memfokuskan diri dan menyibakkan matanya yang berkunang-kunang, sambil mengangkat kepalanya.
“Waalaikum salam”....jawabnya dengan nada lirih dan serak. Sedikit ia perhatikan ternyata 
Mas sobari....? Mau ke pesantren ya  Mas..?
“Ia, tapi sedikit telat nih, soalnya ada acara reunian Santri-santri disana,jam Sembilan harus sudah tiba.
Guh..... teguh.......! Ayooo,, cepatan ! ayah telat nih.
“ia.... tunggu sebentar ! sabar donk yah, Aku lagi naliin sepatuku dulu”, sahut anak itu dari kejauhan.
“O iya,,, habis dari mana? Tumben pagi- pagi sudah mampir..?”, tanyanya sambil mengalih pembicaraan.
“sengaja kesini mas, sengaja ada perlu sama mba Imza”, jawabnya dengan singkat.
“memangnya hari ini nggak ngajar..? tanya Mas Sobari.
“kebetulan hari ini  ada Acara Home-Visit ke rumahnya mamah Dhea, jadi hanya kelas B aja yang kesana Paling yang ikut cuman guru kelas”, jawabnya sambil menutupi kepenasaranan Mas Sobari.
“oh begitu....”
Hening sesaat,,,,
kemudian Mas sobari memboyongkan dadanya kearah kanan  dan tampak dari jauh anak laki-laki itu namanya Teguh lari dengan hentakan sepatunya (bluk....bluk...bluk...) rupanya tak mau di tinggal, teguh yang berpostur gemuk,tinggi, berkulit redup,  merasa kelelahan, ia lemparkan tas ke punggungnya sambil mengusap-usap wajah yang nampak belum rapi itu, sesekali menghela nafas yang terputus-putus mengejar ayahnya yang sedang menunggu di depan.
Ayooo.... guh cepetan”! sahut Mas Sobari yang kedua kali.
“Mau berangkat sekolah ya Guh”..?
“ia (sambil  nyengir lebar di sela-sela gigi kuningnya terlihat masih ada sisa-sisa makanan ,ia mengulurkan dan mencium tangan ke arah Aini) berangkat dulu ya mba, doakan teguh,ini hari pertama teguh midtest” , ucapnya sedikit kepayahan.
“ia, semoga  lancar, bikin mamahmu bangga padamu  ya guh”......
Sambil menekuk pandangan hening  ke arah Aini “ rebes boss” jawabnya sambil mengangkat tangan laksana kapten yang baru saja dapat tugas dari komandannya.
“walaah guh..guh gaya kamu”... ucap Aini  sambil dibalas senyum.
“Aini, masuk aja kedalam kami berangkat duluan ya,takut macet,! Kamu tau sendiri ibukota tidak mengasihi orang-orang seperti kami, ujar Mas Sobari.
“ya, Mas, hati- hati.... di jalan, sahut Aini
Sambil berjalan menuju teras depan Aini memaknai ucapan Mas Sobari tadi Ibukota dengan kriminalitas dan tingkat kemacetan terpuruk abad ini, membuat semua Masyarakat mengeluh, tak ubahnya walau pemimpin silih berganti, dari tahun ke tahun bukanlah membaik situasinya, malah semakin keruh, untuk orang  seperti Mas Sobari, ia rela berangkat ba’da subuh dan  sekalipun hari masih gelap,  daripada terlambat dan terjebak di kemacetan, hmm,, memang ada secercah penerang dan harapan untuk Presiden sekarang  yang memang berkarakter serta Peduli, tapi entahlah walaupun banyak orang bilang Presiden jokowi itu besar karena Media, terlepas daripada itu, aku pernah melihat kebijakannya ketika di TV banyak Anggota Dewan yang telah ditangkap tangan oleh KPK gara- gara APBN yang di selingkuhkan, Presiden jokowi menerapkan system e-budgeting yang di sodorkan ke pak gubernur Ahok, maka dengan system itu Anggaran menjadi transparan dan jelas, tidak ada lagi yang namanya Anggaran siluman yang menyelip di kantor pak Dewan, semua Anggaran itu akan lebih fokus ke infrstruktur dan MRT yang sedang di rencanakan itu sehingga kemacetan dan Banjir Ibukota teratasi (Gumam Aini dalam Hati)
***

3. Guyonan Mba Imza

Ketika pikirannya tidak menyatu dengan raga. Aini tidak merasakan jika kakinya ini sedang melangkah, tiba-tiba terdengar suara sahutan dari teras depan.
