Jumat, 19 Februari 2016
Mozaik Cinta bag 21-25
21. Manisnya suasana itu
sesuadah acara
resepsi ijab qobul Arief membawa Aini ke sebuah hotel di Jakarta. dengan
lunturnya sore hari Tabir malam membentang luas, bintang bertaburan seakan
merasakan kegembiraan dianatara Mereka.
Mereka
melaksanakn sholat Isya di kamar hotel itu, Arief menjadi Imam, takbir menggema
dalam riak sukmanya menggetar penuh syukur yang amat dalam, begitupun Aini
merasakan getaran itu masuk kedalam Relung hatinya sambil mengucap Amiin pada
terakhir surah Alfatihah. Seusai sholat.
“Maaaas” panggil Aini dengan lembut nan manja.
mendadak bulukkuduknya merinding.
Bagaikan bertemu dengan hantu. Tetapi hantu yang sangat cantik. “Iya Istriku!”
jawabnya.
“Apa boleh aku duduk disampingmu” ucap Aini dengan terlihat malu-malu.
sambil tersenyum lebar Arief berkata
“boleh,kenapa tidak..duduk disini juga boleh (tangannya menunjuk sejadah yang
masih terlentang di depannya) rayunya
dengan hangat.
Aini terlihat sangat malu. Pipinya memerah,
dari warna putih kulitnya. Sungguh mempesona. Arief bingung entah apa yang
harus ia lakukan. mereka hanya duduk
berdua di sebuah kamar luas dengan interior sejuk, bersih, dengan cat pink
bercampur hijau.
“Istriku! Apakah engkau senang menikah
denganku?” entahlah ia merasa sangat bodoh didekatnya. Sebuah pertanyaan
yang tidak layak untuk dijawab pikirnya .
Aini hanya tersenyum. Lalu memegang tangan
Arief . Diciumlah tangan kanannya, lalu disentuhkan dipipinya dan
dibelai-belaikan sendiri. Sungguh jawaban yang efektif. Tidak menggunakan
suara. Tetapi langsung pada tindakan.
“Istriku. aku mau tanya!”. (Membuka
pembicaraan yang monoton.)
“Apa mas?”
“aku merasa bingung dengan pernikahan kita,
apa tidak terlalu cepat?
Aini tersenyum. “Mas, ingat bahwa menyegerakan
pernikahan itu adalah hal yang terbaik. Tetapi memang bukan terburu-buru.
Rasulullah bersabda.
“Jika
datang kepada kalian orang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka
nikahkanlah ia. Jika kalian tidak melakukannya, maka akan menjadi fitnah di
bumi dan kerusakan yang besar.”
aku dan Mba Imza, telah sepakat Bahwa
Engkaulah orang yang benar-benar dapat dipercaya.
Dan sesungguhnya ak..u sudah lama mencintaimu Mas, sejak awal
pertama kenal. Tapi aku ingin menutupi semuanya. aku malu terhadap Allah.
Karena aku belum memperbaiki diri, dan mencintai lelaki yang seharusnya tidak
berada di hatiku karena memang belum halal untu ku. Tetapi kini engkau sudah
menjadi suamiku” jelas Aini sambil menyandarkan kepalanya di dada pemuda itu.
Jantung Arief berdetak kencang tidak beraturan. Keringat dingin terus mengalir
di sekujur tubuhnya,betapa tidak? seumur hidup Arief baru kali ini memeluk
seorang gadis yang amat ia nantikan dan amat ia rindukan meskipun didalam kamar
ini air conditioner terasa sangat dingin.
“aku juga sangat mencintaimu. Alhamdulillah,
Allah benar-benar mengabulkan doaku untuk memiliki salah satu
bidadari-Nya.” sambil membelai kepala
istrinya yang masih terbalut mukena.
“sayang, peluk aku dengan erat”. ucap Aini
dengan manja.
Seketika itu, Arief mendekatkan wajahnya, amat
dekat,bahkan lebih dekat dari pada waktu
Aini tersandung yang hendak mengantarkan mie dan telor ceplok itu tiga tahun
silam di dapur, Arief menatap mata
Istrinya dalam-dalam, Mata keduanya bertemu cukup lama, terlihat di mata yang
sendu itu sebuah perjuangan hebat serta kerinduan yang amat dalam, frekuensi getaran halus itu masuk menyusup kedalam hati
Arief dan menawannya sampai lidahpun kelu untuk berkata. Wajah Aini tampak
sangat Cantik dan Teduh ada aura ketulusan yang memancar darinya. Dan ada
pesona yang mampu membuat hati mereabsorbsi
segala bentuk enzim yang masuk begitu saja. dengan nada gemetar dan nafas
terbata –bata “sayang, cukup lama aku merindukanmu” Arief mengeluskan tangannya
di wajah yang bersih itu dengan mata berkaca- kaca. sebuah keberanian baru saja
diungkapkan yang sudah lama ia pendam.
genangan air mata
Aini pun mengalir hangat begitu saja, dengan isak haru bisu yang ia coba sembunyikan
dalam- dalam, sungguh pergulatan batin yang tidak bisa di bendung dalam hatinya
seperti bendungan Air Deras yang dalam hitungan detik akan membludak hebat, ia ingin segera melumatkan rasanya dan segera memeluk
erat Arief,suaminya.
sentuhan hangat
nan lembut itu membuat degup jantung Aini semakin berpacu kencang, amat
kencang, aliran darahnya naik seketika hingga ubun-ubun, keringat dingin dan
bulu roma tampak membeku, menjalar diseluruh urat syaraf hingga ujung kaki,
sekujur tubuhnya kaku ketika hembusan nafas hangat itu mulai mendekati bibirnya
yang merekah, nafas Aini terbata-bata, Aini larut dalam buaian kasih itu, Arief
memeluk erat tubuhnya dengan badan gemetar bercampur Air mata haru yang tak
cukup diungkapkan oleh kata-kata.
***
22.
Pulang dari rumah Imza
Aini tidak sampai hati merenung pada masa itu
betapa tetesan air matanya di bayar dengan anugerah yang luar biasa oleh sang
pencipta, dengan gemuruh hati yang masih melekat di sanubarinya. Aini dulu
dengan Aini sekarang amat berbeda, dulu Aini sangat cantik sekarang kecantikan
itu diselimuti oleh kulit yang tidak sekencang dulu, dulu mata yang yang indah
nan tajam kini sekarang sudah mulai kabur. sepuluh tahun berlalu berumah tangga
dengan Arief baru kali ini ia merasa benar- benar di landa cemburu yang membabi
buta serta musibah yang amat berat, walaupun Mba imza sudah memberikan
pencerahan, namun tetep saja hatinya sebagai perempuan tetap rapuh.