“Heeey..... gadis sunda…! kenapa hanya mematung disanaaaa... ayoo masuuk”! sontak langsung matanya menggubris hayalan di benak lari entah kemana, ternyata Mba imza dari jauh menyahut, memang dari dulu mba Imza selalu memanggilku dengan panggilan itu padahal aku sudah menikah, entahlah mungkin sosok inilah yang lebih muda dari pada umurku. gumamnya dalam hati.
“Iya mbaaa !”..... jawab Aini sambil mempercepat langkahnya, plaak..plaaak..plak sesampainya disana,
“Assalamu alaikuuum....! knapo to ndo  pagi-pagi sudah melamun?”...
“Iyiiih... harusnya aku yang salam duluan mba Im” ucap Aini yang sedikit kesal dan dan merasa konyol, memang begitulah Mba imza ,benar-benar tau cara menghibur Aini.
“yowesss... ulang dari awal gih” celetuknya.
“Ahaha... aduuuh Mbaaa aku seriuuuus, hmm dan satu lagi aku kan bukan orang jawa” ..!
Lalu?
“hmmm...Ya, ya .. aku ulang”( dengan hempasan nafas panjang ) Aini  membalikan badan dan memberi salam  “ Assalamu alikuum” sapanya pada mba Imza.
“waalaikum salaam” jawab Mba Imza (sedikit melesungkan kedua pipinya ).
Mereka terpingkal- pingkal menertawai kondisi dan gaya mereka masing- masing, seperti sebuah Drama kolosal komedi yang naskahnya Mereka karang sendiri, rasa sedih itu serasa hilang seketika, mereka saling menatap satu sama lain akhirnya mba imza mempersilahkan Aini masuk.
“ kamu mau t
etap disini sampai malam”?? .
“ jika mba Im tak kasihan, yasudah aku kemping disini”.
“Hahaha... hush gak ada yang boleh kemping di terasku, ayoo masuk” celetuknya sambil menyimpan guratan tawa di lesung pipinya, terlihat  ia sedang berderama dengan Aini.
“o ya tadi ku dengar suara maher Zein kemana dia mba?  Mp3 nya kali… tuh sudah ku off kan speakernya,lagi pula gak ada Mas Sobari, gak enak sama tetangga, kalau dengar MP3 keras- keras. ujar Mba imza sambil berjalan menuju pintu Rumah.
“Ya ampuuuuun mbaaa, Berantakan sekali, ini rumah apa Pasar sih”??
“jika kamu anggap ini rumah, bantulah bereskan, aku bl
um beres-beres tadi, Mas Sobari sama Teguh baru beres sarapan,jadi belum aku cuci, Ucap mba Imza.
Setelah Mba Imza mempersilahkan Aini masuk, Aini tak bisa menahan senyumnya yang di bumbui tawa terhadapnya, Meskipun Mereka saling kenalnya ketika di Golf dan akrabnya di kampus, saat kajian Alqur’an. Mba imza adalah kaka kelasnya, ia mengambil jurusan PGRA dan Aini Tarbiyyah di kampus yang sama PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Quran)  Jakarta Pusat.
Mba imza aktif di lembaga pendidikan formal hampir 10 tahun memupuk pengalamannya di RA (baca:TK) ,dan Aktivis Mesjid Istiqlal sekaligus kepala sekolah dan belum Lama ini sudah membuka Cabangnya di Jambi serta TPA (Taman Pendidikan Al Fatwa) yang semuanya itu didapat hasil impiannya dan Sebuah kepercayaan dari seorang Pemegang saham yang Dermawan, Buk Arti begitulah ia memanggilnya, yang Tidak lain adalah pemilik YAYASAN AL-FATWA sekaligus Direktur disalah satu Bank Ternama di Jakarta.
14 tahun sudah Aini merasa telah menjadi bagian dari keluarganya Mba Imza, hampir tak satupun rahasia di antara Mereka yang disembunyikan, kecuali privasi masalah Rumah tangga, cukup keluarga dan Allah sahaja yang tau ,mba imza sudah Aini anggap seperti kakanya sendiri, Aini tak pernah marah atau tersindir jika ia menegur Aini, kadang menegurnya dengan tindakan yang orang bilang itu tidak familiar, Tapi kali ini Aini tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri yang sedang dihujani lembaran – lembaran  hitam pada album kehidupannya, mungkin itulah posisi Aini sebagai wanita dengan kodrat yang Lemah dan terlalu perasa terhadap kondisi, tapi sungguh ini diluar kemampuan dan Iman Aini yang  sedang diuji.
Setelah bantu beres-beres Mba Imza menyuguhkan Sepiring Pisang Goreng,
“ kamu doyan gak pisang Goreng”??
“ada yang lain gak Mba?, pizza gitu, biara kaya orang-orang”,
“ ahaa..haa... gayamu itu aduuuuh, kaya orang Bule
“Orang Bule? Haha haa..haa.. orang Bule gak makan pizza kali Mba, lagi pula Lidah aku gak cocok Makan Gituan  
 ***
4. Curhatan Aini

“Memangnya hari ini kamu gak ngajar Aini”? Tanya mba Imza .
“Nggak, hari ini aku izin karena memang tidak ada jadwal apa-apa di sekolah, lagipula ada acara home-visit ke rumahnya mamah Dhea, hanya guru kelas yang ke sana, aku kesini ada perlu sama mba imza”. jawabnya sedikit serius.
“tumben, pasti masalah keluarga.. iya kan? kamu sebagai istri harus faham keadaan suamimu, kalau akhir-akhir ini ia jarang ngomong, mungkin di kantornya lagi ada masalah.
“bukaaan,,, bukan itu mba, semalam Mas Arief ngamuk”? “aku gak yakin, pasti kamu yang memulainya, aku kenal betul si Arif, 10 tahun kamu berumah tangga baru kali ini aku mendengar kalian berantem”. Aini diam, ia tahu bahwa sesungguhnya polemik rumah tangganya bukanlah pertama kali, semua persoalan bisa dilalui, namun cibiran orang semakin lama membuat hatinya gontai seketika, ketika para tetangganya mencela dengan kata-kata “si perempuan Mandul” Aini merasa sakit sekali mendengar kata-kata itu. di tambah lagi ketika Arief meminta Izin untuk menikahi seorang Janda dan benar- benar menikahinya seminggu setelah ia utarakan kepadanya, memang saat itu Aini hanya memilih diam, tidak memberikan jawaban apa-apa. di satu sisi Aini mengakui sampai sekarang ia belum bisa memberikan Anak untuk suaminya, di sisi lain Aini kurang perhatian kepada suaminya, di tambah dengan alasan yang  di utarakan oleh Arief bahwa ia kasihan kepada Janda itu, hidup sebatangkara di Jakarta. cemburu yang membara pada hatinya ketika tau Istri kedua Suaminya itu lebih Mempesona terlihat di sebuah poto di dalam dompet suaminya.
Dengan sudut wajah yang bingung Aini harus bercerita tentang hati dan persoalan ini walaupun tak tau dari mana ia harus bercerita.

hening sejenak…....

“Entahlah Mbak, saya merasa bingung. Mungkin saya yang salah. dalam hati Aini membenarkan perkataan orang-orang yang pernah sinis padanya sepuluh tahun berumah tangga tanpa anak adalah sesuatu yang sangat  menggalaukan. Mba imza mengkerutkan dahi sambil menatap tajam ke arah Aini, Ia benar –benar dibuat Bingung.

“Lah… kho jadi kamu yang merasa bersalah, ada apa sebenarnya? Mba Imza Memaksa Keras Aini untuk Terus Terang.
“Mm..Mas Arief,,,, Mas Arief ingin Punya keturunan”. jawabnya sambil menunduk lemah dengan nafas terbata- bata.
“Hmm…. kalau itu masalahnya, aku rasa tak ada yang harus di obrolkan, kamu seharusnya bersyukur Ai.. (Mba imza dengan memotong maksud Aini).
“ Bukan itu mbaaa”,,, ( sanggahnya dengan cepat dan rasa dongkol membuat Aini tidak Bisa menjelaskan secara langsung).
“Laluu”? Tanya mba imza dengan penuh kepenasaranan. Aini menatap kosong, getaran- getaran suaranya mulai Hilang , helaan nafas panjang itu ia suguhkan ke ruang tamu.
 Hening sesaat…….
“ Mas Arief ingin punya keturunan dari wanita lain Mbaaa” !. dengan nada amarah dari bibir merahnya..
“Apaaa..aa” !! sontak seketika mba imza kaget dengan berita itu seperti mendapat petir di musim kemarau.
“ Apa aku tidak salah dengar Ai??”. tanyanya dengan mempertegas.