Nampak senja mulai ke perbatasan menunggu
rembulan di malam hari, warna kebanggan itu telah menyinari garis batas pagar
Rumah Imza, Aini masih di dalam, sesaat ia akan pamit pulang ke rumah, rumah
yang pertama kali ia injakan ketika sakral pernikahan di sematkan meski begitu karena
ia tau betul walau Perempuan yang ia anggap sebagai kakanya itu tidak keberatan
jika ia menginap, tetap saja ia harus pulang, dan mba imza mengantarnya ke
pintu depan, perempuan itu melihat sampai Aini benar- benar melambaikan tangan tanda
mereka harus berpisah.
setengah perjalanan
dengan Sepedanya yang tanpa rem itu, kumandang Adzan maghrib Tiba, hari itu
Aini mengingat semua kenangan dan ada sedikit cerah dalam hatinya, bahwa
sebagai Mujahidah yang memang seharusnya tunduk terhadap aturan sang Maha
Kasih, dan menerima apapun Skenario Tuhan untuk ia jalani sebagai aktor dalam
kehidupan. Tiba saatnya di depan Rumah, tampak sepi dan gelap, karena memang lampu-lampu
belum ia nyalakan, Ia merogoh kunci dan menyandarkan Sepeda itu di belakang
Teras depan.
ia bergegas untuk
mengambil wudhu di kamar mandi dan mulai ia rapatkan keheningan dengan
menyalakan beberapa keran di bak mandi, mesin Cuci, dan beberapa mesin lainnya.
23. Bertafakur
selesai wudhu di
bentangkannya sejadah itu dengan hati tunduk dan sejuk ia mulai takbir, dan
hati yang masih separuh terluka, ia menikmati setiap gerakan dan bacaan sholat
dengan khusu dan khidmat seperti ia belum pernah merasakan itu sebelumnya, ia
tau bahwa Tuhan mengasihi dan Ingin mengembalikan Hambanya ke jalan yang lurus,
sadar dalam setiap hempasan nafas ia ingat betul ia selalu sibuk dan jarang
sholat di rumah. kadang pulang hingga larut malam dan setelah tiba di rumah
suaminya sudah tidur. atau sebaliknya Suaminya pulang Ba’da Isya Aini sudah
tidur kelelahan, setiap hari seperti itu tak ada ruang dan waktu untuk mereka
bermadu kasih seperti yang dilakukan dulu. dengan riak-riak air mata yang
menggenang di matanya meleleh jatuh ke tangan yang sedang bermunajat kepada
Tuhan semesta Alam usai shalat dan berdo’a Aini mengambil Mushaf Alqur’an
dengan Lirih ia baca, ia buka Surat.. Al-Fajr: 27-30
Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah. irji ii ilaa Rabbiki raadhiyatan mardhiyyah. Fadkhulii fii ibaadii wadkhulii jannatii
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan hati puas
lagi diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu Maka
masuklah ke dalam surga-Ku.
ia mulai
menghayati ayat demi ayat, ia mengerti ayat yang ia baca sesungguhnya adalah
petunjuk untuk nya, mengembalikan semua sekenario Tuhan untuk ia jalani sebagai
Aktor protagonis yang kelak selalu berbuah manis.
Aini tau bahwa kecintaan sang Kholiq tiadak batas, bahkan manusialah yang
sering melupakan_NYA. Aini ingat pesan dari Pak Ary ginanjar ketika ikut ESQ
empat tahun yang lalu tentang Hakikat Cinta. ia buka halaman 5 tentang Cinta
adalah memberi, ia baca dengan mata yang sedikit kabur “dengan segala daya dan keterbatasannya seorang pecinta akan memberikan
apapun yang sekiranya bakal membuat yang dicintainya senang. Bukan balasan
cinta yang diharapkan bagi seorang pecinta sejati, meski itu menjadi sesuatu
yang melegakannya. Bagi pecinta sejati, senyum dan kebahagiaan yang dicintainya
itulah yang menjadi tujuannya”.
Cinta adalah menceriakan, seperti bunga-bunga
indah di taman yang membawa kenyamanan bagi yang memandangnya. Seperti
rerumputan hijau di padang luas yang kehadirannya bagai kesegaran yang
menghampar. Seperti taburan pasir di pantai yang menghantarkan kehangatan
seiring tiupan angin yang menawarkan kesejukkan. Dan seperti keelokan seluruh
alam yang menghadirkan kekaguman terhadapnya.
Cinta adalah berkorban, bagai lilin yang setia
menerangi dengan setitik nyalanya meski tubuhnya habis terbakar. Hingga titik
terakhirnya, ia pun masih berusaha menerangi manusia dari kegelapan. Bagai sang
Mentari, meski terkadang dikeluhkan karena sengatannya, namun senantiasa
mengunjungi alam dan segenap makhluk dengan sinarannya. Seperti Bandung
Bondowoso yang tak tanggung-tanggung membangunkan seluruh jin dari tidurnya dan
menegakkan seribu candi untuk Lorojonggrang seorang. Sakuriang tak kalah
dahsyatnya, diukirnya tanah menjadi sebuah telaga dengan perahu yang megah
dalam semalam demi Dayang Sumbi terkasih yang ternyata ibu sendiri. Tajmahal
yang indah di India, di setiap jengkal marmer bangunannya terpahat nama kekasih
buah hati sang raja juga terbangun karena cinta. Bisa jadi, semua kisah besar
dunia, berawal dari cinta.
Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah
membangun samudera kebaikan. Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan
permadani kasih sayang. Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan
dunia dan kehidupan yang lebih baik. Cinta selalu berkembang, ia seperti udara
yang mengisi ruang kosong. Cinta juga seperti air yang mengalir ke dataran yang
lebih rendah.
Tapi ada satu yang bisa kita sepakati bersama
tentang cinta. Bahwa cinta, akan membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa
kita untuk berbuat lebih sempurna. Mengajarkan pada kita betapa, besar kekuatan
yang dihasilkannya. Cinta membuat dunia yang penat dan bising ini terasa indah,
paling tidak bisa kita nikmati dengan cinta. Cinta mengajarkan pada kita,
bagaimana caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima,
memberi dan mempertahankan.
Tentang Cinta itu sendiri, Rasulullah dalam
sabdanya menegaskan bahwa tidak beriman seseorang sebelum Allah dan Rasul-Nya
lebih dicintai daripada selain keduanya. Al Ghazali berkata: "Cinta adalah
inti keberagamaan. Ia adalah awal dan juga akhir dari perjalanan kita. Kalaupun
ada maqam yang harus dilewati seorang sufi sebelum cinta, maqam itu hanyalah
pengantar ke arah cinta dan bila ada maqam-maqam sesudah cinta, maqam itu
hanyalah akibat dari cinta saja."
Disatu sisi Allah Sang Pencinta sejati
menegaskan, jika manusia-manusia tak lagi menginginkan cinta-Nya, kelak akan
didatangkan-Nya suatu kaum yang Dia mencintainya dan mereka mencintai-Nya (QS.
Al Maidah:54). Maka, berangkat dari rasa saling mencintai yang demikian itu,
bandingkanlah cinta yang sudah kita berikan kepada Allah dengan cinta Dia
kepada kita dan semua makhluk-Nya.
Wujud cinta-Nya hingga saat ini senantiasa
tercurah kepada kita, Dia melayani seluruh keperluan kita seakan-akan Dia tidak
mempunyai hamba selain kita, seakan-akan tidak ada lagi hamba yang diurus
kecuali kita. Tuhan melayani kita seakan-akan kitalah satu-satunya hamba-Nya.
Sementara kita menyembah-Nya seakan-akan ada tuhan selain Dia.
Apakah balasan yang kita berikan sebagai
imbalan dari Cinta yang Dia berikan? Kita membantah Allah seakan-akan ada Tuhan
lain yang kepada-Nya kita bisa melarikan diri. Sehingga kalau kita
"dipecat" menjadi makhluk-Nya, kita bisa pindah kepada Tuhan yang
lain.