Aini hanya diam saja , tidak cukup lagi kata-kata apa yang harus di katakan, air Mata Aini tanpa terasa jatuh deras ke lantai. begitu berat pergulatan bathinnya, menggeleparkan segala rasa yang ada penuh sesak yang menghimpit dadanya. Ruangan itu mendadak sunyi, dan bercampur isak sendu biru. mba Imza mencoba melangkah setindak demi setindak, kakinya serasa Bagai diIkat beban yang amat sangat berat. Wajahnya memandang Lurus  ke sorot mata Aini, Perempuan itu merangkul Aini dengan Bahasa sesama Wanita.
“Aini… Aku sangat faham perasaanmu sekarang”. Ucapnya seraya melumatkan Kegontaian hati Aini. Dipeluknya erat, amat erat bahkan tidak ada Celah di antara Mereka. terdengar sayup- sayup adzan dzhur yang mendayu-dayu dari sudut celah jendela semakin mengikat ruhnya suasana itu, detakan jarum pun terdengar jelas di dinding  mematung seakan larut dalam percakapan Mereka.
wanita paruh baya itu kenal betul sosok Aini wanita yang kuat, cerdas dan pantang menyerah, Imza ingat betul ketika pertama kenal dengan Aini di Golf ia tampak lebih semangat bertarung di Ibukota dan siap menaklukannya seorang diri. tak pernah ia melihat Aini selemah Ini.
“Aini.. usap air matamu, jujur sebenarnya aku tidak ada hak untuk mencegah atau memutuskan perkara ini. tapi aku ingin Tanya kata hati dan Imanmu sekarng, apakah kamu bersedia”??
Aini hanya menatap kosong, lurus kepada perempuan itu .matanya berkaca-kaca, tak bisa menahan air matanya yang jatuh itu.
“ Cintamu kepada sang kholiq haruslah lebih besar daripada cintanya kepada manusia. aku tau ini berat tapi jika kamu ingin menjadi orang yang paling mulia disisi sang robb alam  dan pintu syurga akan terbuka lebar untuk mereka yang benar-benar siap ikhlas membagi Cintanya untuk org lain, Apakah kamu siap?
“Aini dengarlah ini, ini Nasehat bukan dariku Tapi dari Agama, Agama Kita Mengatakan hati-hatilah dengan Penyakit al-isyq yaitu suatu Penyakit yang menimpa orang-orang yang hatinya kosong dari rasa mahbbah (cinta) kepada Allah, selalu berpaling dariNya dan dipenuhi kecintaan kepada selainNya”.
“Hati yang penuh cinta kepada Allah dan rindu bertemu dengaanNya pasti akan kebal terhadap serangan virus ini, Penyakit al-isyq terjadi dengan dua sebab, Pertama : Karena mengganggap indah apa-apa yang dicintainya. Kedua: perasaan ingin memiliki apa yang dicintainya,,”
Nasehat itu membuat Mata Hati Aini Reda sesaat. Kemudian Mba Imza Melanjutkan Perkataanya “ Jujur sebagai wanita aku pun masih merasa tidak rela jika apa yang kita Cintai jatuh ke tangan orang lain, namun aku sering sadar dalam kehilafanku bahwa aku hidup bukanlah untuk hidupku, bukanlah untuk suamiku dan anak-anakku, tetapi kehidupan ini adalah Untuk Umat. aku yakin kau masih ingat betul kata-kata itu dari pak taufiq hidayat kan”?
Aini mengangguk pelan namun tetap diam mendengar penjelasan Mba Imza, dalam jiwanya ia menjerit ,namun masih tetap terkontrol oleh Imannya  sesekali ia bertanya kepada hati kecilnya ia ingat bahwa kejadian ini tidak hanya menimpa dirinya dan ini memang tersirat dalam Al –qur’an. Aini merenung seolah dalam hatinya berdialaog anatara Iman dan Egonya. ia pejamkan Mata dengan kedua tangan di kepal erat kebawah.
“Aini...Aku akan Bacakan Surat Annisa untukmu, yang Artinya” :
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja”......... (QS. An Nisaa: 3)
“Syariat Islam tentang poligami adalah Untuk mengangkat derajat seorang wanita yang ditinggal atau dicerai oleh suaminya dan ia tidak memiliki seorang pun keluarga yang dapat menanggungnya sehingga dengan poligami, ada yang bertanggung jawab atas kebutuhannya. poligami merupakan cara efektif menundukkan pandangan, memelihara kehormatan dan memperbanyak keturunan. Menjaga kaum laki-laki dan wanita dari berbagai keburukan dan penyimpangan.namun dengan syarat seorang Lelaki haruslah berlaku adil.jika tidak laknat dan siksaan Allah tidaklah main-main.” tandas perempuan itu dengan tegas.
Lagi-lagi Aini hanya diam saja, merenung dengan wajah kosong, entah membenarkan perkataan yang di ucapkan wanita yang di anggap sudah menjadi kakanya itu atau apa, di sudut Iman ia hanyalah hamba dan ingin menjadi mujahidah dengan segala kehidupannya hanyalah mengharap Ridho Tuhan dan berbagi kebahagian kepada orang lain, walau ia harus mengorbankan perasaannya. di sudut lain dimana ia adalah perempuan dengan perasaannya yang halus, peka dan pencemburu adalah hal yang tidak bisa ia elakan, terkadang merasa jiji dan rasanya seperti ingin muntah seketika ketika melihat Suaminya Arief berduaan dengan si janda itu, walaupun hanya sebatas bercakap biasa. kini perasaannya mulai sedikit menyusut, binar iman dalam hatinya mulai terbuka.
Aini menyadari bahwa selama sebagai seorang istri kewajibannya jarang ia tunaikan, selama beberapa tahun ini Aini cuek dan tampak tidak peduli dengan suaminya, perhatiannya mulai memudar alasanya adalah pekerjaan, ya sebagai seorang Guru RA (baca: TK) juga menjadi aktivis membuat ia hampir tidak ada waktu ngobrol atau saling memadu Kasih untuk keduanya, pergi pagi pulang malam, begitulah setiap hari Aini lakukan, penampilan yang dulu nomor wahid namun kini sudah tidak peka lagi terhadap sindiran orang tentang stylenya, kuno lah,dan sebagainya, bahkan untuk berhijab pun seadanya yang penting baginya menutup Aurat dan nyangkut di kepala. kini Aini benar-benar menyadari bahwa perhatian dan penampilannya untuk Arief suaminya mulai berkurang, dan tidak ada lagi cara lain selain ia harus merubahnya “saya harus berubah”(gumamnya dalam hati).
Dari dekapan yang hangat Imza hanya mengingat perjuangan Cinta mereka yang di saksikan langsung oleh matanya amatlah besar dan Karunia Tuhan yang akhirnya sampai ke tempat sakralnya pernikahan Aini dan Arief  mirip seperti kisah drama yang membuat semua penonton menangis penuh kesenduan pada waktu itu, begitupun Aini  menerawang ke langit dari celah jendela sambil memeluk mba Imza. seperti ia dipaksa untuk mengingat  14 tahun berlalu tentang kisah Perjalanan Karirnya di Ibukota, tentang pergulatan batinnya akan sosok pemuda yang tangguh yang menyelamatkan harga dirinya dari si jarot, laki- laki bejat yang hampir menodai kesucian Aini. Aini merindukan Arief yang dulu, entah kenapa ia ingin kembali kemasa itu, ia mulai mengingat kisah itu satu demi satu, berawal dari pertemuannya yang pertama dengan Arief di stasiun kereta Bogor.
 ***
 
5. Nostalgia Perkenalan pertama Aini dengan Arif

Inilah awal kisah perjalanan Aini mengenal Sosok Suaminya yang memang Pas dengan Namanya, Arief.. begitulah Aini memaknainya dengan sifat yang bijaksana, pemberani, dan Sederhana. Aini ingat ketika Tasnya di copet di stasiun Bogor, tiba-Tiba sosok pemuda itu menerjang Buas dari arah samping dan langsung  meringkus pencopet itu hingga babak belur.
kerumunan orang mulai merapat, Aini panik dan merasa cemas, semua dokumen dan uang gajinya masih di simpan rapat di tas itu, awalnya Aini berjalan menuju Antrian loket comuter line, sambil merogohkan tangan ke resleting tas dalam untuk mengambil Ongkos, tidak di duga sebelumnya, pria dengan memakai topi coklat terus membututi dari tadi, Aini memang tidak Curiga sedikitpun, karena kondisinya saat itu ramai, Aini merasa bersyukur Tasnya selamat dan tak sedikitpun yang hilang, Arief mengembalikan Tasnya ketika menyelesaikan Hantaman terakhir ke si Pencopet dan kemudian di serahkan ke Polisi setempat.