Tahukah, jika saja Dia memperhitungkan
cinta-Nya dengan cinta yang kita berikan untuk kemudian menjadi pertimbangan
bagi-Nya akan siapa-siapa yang tetap bersama-Nya di surga kelak, tentu semua
kita akan masuk neraka. Jika Dia membalas kita dengan balasan yang setimpal,
celakalah kita. Bila Allah membalas amal kita dengan keadilan-Nya, kita semua
akan celaka.
dalam hati Aini terus berdialog dalam hatinya apa yang di sampaikan pak
Ary itu membuat ia menerobos kehidupan yang tanpa batas. setimpal ia membuka
buku ESQ hal 34 yang mencoba menjelaskan Cinta, Aini kemudian membuka dan
membacanya isinya adalah Cinta berpijak pada perasaan sekaligus akal sehat.
Aini mencoba menyibak matanya dan melanjutkan membaca.
Miskonsepsi pertama yang ditentang Bowman
adalah manusia jatuh cinta dengan menggunakan perasaan belaka. Betul, kita
jatuh cinta dengan hati. Tapi agar tidak menimbulkan kekacauan di kemudian
hari, kita diharapkan untuk juga menggunakan akal sehat.
Bohong besar kalau kita bisa jatuh cinta
dengan begitu saja tanpa bisa mengelak. Yang sesungguhnya terjadi, proses jatuh
cinta dipengaruhi tradisi, kebiasaan, standar, gagasan, dan ideal kelompok dari
mana kita berasal.
Bohong besar pula kalau kita merasa boleh
berbuat apa saja saat jatuh cinta, dan tidak bisa dimintai pertanggunganjawab
bila perbuatan-perbuatan impulsif itu berakibat buruk suatu ketika nanti.
Kehilangan perspektif bukanlah pertanda kita jatuh cinta, melainkan sinyal
kebodohan.
Cinta membutuhkan proses !!! Bowman juga
menolak anggapan cinta bisa berasal dari pandangan pertama. Cinta itu tumbuh
dan berkembang dan merupakan emosi yang kompleks, katanya. Untuk tumbuh dan
berkembang, cinta membutuhkan waktu.
Jadi memang tidak mungkin kita mencintai
seseorang yang tidak ketahuan asal-usulnya dengan begitu saja. Cinta tidak
pernah menyerang tiba-tiba, tidak juga jatuh dari langit. Cinta datang hanya
ketika dua individu telah berhasil melakukan orientasi ulang terhadap hidup dan
memutuskan untuk memilih orang lain sebagai titik fokus baru.
Yang mungkin terjadi dalam fenomena cinta pada
pandangan pertama adalah pasangan terserang perasaan saling tertarik yang
sangat kuat-bahkan sampai tergila-gila. Kemudian perasaan kompulsif itu
berkembang jadi cinta tanpa menempuh masa jeda.
Dalam kasus cinta pada pandangan pertama,
banyak orang tidak benar-benar mencintai pasangannya, melainkan jatuh cinta
pada konsep cinta itu sendiri. Sebaliknya dengan orang yang benar-benar
mencinta. Mereka mencintai pasangan sebagai persolinatas yang utuh.
perempuan itu menghembuskan nafas panjang,ada persamaan dengan apa yang
di katakana Mba Imza kepadanya kemudian Aini meneruskan bacanya ke halaman
berikutnya.
Bukan cinta namanya bila kita berkehendak
mengontrol pasangan. Juga bukan cinta bila kita bersedia mengalah demi kepuasan
kekasih. Orang yang mencinta tidak menganggap kekasih sebagai atasan atau
bawahan, tapi sebagai pasangan untuk berbagi, juga untuk mengidentifikasi diri.
Bila kita berkeinginan menguasai kekasih
(membatasi pergaulannya, melarangnya beraktivitas positif, mengatur seleranya
berbusana) atau melulu mengalah (tidak protes bila kekasih berbuat buruk, tidak
keberatan dinomorsekiankan), berarti kita belum siap memberi dan menerima
cinta.
Cinta itu konstruktif hal ini berlaku untuk Individu yang mencinta berbuat sebaik-baiknya demi kepentingan sendiri
sekaligus demi (kebanggaan) pasangan. Dia berani berambisi, bermimpi
konstruktif, dan merencanakan masa depan. Sebaliknya dengan yang jatuh cinta
impulsif. Bukannya berpikir dan bertindak konstruktif, dia kehilangan ambisi,
nafsu makan, dan minat terhadap masalah sehari-hari. Yang dipikirkan hanya
kesengsaraan pribadi. Impiannya pun tak mungkin tercapai. Bahkan impian itu
bisa menjadi subsitusi kenyataan.
Penganut faham romantik percaya cinta bisa
mengatasi masalah. Seakan-akan cinta itu obat bagi segala penyakit (panacea).
Kemiskinan dan banyak problem lain diyakini bisa diatasi dengan berbekal cinta
belaka. Faktanya, cinta tidaklah seajaib itu. Cinta hanya bisa membuat sepasang
kekasih berani menghadapi masalah. Permasalahan seberat apapun mungkin didekati
dengan jernih agar bisa dicarikan jalan keluar. Orang yang tengah mabuk
kepayang-berarti tidak benar-benar mencinta-cenderung membutakan mata saat
tercegat masalah. Alih-alih bertindak dengan akal sehat, dia mengenyampingkan
problem. namun beberapa penulis seperti Pak Dudun parwanto menganalisis Cinta
sebagai Konstan. Ya, cinta itu bergerak konstan. Maka kita patut curiga bila
grafik perasaan kita pada kekasih turun naik sangat tajam. Kalau saat jauh kita
merasa kekasih lebih hebat dibanding saat bersama, itu pertanda kita
mengidealisasikannya, bukan melihatnya secara realistis. Lantas saat kembali
bersama, kita memandang kekasih dengan lebih kritis dan hilanglah segala
bayangan hebat itu. Sebaliknya berhati-hatilah bila kita merasa kekasih hebat
saat kita berdekatan dengannya dan tidak lagi merasakan hal yang sama saat dia
jauh. Hal sedemikian menandakan kita terkecoh oleh daya tarik fisik. Cinta
terhitung sehat bila saat dekat dan jauh dari pasangan, kita menyukainya dalam
kadar sebanding.
perempuan itu mulai terbawa oleh kata-kata penulis buku itu, tanpa henti
ia teruskan membaca sampai hal 56.