Aini mengucapkan terimaksih kepada pemuda itu, namun pemuda kurus itu hanya melemparkan senyuman simpul dan langsung masuk ke Kereta yang sudah tiba dari arah citayam, tanpa satu patah katapun ia ucapkan  kepada Aini, Aini hanya mematung bisu dan dibuat bingung  entah bagimana ia harus membayar jasanya itu. tanpa berfikir panjang dan Kreta sudah mau berangkat Aini pun masuk, sesak terasa para penumpang didalam tanpa melihat kanan kiri Aini berdiri tanpa mendaptkan tempat duduk. kereta mulai berjalan dan sudah melewati beberapa stasuin, stasuiun citayam, cilebut, dan bojong gede.
Aini melemparkan pandangan ke semua sudut kursi kereta, ia bermaksud untuk mencari pemuda tadi, dan memberinya sedikit Uang sebagai balas jasanya itu,  sesaknya penumpang tidak bisa di tawar lagi sehingga ke fokusan Aini membuyar dan berhenti berharap untuk menemukan pemuda itu .
Tak lama kereta berhenti di stasuin depok, para penumpang berbaur ke luar, terlihat di samping kanan kursi kosong para penumpang yang dari arah pintu mulai masuk, tak mau berdiri lama Aini langsung duduk bersebelahan dengan Pria yang memakai jaket kulit hitam,  Aini merasa yakin bahwa pria itu adalah yang menyelamatkan Tasnya tadi.
Pemuda itu menunduk seperti tidur  pulas sambil mendekap tas selempang di dadanya. Diam-diam Aini menatap wajah pria itu untuk meyakinkan hatinya, awalnya Aini ragu karena posisi pemuda itu menunduk dengan Masker yang menempel di wajahnya. ia melihat dengan detail dari kepala sampai ujung kaki,pemuda itu terlihat letih namun ada sedikit goresan luka di tangan kanannya, lukanya masih  segar, tampak masih baru tergores. Aini mulai yakin bahwa pria di sampingnya itu adalah pria tadi. ingin rasanya Aini langsung membangunkankannya untuk bisa langsung memeberikan ucapan terimakasih dan sejumlah uang yang ia sudah siapkan dari awal masuk tadi.
Pemuda itu memejamkan mata namun ternyata bukan tidur ia hanya merasa bingung sambil meneguhkan hatinya. Ia meyakinkan dirinya harus kuat. Ya, sebagai lelaki ia harus kuat. Meskipun ia merasa kini tidak memiliki siapa- siapa lagi. Bagi seorang lelaki cukuplah keteguhan hati menjadi teman dan penenteram jiwa.
Lintasan kereta dari sebrang memekik di telinga, sudah beberapa Stasiun Kreta yang di lewati dari bogor, citayam dan sekarang sudah sampai Stasiun Cawang, namun pemuda itu Belum juga Turun, tinggal satu stasiun lagi Aini turun, ya,, stasiun Tebet.
sambil mengambil nafas panjang pemuda itu mengangkat kepalanya dan mulai melemparkan pandangan ke seisi kereta yang padat itu.

“maaf mas”.. mas yang tadi kan? tiba-tiba pertanyaan itu datang dari arah samping kanan, Pemuda itu kaget dan menatap sambil mengingat –ingat walaupun samar- samar ia temukan perempuan Muda di sebelahnya dengan memakai celana cokelat dan jaket ketat merah muda. dengan Rambutnya di biarkan terurai
“M,, oh mba yang tadi  ? Pemuda itu bertanya Balik.
“ia, aduuh Mas terima Kasih banyak ya tadi, kalau tidak ada Mas entahlah..
mungkin saya tidak bisa ke Jakarta hari ini.
“ sudah menjadi kewajiban saya mba sebagai Muslim”.
Arief menaksir usia perempuan itu sekitar 25 puluhan lebih.
“o ya ini ada sedikit Ongkos Buat Mas, Anggap ini adalah tanda Terima kasih saya Sama Mas”.
“ tidak Usah Mba, jawab Arief dengan senyum simpul sambil menggelengkan kepala.
tapi Mas? “nggak Usah, simpan Aja, ada yang lebih berhak dari pada saya mba”
Aini terdiam, harus bagaimana ia harus membalasnya. ia bingung dan akhirnya balik bertanya, sambil basa basi Aini bertanya supaya Ia bisa merayu pemuda itu agar dapat menerima Uang di tangannya itu. dengan sedikit canggung dan agak kikuk harus darimana ia bertanya.
Baru pertama ke Jakarta ya Mas? Tanya Aini sambil Menutup keheningan di antara mereka.
"Iya Mbak. Mbak juga yang pertama?" jawabnya balik bertanya.