Dalam hubungan cinta, daya tarik fisik
penting. Tapi bahaya bila kita menyukai kekasih hanya sebatas fisik dan
membencinya untuk banyak factor lainnya. Saat jatuh cinta, kita menikmati dan
memberi makna penting bagi setiap kontak fisik. Kontak fisik, ketahuilah, hanya
terasa menyenangkan bila kita dan pasangan saling menyukai personalitas
masing-masing. Maka bukan cinta namanya, melainkan nafsu, bila kita menganggap
kontak fisik hanya memberi sensasi menyenangkan tanpa makna apa-apa. Dalam
cinta, afeksi terwujud belakangan saat hubungan kian dalam. Sedang nafsu
menuntut pemuasan fisik sedari permulaan. ada yang bilang Cinta itu Buta, namun
beberapa penulis Fiksi seperti karangan Ismail Marzuki menjelaskan;
Cinta itu buta? Tidak sama sekali. Orang yang
mencinta melihat dan menyadari sisi buruk kekasih. Karena besarnya cinta, dia
berusaha menerima dan mentolerir. Tentu ada keinginan agar sisi buruk itu
membaik. Namun keinginan itu haruslah didasari perhatian dan maksud baik. Tidak
boleh ada kritik kasar, penolakan, kegeraman, atau rasa jijik. Nafsulah yang
buta. Meski pasangan sangat buruk, orang yang menjalin hubungan dengan penuh
nafsu menerima tanpa keinginan memperbaiki. Juga meninggalkan pasangan saat
keinginannya terpuaskan, hanya karena pasangan punya secuil keburukan yang
sangat mungkin diperbaiki. Orang yang benar-benar mencinta memperhatikan
perkembangan hubungan dengan kekasih. Dia menghindari segala hal yang mungkin
merusak hubungan. Sebisa mungkin dia melakukan tindakan yang bisa memperkuat,
mempertahankan, dan memajukan hubungan. Orang yang sedang tergila-gila mungkin
saja berusaha keras menyenangkan kekasih. Namun usaha itu semata-mata dilakukan
agar kekasih menerimanya, sehingga tercapailah kepuasan yang diincar. Orang
yang mencinta menyenangkan pasangan untuk memperkuat hubungan. Selain berusaha
menyenangkan kekasih, orang yang sungguh-sungguh mencinta memiliki perhatian,
keprihatinan, pengertian, dan keberanian untuk melakukan hal yang tidak disukai
kekasih demi kebaikan. Seperti seorang ibu yang berkata tidak saat anaknya
minta es krim, padahal sedang flu. ini membuktikan semua rasa menjadi satu dan
terpatri dalam lubuk sanubari yang sedang mencinta.
24. Tausiyah yang menakjubkan
malam itu Aini tertidur
dengan sangat nyaman dari biasanya ada rasa ketenangan jiwa yang masuk menyusup
kedalam batinnya, jam menunjukan 02:00 pagi, Aini terbangun dari sejadahnya, ia
menyibakan Tangan dan mengelus pipinya yang masih menempel di sejadah, di malam
itu ia berkhidmat dan menyempurnakan batinnya kepada sang pembolak hati dimana
ia sadar dengan segala kekurangan dan Iman yang tidak pernah ia nikmati,
alangkah indahnya menjadi muslimah, hal ini ia rasakan ketika pertama kali
mengenakan hijab dan mulai mengenal dunia Islam secara spesifik, ia tanamkan
kuat-kuat nasehat dan ajaran Rosul yang di sampakan melalui perantara Mba Imza
sampai ia benar- benar memutuskan untuk mengambil konsentrasi studinya di PTIQ
waktu itu, seusai Sholat tahajud ia mengambil HP di dalamnya ia putar kajian
yang pernah ia dengar di kampus dulu, ia rebahkan badan dan mulai mendengarkan
Tausyiah Almarhum Ustd Jefry al bukhori “Basahilah
lidahmu dengan dzikir” duh.. sudah berapa kali saya denger hadist ini (dialognya
dalam hati sambil memaknai ucapan ustad itu) tapi …waktu yang digunakan untuk berdzikir masih sedikit, padahal Allah
berfirman “AKu bersama hamba-Ku ketika dia mengingat-Ku”. Allahu Akbar. Luar
biasa, mencoba untuk melakukan variasi dalam berdzikir kenapa tidak ? La
illahaillallah adalah sebaik-baik dzikir …wueshh pikiran Aini pun mulai
menerawang balasan apa yang akan Allah kasih jika mengucapkan Laillahailallah 1x apakah senilai
uang 1 juta,10 juta atau 100 juta, lebih, pasti lebih dari itu di hadapan
Rabbul Izzati. Subahannallah. Rugiii…..berapa
sudah waktu yag hilang, uang yang hilang, istana yang tertunda di surga nanti –
InnaLillahiwainaillaihi’irojiun. Ga papa kan berdagang dengan Allah. Imam Al
Ghazali dalam risalahnya Al Asma Al Husna menuliskan kecintaan kepada Allah
bisa ditingkatkan dengan tiga cara (suara Ust. jeffry tampak karismatik di
dengar kemudian ia meneruskan penjelasannya) ada 3 cara untuk meningkatkan
kecintaan kita terhadap Allah SWT ;
(i) mengingatnya (ii) mempercayainya (iii)
mempertahankannya. Begitu pula Pak Ary Ginanjar dalam bukunya “Rahasia
membangun kecerdasan Emosional dan Spiritual” beliau menulis bahwa seorang
hamba bisa menjadi manusia yang luar biasa jika mau meneladani sifat-sifat
Allah dengan cara mengingat-ingatnya dan meneladani sifat-sifat-Nya. Aini langsung kaget ketika suara Ust. jefry menyebut Nama Pak Ary,
betapa tidak Buku yang ia pegang tadi malam sebelum tidur adalah Buku pemberian
Pak Ary dan kini Ustad jefry menyebut ulang dan menejelaskannya secara Rinci.
Sesungguhnya antara hamba dengan Rabbnya ada 2
panghalang ; (i) ilmu dan (ii) ego (Aku). penjelasan itu membuat Aini
semakin kuat,
……..Perasaan jenuh, bosen, mandek atau tidak
ada peningkatan terkadang datang pula, tapi ingat pesan “yang mencari akan
menemukan” ada secercah harapan untuk mencari lagi, baik itu dari buku, artikel
baik itu di majalah atau di internet, seminar , maupun taklim - apa saja.
Alhamdulillah masih ada rasa haus yang belum terpuaskan dengan minuman yang
standard. Mencoba untuk flash back ke zaman para sahabat yang memiliki tingkat
keimanan yang mempesona dan berdecak kagum setiap kali membaca kisahnya, sudah
tentu pengetahuan mereka tentang surga, neraka, negri akhirat dan segala
sesuatu yang terjadi didalamnya berbeda dengan pengetahuan saya dan itu mungkin
yang membuat tingkat keimanan saya seolah tak bergerak.
Ego, Aku “barang siapa yang mengenal dirinya
maka dia akan mengenal Tuhannya dan barang siapa yang mengenal dirinya maka
tidak ada waktu untuk mencari kesalahan orang lain”. Ada perasaan aneh
menghampiri ketika mencoba berlama-lama bercermin. sudah berapa jauh saya
mengenal diri saya dengan baik dan sudah berapa lama saya menyadari begitu
sangat rentannya melakukan kesalahan setiap detik.
Menjadi milik-Nya bukan sebaliknya menjadikan
Allah sebagai milik saya dan mengikuti semua keinginaan saya –
Naudzubillahiminzalik, kebodohan apalagi yang saya lakukan berlarut-larut.
STOP. “Ya Rabb biarkan aku menjadi milik-Mu selamanya…menyatu bersama-Mu,
biarkan jiwa ini terbakar oleh cahaya-Mu..cinta-Mu”. lirih suara Ustad jefry membuat Aini berlinang dalam klopak matanya yang
sayup.
Teringat kembali firman Allah SWT
“Sesungguhnya Aku mengikuti perasaan hamba-Ku terhadap-Ku” kenapa tidak saya
coba untuk mengatakan ke diri saya sendiri dengan menggunakan 3 metode dari
imam Al Ghazali diatas : “saya selalu bersamaMu ya Allah” (bukannya saya ingin
bersamaMu), “saya selalu mencintaiMu ya Rabb” (bukannya saya ingin
mencintai-Mu), “saya selalu merindukan-Mu ya Tuhanku”. Ada perasaan puas yang
mengalir, seolah-olah sesuatu yang sudah tercapai dan tinggal menikmati saja
perjalanan hidup bersama Al Malik, Al Aziz.
Air mata Aini meleleh di pipinya, sesekali ia terseguk dan malu terhadap
Allah yang selama ini ia campakan dan kini perempuan itu mulai sadar.
mendengar tausyiah Ustad jefry di MP3 HPnya, membuat Aini merasa haus ia
rogohkan tangan ke atas meja, mengambil gelas dan menuangkan air dengan tetap
suara tausyiah itu tanpa sedikitpun ia tinggalkan. kemudian ia melanjutkan
mendengar dengan penuh seksama
“Ketika kita naik mobil angkutan umum di
tengah kemacetan lalu lintas, maka kita dituntut untuk bersabar. Kita tak boleh
mencaci si sopir, apalagi membentak-bentak. Ketika kita berdesak-desakkan di
kereta api kita juga dituntut sabar. Pada saat itu kita tidak boleh marah,
kendati mungkin kaki kita terinjak.
Demikian pula di saat negeri ini dibanjiri air
yang melimpah kita pun harus sabar. Karena sumpah serapah yang kita arahkan
kepada penguasa pun tak akan mengurangi volume banjir yang merendam hampir 30%
wilayah Indonesia. Nah, dari air itulah kita tahu bahwa kehidupan dan kematian
itu berasal dari air. Jadi sabar memang tak ada batasnya, sebagaimana iman itu
sendiri.Pantaslah jika dalam sebuah kesempatan Nabi Muhammad SAW berpesan
kepada kita untuk selalu bersabar (tabah dan ikhlas menerima kenyataan/taqdir).
Bahkan beliau mengatakan,"Sebagian dari iman adalah sabar".
Rasulullah yang mulia sendiri, setiap ditimpa musibah apa saja, tak pernah
mengeluh apalagi sampai menyalah-nyalahkan orang lain. Entah itu pemerintah,
tetangga, atau orang lain. Anehnya, kita tak pernah menyalahkan diri kita.
Padahal, jangan-jangan kesalahan negeri ini juga karena kesalahan kita yang
tanpa sadar kita turut menyumbangnya.
Kenapa kita diperintah untuk bersabar oleh
Allah? Inilah terapi psikologis canggih yang diberikan Allah kepada kita.
Melalui sikap inilah kita disadarkan bahwa manusia itu tak mampu mengelola
hidupnya secara pasti. Dialah Allah yang mengurus segala urusan kita. Itulah
makna kita membaca Alhamdulillahi Rabbil 'alamien. Artinya, bahwa yang mengatur
segala urusan kita itu adalah Dia. Dengan demikian, bersama sabar kita
menghadapi gejolak hidup itu dengan tenang, rileks.
Untuk menjadi seorang penyabar tidak mudah,
memang. Tapi Allah melalui ayat-ayat-Nya, baik yang kauni maupun qauli mengajak
kita untuk menjadi ash-shabirin (kelompok orang-orang yang sabar). Lihatlah
betapa sabarnya seekor unta yang berjalan di padang pasir sembari membawa beban
berat di punuknya. Simak juga kesabaran kerbau atau sapi ketika dengan tekunnya
membajak lahan-lahan persawahan. Padahal kalau Allah mau, binatang-binatang itu
menolak diperlakukan seperti itu oleh tuan-tuannya.
Kita ingat kisah tentang robohnya kuda Suraqah
bin Naufal saat mengejar-ngejar Nabi untuk dibunuh. Kita ingat tenggelamnya
Fir'aun bersama serdadunya di laut Merah ketika mengejar-ngejar Nabi Musa dan
pengikutnya. Dan kita juga ingat selamatnya nabi Yunus dari telanan ikan hiu.
Kalau saja Allah mau, tentu Nabi Muhammad SAW sudah dibunuh Suraqah, Musa sudah
dipenggal oleh algojo-algojo Fir'aun dan Yunus tidak dikeluarkan lagi dari
perut ikan buas itu.
Maka sangat wajar bila Allah mengabadikan
mereka dalam al-Qur'an sebagai al-shabirien dan al-shadiqien, yakni orang-orang
yang membenarkan ayat-ayat-Nya. Kuncinya apa? Mereka sabar dalam menjalani
hidup ini, tanpa berharap materi di dunia.
Para kekasih Allah itu meneladani sifat Rabb
mereka, Al-Shabur, salah satu al-Asma al-Husna yang Allah miliki.
Saudara-saudaraku yang dirundung derita, dan mereka yang sedang ditimpa
nestapa...........Bersabarlah, karena Allah bersama orang-orang yang sabar.
cukup sekian dari hamba yang dhoif atas nama Jefry albukhory memohon ampun
kepada sang maha kholiq semoga tausyiah ini bermanfaat untuk kita semua.
wassalamu alaikum warohmatullohi wabarokatuh. (sampaian penutup)
Aini tetap mematung dan terkesima dengan
apa yang di sampaikan oleh ustad Jefri walaupun hanya perantara suara MP3.
namun sosok beliau membiuat Aini jatuh cinta dan membuat Aini terperengkuh
dalam kata- kata yang penuh karismatiknya.
malam itu semakin larut, ia berjanji dalam hatinya akan melaksanakan semua
kewajibannya sebagai Istri dan Hamba Tuhan. ia akan memeperlakkan madunya sebagai sodara, walau
memang berat tapi sebagai insane yang ingin mencapai kesempurnaan Iman ia harus
berkorban, walaupun korban perasaan sekalipun.
Kriiiing...kriiiing..
suara handphone keras nyaring Aini tersontak dan
bergegas mengambilnya dari arah pojok sejadah tampak layar LCD, private number,
Siapa yah, tannyanya dalam hati.
Halloo… Assalamu alaikum
Iya Halloo…waalikum salam
Mba, aku sumi…. Mas Arief nya ada di situ?
Aini kaget bukan
kepalang, ternyata madunya menelpon tanpa di duga, ia mulai kikuk dan heran
kenapa ia menanyakan Mas Arief padahal malam ini adalah malam jatahnya dia.
Aini mulai menjawab dengan perasaan yang di paksa tenang.
“lho bukannya
malam ini jatah situ ya, ??”
“ia mba, tapi sudah dua hari mas Arief tidak disini, aku pikir ada di rumah Mba. jawabnya dengan sedikit kecewa. “tidak ada” jawab Aini dengan singkat.
“ia mba, tapi sudah dua hari mas Arief tidak disini, aku pikir ada di rumah Mba. jawabnya dengan sedikit kecewa. “tidak ada” jawab Aini dengan singkat.
“ yasudah dech mba, nanti kalau kesana tolong sampaikan hari rabu depan
Mas Arief harus mengantarkanku ke Dokter kandungan, terimakasih ya Mba,
Assalamu alikum”.
“Waalikum Salam”. Aini lagi-lagi tersonatak dengan bathinnya, ia tidak percaya secepat itu
madunya hamil. ia ingin berontak.
Berontak karena ada rasa cemburu yang mendalam,dalam hati, Ingin ia berteriak, menyuarakan rasa cemburu ini. Rasa
sesak yang bertubi dalam lubuk hati.
Sesak yang terus menyerang dalam diri hingga bagaikan menghambatnya untuk bernafas. Tetapi, sungguh Allah telah
memberikan kekuatan yang Maha
Dahsyat, Kekuatan yang diberikan kepada seorang istri yang mengikhlaskan, dan
melepaskan saparuh kasih sayang suaminya untuk dibagi dengan wanita lain.
***
25. Bertengkar
berbuah nikmat.
05;00 wib,
seperti biasa seusai sholat subuh Aini mengambil mushaf dan membuka lembaran
yang sudah ada tandanya, suara serak basah menerobos kesunyian subuh hingga
fajar menjelang, seuasai baca alqur’an ia duduk dan selonjoran melemaskan otot-otot
kaku di tungkai kakinya sekaligus menantikan duha, kamar kecil itu Nampak damai,
tenang walau tanpa Arief suaminya. namun
tanpa sepengetahuan Aini, Arief datang dengan pintu tak di kunci akhirnya Arief
Masuk, badannya lemas, hatinya terluka amat sakit bahkan mungkin lebih sakit
daripada yang Aini rasakan sekarang, betapa tidak?. malam itu ia pulang ke
rumah sumi istri mudanya, dan sumi menceritakan bahwa ia telah hamil.
Arief heran
dan tidak percaya, sesingkat itukah ? atau ini hanya sandiwara belaka yang di
buat oleh Sumi agar dirinya lebih di Cintai dan di sayangi, Arief bingung dan
tanpa komentar dengan tubuh yang lemas ia langsung masuk kamar mandi, kemudian
makan tanpa sedikitpun ia bahas tentang kehamilan istrinya Sumi. malam itu
semakin larut dan sudah masuk pagi 03;00, selisih 2 jam saat Sumi menelpon Aini
dan menanyakan Keberadaan Arief, pagi itu Arief tidak bisa tidur, hatinya
serasa di hantui dan merasa ada teka-teki yang belum ia pecahkan, tiba-tiba
wajah Aini muncul di benak Arief , niat kuat ia untuk menelpon istrinya Aini
malam itu membuat pikirannya tergopah-gopah mencari handphone, ia bangkit dari
tempat tidurnya menuju Almari, 5 menit sudah namun tidak di temukan Arief melihat
kotak di sudut Almari itu, Merasa ada yang Aneh dengan Kotak itu karena baru
kali ini ia melihat Kotak itu ada Di Almari, Arief mengambil dan membukanya
tanpa di duga sebelumnya , setelah ia buka sepotong kaos putih ia yakin itu
bukan miliknya, kaos laki-laki . tapi dengan rasa heran kenapa kaos ini ada
disini dan punya siapa? punya sumi? aahh,, tidak mungkin rasa yang
mengganjalnya membuat Arief bertanya dan membangunkan Sumi yang tertidur .
“Mah..ini kaos punya
siapa”?
Sumi tidak mendengar
pertanyaan Arief, rasa dingin dan ngantuk tak membuat sumi bangun.
“Mah.. Mah..
banguuun,”
“ada apa sih”.. jawab
Sumi dengan setengah sadar.
“bangun cepetan,,, ini
kaos punya siapa”? Arief melemparkan kaos itu kearah tempat tidur Sumi. sumi
pun akhirnya bangun dan memegang kaos itu.. aaah dengan sontak kagetnya Sumi
langsung bangun dari tidurnya dan meletakan kaos itu di bawah bantal.
“kenapa kamu kaget”?
“nggak”..itu..itu cuman…”
“itu kaos laki-laki,
apa maksudmu menyimpannya di kotak itu? jawab? bentak Arief dengan nada tinggi.
“jangan berbohong
kepadaku” tegas Arief yang kedua kali”.
Sumipun akhirnya buka
mulut dengan didesak Arief dan di ancam Cerai jika tidak berkata jujur. Sumipun
tidak ada pilihan selain mengatakan yang sebenarnya bahwa kaos itu adalah milik
Pacarnya Dulu sebelum menikah Dengan Arief, Namun Sumi tidak terlalu suka
dengan Pacarnya itu karena sering Mabok, Judi dan sering Berbuat Kasar. Waktu
Itu Ketika pertama kali berkenalan dengan suaminya sekarang, Sumi merasa tenang
dan Segala hal ia lakukan demi mendapatkan Arief. namun suatu ketika Ia
menunggu lamaran dari Arief, sumi tidak sabar dan hasrat sexnya ia lampiaskan
kepada Pacarnya. begitulah pengakuan Sumi dengan isak tangis yang mendalam, dan
janin yang ada dalam perutnya adalah hasil pada malam itu ia merasa menyesal
dan meminta maaf kepada Arief dengan Bersimpuh.
mendengar pernyataan
itu Arief lemas dan matanya berkunang-kunang, setega inikah ia diperlakukan
oleh wanita yang ia anggap baik. tanpa kompromi dan tekad bulat Arief
menceraikan Sumi walaupun Tangisan darah sekalipun perbuatan itu tidak akan
mendapat setitik maaf dari lubuk hatinya. Arief kemudian keluar dengan hati
terluka dan menyesal lebih-lebih menyesal kepada Aini yang pernah ia campakan
Cintanya hanya kerena tidak bisa mendaptkan keturunan. Tak
terasa air mata lelaki itu mengalir, dadanya sebak kerana rasa terharu yang
teramat sangat. Tangisan
itu mulai gugur dalam isak tangisannya, semua kebaikan Aini yang selama ini
mulai terbayang di benak fikiran Arief. Wajahnya
yang teduh bagaikan hijaunya pohon dikala teriknya matahari , pengorbanan serta
pengabdiannya yang tiada putusnya, dengan suaranya yang lembut, tangisannya
yang mengalirkan perasaan haru dan cinta.
Benar cinta itu datang dalam
keharuan yang ia rasakan. Di
saat keharuan yang dirasai, ada hawa sejuk yang turun dari langit dan menusuk
masuk dalam jiwa. Pada
ketika itu, wajah bidadari sekalipun pudar ...dengan cepat Arief Segera
mengejar waktu untuk membuktikan cintanya pada Aini. Membuktikan rindunya yang tiba-tiba memenuhi setiap rongga dada
dan nafasnya.
Air matanya berderai-derai ia
pecut laju langkahnya dengan diringi deraian air mata yang tiada hentinya
membasahi setiap perjalanan pada saat itu tak peduli lagi orang di bsekitar,
merasa ingin segera sampai dan meluahkan semua rasa cintanya pada wanita yg
berhati mulia. mungkin benar kini ia
menyadari betapa jauh perlakuan Sumi dan Aini selama ini, Sumi yang ia anggap
baik dan punya potensi untuk meneruskan garis keturunannya malah berhianat dan tidak
pernah jujur selama menjadi istrinya, sedangkan Aini Cinta dengan segala
pengorbanan dan Anugerah yang Allah berikan kepada Arief meski kehidupan
membuatnya malu dan rasa keinginan besarnya untuk mendapatkan keturunan membuat
Arief gelap,
Arief melangkah dengah
langkah gontai dan berat rasanya kepala, memang hal ini akan sedikit akan membuat
Aini tambah bingung dan bisa jadi ia tidak akan menerima Arief di rumahnya
lagi, namun ia merasa lega karena kedustaan yang selama ini tersimpaan rapi
kini terbongkar ,kini saatnya Arief mengatakan yang sebenarnya kepada Aini. ia
yakin Aini akan menerima maafnya. malam itu juga ia berangkat ke rumah Aini
jaraknya cukup Jauh. setibanya di rumah Aini tampak langit sudah berbinar
terang. Arief masih berdiri di depan rumah Aini yang tak lain Rumah yang
sama-sama ia bangun dulu dari keringat, Cinta dan kasih sayang. tetesan air
mata jatuh tak terasa,sebak menyeret sesak didada menghimpit rongga-rongga
nafas hingga kelu bibir dan raga, ia
tidak tau harus berkata apa kepada Aini. lelaki
itu mengetuk pintu beberapa kali namun tak ada suara yang menyahut, sejenak
ia hempaskan Nafas dalam-dalam sambil dari celah lubang kunci, namun Aini tidak
juga Nampak. “Apa Aini masih tidur”? tanyanya dalam hati.
dengan hati
penasaran ia pegang gagang pintu berbahan
tembaga itu ah dengan kaget pintu itu tak dikunci. perlahan pintu itu ia buka
“kreeek.. suara pintu menyuguhkan sunyi ke dalam rumah, tanda hening,
samar-samar bayangan dari cermin yang di belokan pas ke kamar Aini, tampak dengan
lembut suara terdengar dengan hijab
putih bak kapuk seoarng wanita tandasnya dalam pecahan lamunan Arief. ia wanita
itu adalah Aini, Istrinya yang sedang Sholat Duha. guratan –guratan sendu mulai
tampak dari wajah Arief riak-riak genangan air mata meleleh di pipinya tampak
seorang Istri yang sholehah yang pernah ia Campakan yang pernah berjuang
bersama dan yang Pernah rela membagi Cintanya untuk Wanita lain ia melihat Aini
dari pantulan Kaca sedang berdiri cantik berbalut mukena putih menghadap pintu kamar
yang terbuka. luluh seketika Perasaan Arief bagaikan lilin menjaga malam. lelaki
itu duduk di samping dinding dekat pintu kamar yang terbuka matanya menggeliat
ke arah langit-langit dengan isak tangis yang di jerat sebak dalam dadanya.
“assalmu alaikum waroh matullah” terdengar suara lembut Aini menutupi sholatnya. lelaki itu belum bisa memberanikan masuk kedalam kamar selang beberapa detik sebelum panjatan Do’anya ia akhirkan Aini bersujud dan menangis kepada Tuhan sejadi-jadinya, “Ya ROBB” teriak Aini kemudian bungkam sesaat. Semakin kuusir semakin ia hadir, Semakin kulupakan, semakin ia membelenggu fikiran, kini Biarpun jauh kularikan diri, Namun ia tetap melingkar di tangkai naluri. ILahi, berilah hamba ketabahan dan kekuatan” jeritan keras Aini dalam Hatinya.
“assalmu alaikum waroh matullah” terdengar suara lembut Aini menutupi sholatnya. lelaki itu belum bisa memberanikan masuk kedalam kamar selang beberapa detik sebelum panjatan Do’anya ia akhirkan Aini bersujud dan menangis kepada Tuhan sejadi-jadinya, “Ya ROBB” teriak Aini kemudian bungkam sesaat. Semakin kuusir semakin ia hadir, Semakin kulupakan, semakin ia membelenggu fikiran, kini Biarpun jauh kularikan diri, Namun ia tetap melingkar di tangkai naluri. ILahi, berilah hamba ketabahan dan kekuatan” jeritan keras Aini dalam Hatinya.
Arief yang
duduk terhalang di dinding itu merasakan Getaran yang hebat dengan tiba-tiba
seperti di guncang dalam hatinya, Arief merasakan betul apa yang di alami Istrinya
saat ini laksana salah satu badan yang tersakiti maka badan yang lain pun
merasakan. lelaki itu merangkak mencoba menghampiri pintu kamar yang terbuka
dengan maksud untuk meminta maaf kepada Aini sekaligus ia ingin menjalin hidup
baru dengan benar-benar mengikuti tuntunan dari Rosul buwkan mengikuti hawa
nafsu yang selama ini ia jadikan pemimpin dalam Rumah tangganya.
“Assalamu alikum
Istriku”! suara serak basah Arief memecah keheningan Masuk ke kamar itu. Dalam
sujud Aini terperanjat, kaget bukan kepalang,
jantungnya seakan jatuh dibanting.
“waalaik…um sal…am”
jawab Aini dengan terputus- putus dengan Mata terbelalak. Aini menyibakan mata
perlahan-lahan dari genangan Panjatan Doa’nya seraya bangun dari tempat
sujudnya di ujung sejadah yang terbentang kedepan pintu kamar, lelaki itu
langsung duduk berhadapan menatap Aini dengan penuh harap sepontan dengan
tatapan lurus itu Aini langsung mual melihat Arief entahlah rasa mual itu
berbeda dengan rasa mual masuk angin, rasa mual yang Aini rasa seolah rasa
sakit hatinya dan rasa cemburu yang mendalam kepada lelaki yang dihadpannya, Ia
tutup mulutnya dengan tangannya dan tanpa sepatah katapun terucapa dari Aini.
walaupun
berkali kali Arief meminta maaf dan bersimpuh di hadapan Aini , tetap saja
mulut Aini terasa terkunci untuk memaafkan walaupun dalam hatinya perasaan itu bercampur
aduk, ada rasa bahagia karena Suaminya telah kembali, ada rasa kecewa dan rasa
mual yang mencokol dalam isi perutnya terasa ingin mengeluarkan isi perutnya
semua dan ada rasa rindu yang berkecamuk ia menangis dan ingin segera memeluk
suaminya itu serta memaafkannya.
Arief berteriak
keras sambil menghantamkan kepalanya ke
tembok sebagai rasa penyesalan atas perbuatanya.
“dug dug dug (suara
hantaman kepala berkali kali terdengar amat keras ke tembok). Ainiiii… aku
minta maaf… tolong maafkan akuu” jerih payah suaranya keluar bercampur isak
yang mendalam.
Aini menyaksikan
dengan bisu mata yang tak lepas untuk
berkedip dengan riak-riak mata yang bergelombang, Aini memaksa diri dan
memboyong raga serta tangannya dan merangkul Arief yang bersimpuh di hadapan
Aini.
“Maaas,, aku sudah
memafkanmu walaupun sebenarnya sulit untuk aku terima kenyataan ini” Suara
pecah Aini memecah kesunyian, mendengar pernyataan itu Arief bangkit perlahan
kepala yang awalnya bersujud kini mulai ia angkat sejajar dengan Aini.
“Istriku, apakah aku tidak salah dengar?” Arief meyakinkan apa yang telah ia
dengar baru saja dari mulut Istri Tercintanya, Aini. Aini mengangguk pelan tanda
ia memaafkan dan Mata
keduanya bertemu, terlihat di mata keduanya ada sebuah kerinduan yang amat
dalam antar Mereka, frekuensi getaran
halus itu masuk menyusup kedalam hati Arief dan Aini sampai lidahpun kelu untuk berkata. Wajah Aini
tampak sangat Cantik walaupun tidak secantik dulu terasa ada aura ketulusan
yang memancar darinya. Dan ada pesona yang mampu membuat hati terkudetakan dalam penjara hati yang masuk
begitu saja. dengan nada gemetar dan nafas terbata –bata “sayang, cukup lama
aku merindukanmu” Arief mengeluskan tangannya di wajah yang bersih itu yang
masih berbalut mukena persis pertama kali Arief melakukannya saat pertama
pengantin sepuluh tahun lalu dengan mata berkaca- kaca. sebuah keberanian baru
saja diungkapkan, genangan air mata Aini pun mengalir hangat begitu saja,
dengan isak haru bisu yang ia coba sembunyikan dalam- dalam, sungguh pergulatan
batin yang tidak bisa di bendung dalam hatinya, kali ini Arief memeluk Aini
seperti pertama ia memeluknya di hari pengantinnya dulu. Arief memeluk erat
tubuhnya dengan badan gemetar bercampur Air mata haru yang tak cukup
diungkapkan oleh kata-kata.
Hari itu adalah
hari yang paling di tunggu Aini dan hari kebahagiaan yang tercipta dari sebuah
hasil kesabaran dan keistiqomahan Aini, Arief berikrar kepada Aini akan selalu
setia, dan menggapai syurga bersama-sama, Ia yakin anak adalah titipan, Jika
Allah mengizinkan Titipan itu kepadanya maka Ia harus menjadikan dirinya lebih
bersyukur, dan kalaupun tidak, bukanlah perkara yang paling besar. Tanggung
jawab yang paling besar dibenak Arief kini adalah menjadi Suami Idaman yang
dengan ketaqwaannya membangun rumah tangga yang sakinah mawadah warrohmah.
26. Mozaik Cinta
Lama rasanya hari-hari
seperti ini di nantikan Aini dan Arief Mereka seperti berpacaran kembali,rasa
sayanggnya semakin hari semakin besar.
Keesokan
harinya Aini minta Izin kepada Arief untuk ke rumah Mba Imza ia dapat kabar
bahwa mba Imza Sakit dan Aini ingin menengoknya. Aini seperti biasa berangkat
sendiri dengan Sepeda yang ia kayuh, selain ingin menengok ia ingin
menceritakan Kisah rumah tangganya kini sudah kembali seperti dulu, pagi sekali
ia berangkat. Arief yang sibuk dengan job barunya membuat buku panduan untuk
referensi bahan ajar di sebuah kursus ternama di Jakarta melalui tangan pak
Candra seorang Pudir STIBA IEC yang dulu Arief mengajar disana, namun kini ia
tidak mengajar lagi tapi lebih focus ke job barunya, ia kerjakan di rumah
karena semua pasilitas kantor di berikan oleh Pak Candra.
“Mas
aku mohon izin ke rumah mba Imza, kata Teguh ia sakit serius, o ya.. kopinya
sudah aku buatkan di meja”. Kata Aini.
“ia,
sayang, aku anter ya?”.
“Nggak
Usah mas, Mas kan banyak Kerjaan”.
“yaudah
hati-hati ya sayang”. Arief mencium kening Aini dan Aini sambil mencium tangan
Arief.
Beberapa
saat kemudian, Arief merasa sedikit pusing dengan job barunya serta ada
beberapa surat kontrak yang harus ia tanda tangani, lelaki itu hendak mengambil
bolpoint di Kamar karena di meja kerjanya tak satupun bolpoint yang nganggur. Beberapa
langkah menuju kamarnya tidak sengaja ia menemukan sebuah buku mini,di sebuah
kotak kecil yang bersampingan dengan ATK tanpa berfikir panjang ia ambil
ternyata hanya sebuah diary, dalam benaknya mungkin Diary Aini, ia coba membuka
dan membacanya, tulisan Aini itu tampak jelas untuk dibaca dengan tinta hitam
berkertas putih yang bergaris biru
“mudahnya kau campakkan aku hanya karena aku
tak mampu memberiku seorang anak Tanpa beban sedikitpun, kau kenalkan dia
sebagai sosok yang bisa kau harapkan mampu memuaskan impianmu. Awalnya
sulit menerima Naskah Tuhan ini. Aku
masa lalu, dan perempuan itu adalah masa depan, dimana harapanmu bertumpu.
Sakit, perih, saat aku tak bisa meraihmu karena eratnya pelukannya. Putus asa,
akupun coba meraih jalan terburuk yakni melepasmu. Dalam diam kucoba
bertahan, karena kutahu bahwa hidup tak hanya soal menang dan kalah. Hidup
adalah perjuangan sampai titik darah penghabisan untuk meraih kebahagiaan yang
hakiki. Kini dan nanti, aku akan mencoba berdamai dengan hati yang kian lara.
Biarlah, meski berat kan kucoba merawat luka diri yang mungkin hanya bisa
sembuh oleh hadirmu. Sungguh aku merasa malu, jika tak bisa menjadikan ujian
ini sebagai celah untuk menggapai ridho_Nya. Kini di setiap waktuku, aku
mencoba hapus gelisah dengan lantunan doa dan pengharapan untuk keutuhan rumah
tanggaku. Hari berlalu bulan berganti
menyongsong tahun-tahun berikutnya. Aku tetap berada diposisi yang sama,
menanti dengan penuh harap akan datangnya keajaiban. Suamiku masih asyik dengan
impiannya, karena wanita itu tak pernah menyerah memberikan harapan palsunya
kepada suamiku Tak ada angin,
tak ada hujan, mendadak dia bersimpuh dengan berurai air mata dihadapanku. Aku
hanya bisa membelai punggungnya perlahan sembari bertanya, apakah gerangan yang
membuatnya serapuh ini. Dia tak mampu berkata apapun kecuali larut dalam isakan
tangisnya sembari memohon agar aku mengampuni khilafnya. Perlahan aku
memaksanya untuk jujur tentang perasaannya.
“Ampuni kebodohanku selama
ini, Aini” katanya sembari membenamkan kepalanya dipangkuanku.
Kuhela nafas perlahan. Sejenak kucoba menghapus
luka hati yang sudah dia torehkan dihatiku. Mendadak rasa sakit kembali terasa
manakala kenangan pahit itu menari dipelupuk mata. Sejujurnya hatiku sangat
kecewa dan terluka, namun melihatmu selemah ini, aku jadi tidak tega untuk
membalaskan rasa sakit yang sudah lama kupendam. Kutuntun tubuhnya menuju ke ranjang. Setelah emosinya redam, aku coba
menelisik ke dalam hatinya. Dia hanya tersenyum seraya membelai lembut
rambutku. Penyesalan terlihat jelas diwajahnya, “Istriku maukah kamu memberiku
satu kesempatan lagi?” ucapnya dengan suara parau.
“Kesempatan itu selalu ada,
Mas. Asalkan kamu janji tidak mengulanginya lagi,” jawabku dengan mata
berkaca-kaca.
Kulihat dia menganggukkan
kepalanya perlahan tanda setuju dengan persyaratan yang kuajukan. Setelah dia
sedikit tenang, aku baru mengerti masalah apa yang tengah menimpanya hingga dia
begitu terluka dan kecewa. Ternyata
perempuan nakal itu tidak pernah berubah meskipun sudah menjadi istri dari suamiku.
Kemarahannya semakin memuncak menyebutkan bahwa anak-anak yang di kandungan perempuan