"Tidak. Saya sudah empat tahun di  Jakarta.
"Berarti sejak tahun 2010 ya Mbak."
"Tidak. Sejak awal 2011."
"Mmm,, Kerja atau?"
"Iya Mas. Kalau Mas sendiri mau kerja? Atau mau sekolah?"
Ia berpikir sejenak. Ia tidak tahu pasti. Ke Jakarta mau bekerja atau mau sekolah. Sesungguhnya selama ini ia merantau dari satu daerah ke daerah lain, selain untuk bertahan hidup juga demi mencari takdir yang lebih baik.
"Kok malah bengong Mas?."
"Emm... tidak, saya ke Jakarta mungkin untuk dua duanya. Ya untuk cari kerja dan untuk sekolah lagi."
"Baguslah. Sudah ada pandangan mau kerja dimana?
"Belum sih. Nanti saya cari di sana saja. M..mbak kerja di mana?"
"Saya kerja di golf Rawamangun. mmm (berfikir sejenak)  Kalau Mas mau, saya bisa bantu. Saya punya banyak teman yang bisa membantu. O ya kenalkan, nama saya Aini.  Perempuan muda itu mengulurkan tangan kanannya. sambil menekuk Amplop yang sejak tadi di tangan Kirinya. Pemuda itu juga mengulurkan tangannya dan menjabat tangan perempuan muda itu.
 "Saya Arief,Jadi Mbak kerja membuat bola golf gitu Mbak?"  Perempuan muda itu malah melesungkan pipinya.
“tidak,  saya kerja sebagai Cady, Arief mengkerutkan dahinya tanda belum Faham apa yang dimaksud perempuan itu, kemudian perempuan itu menjelaskan.
 “Cady Itu orang yang menemani para pemain golf di lapangan, Nah.. tugas cady menyiapkan Bola yang hendak di Pukul oleh Para Pemain namun ada beberapa Cady yang dimainkan oleh para Pemain yang bermata Dollar”. maksudnya?Tanya Arif Penuh keheranan.  “ya,,, di jadikan pemuas para bajingan Kantor”. tiba- tiba perempuan itu merubah haluan pembicaraan.
"Rencananya nanti mau ke mana? Di Jakarta sudah ada tempat yang dituju?" tanya Aini.
"Tempat yang dituju secara pasti beluma ada. Saya hanya membawa sebuah nama dan sebuah nomor telpon.Saya ingin sampai ke Jakarta dulu, baru setelah itu saya akan telpon orang itu."
"Ya syukurlah.  O Ya..Saya nanti lewat Stasiun Tebet. Kalau mau kita bisa jalan bareng."
pemuda Itu  Tidak menjawab apa-apa. Lintasan Gerbong Kereta terus melaju. Tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lambat. Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam, Lintasan Kreta Berhenti di Stasiun Tebet . Begitu pintu Comuter line dibuka. para penumpang berebutan keluar.
Arief keluar dengan membawa tas Selempang dan tas jinjing besar coklat tua. la mengiringi Aini yang berjalan di depannya. Perempuan itu menenteng tas kempit putih dan koper kecil beroda warna merah jambu. Mereka berjalan menuju tempat duduk disebrang Tulisan EXIT.  Petugas security Stasiun sibuk memeriksa barang bawaan para penumpang. disebabkan Informasi yang beredar Bahwa tiga hari yang lalu Ada seorang Terroris yang membawa Sebuah Peledak di dalam Tas Penumpang, untungnya Terroris itu bisa segera di tangkap.tak pernah hilang Rasanya Kasus Terroris di negeri ini.
belum lama lagi kasus ISIS yang meresahkan Warga, anehnya banyak dari kalangan Mahasiswa yang terjerat klompok itu, salah satunya adalah seorang Mahasiswa UIN Bandung dan Makasar. Entah apa Motifnya sampai-sampai mereka Siap melakukan Pembiadaban semacam Itu, bahkan Nyawanya sendiri yang menjadi taruhannya.
            Tas dan koper Aini diperiksa. Setelah beberapa saat lamanya, Aini dipersilahkan langsung menuju Halte. Tas jinjing Arief juga diperiksa. Isinya hanyalah pakaian, beberapa makanan ringan, dan sebuah mushaf Al-Quran kecil pemberian Pak Haji Tohir kala ia berpamitan, sebelum berangkat. Petugas security itu memerintahkannya untuk terus jalan. Arief bergegas menuju Halte. puluhan sopir taksi dan ojeg menawarkan jasanya. Aini menjawab tegas bahwa ia sudah ada yang menjemput. Arief agak bingung menentukan langkah. Beberapa sopir taksi menghampirinya. Ia masih ragu harus ke mana. Ia menatap ke arah Aini yang melangkah dengan mantap. Aini melambaikan tangan agar ikut dengannya. Arief merasa tidak ada salahnya pergi Ke Ibukota bersama Aini. Apalagi ia benar-benar asing di negeri Metropolitan ini. "Kita tunggu bus di sini. Kita akan menuju ke Halte Cempaka Putih  Dari situ kita naik Kopaja 47 ke Taman Lagura Jelas Aini. lima belas menit kemudian bus datang. Aini dan Arief serta puluhan penumpang berebutan naik. Bus itu mengantar mereka ke halte Cempaka Putih. di dalam bus suasana terasa sesak dan kendektur menggencring-gencringkan uang recehan tanda para penumpang harus langsung Bayar.
"gak usah biar saya yang bayar Mas, sekalian menukarkan Uang receh" Aini menepis tangan pemuda itu dan ia sodorkan Uang Kertas Merah bergambar Pak Sokerno yang Masih kaku dan bersih dari Dompetnya, pemuda itu Menatap Aini dengan Rasa Malu.
"Jangan begitu Mbak, saya jadi tidak enak."
"Anggap saja ini tanda Terimakasih saya waktu tadi siang, Dua berapa Pak?" "Enam belas ribu”.jawab pak kendektur.
Selain wajah Melayu,tampaklah wajah-wajah Sunda, Papua dan wajah jawa yang menjadi penumpang bus cepat itu. Sopirnya berwajah betawi Campuran, dan tampaknya ia seorang Muslim, sebab sebelum menjalankan bus ia membaca basmalah. Setengah jam kemudian bus itu sudah meninggalkan Stasiun Tebet dan mulai melaju dengan kecepatan tinggi. Bus itu Mengitari Kota Metropolitan dengan segala daya Tarik serta Gedung- gedung yang menjulang Tinggi seakan menerobos ke atap Langit, Arief memandang ke kanan dan ke kiri yang tampak hanyalah Deretan Gedung yang Rapat Tanpa Celah di samping kiri kanannya berlarian ke belakang.
"Dari logat Mas bicara, sepertinya Mas orang Sunda." Aini membuka pembicaraan sambil menaikkan resleting jaketnya sehingga benar-benar rapat sampai ke leher. Ia tampaknya agak kedinginan.
"Iya Mbak benar. Saya asli lewiliang-Bogor .  Kalau Mbak?"
“wah.. kita satu suku donk,Tepatnya ibu saya orang Jasinga tapi Ayah saya orang Betawi,tapi saya lebih Condong ke Adat Sunda darpada Betawi. jelas Aini sambil melemparkan Senyum simpul. "Maaf, emm... Mbak sudah berumah tangga?"
"Sudah."
"tos gaduh Putra?"Tanya pemuda itu dengan bahasa sunda tanda mengakrabkan dirinya pada perempuan itu.
"Belum. Bagaimana mau punya anak  rumah tangga saya hanya berumur satu minggu."
"Cuma satu minggu, maksudnya?
"Iya bisa dikatakan demikian."
"Suaminya meninggal, mmm...maaf maksudnya wafat?"
"Tidak. Saya minta cerai. Sejak itu saya trauma dan rasanya susah sekali untuk membina rumah tangga lagi."
"Punten  ya Mbak, jadi mengingatkan pada hal-hal yang tidak Mbak suka."
"Ah tidak apa-apa. Walau bagaimanapun kejadian itu telah menjadi bagian dalam sejarah hidup saya. Memang menyakitkan jika diingat." Kata Aini sambil mengambil nafas dalam-dalam. Seperti ada yang menyesak dalam dadanya.
Arief diam saja. la merasa tidak saatnya ia bicara. la kuatir jika salah bicara justru akan memperburuk suasana.
"Mungkin ada baiknya juga ya saya cerita. Ya untuk sekadar melepas beban yang menyesak di dada. Dan daripada selama perjalan diam saja,Aini kembali membuka percakapan.

"Tidak apa-apa kan? Mas mau mendengarkan kan ?" lanjutnya sambil memandangi Arief. Arief jadi menoleh. Pandangan mereka bertemu. Arief mengangguk pelan, lalu kembali memandang lurus ke depan. Aini mulai bercerita,
  

Penulis : aef sugihartoni  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar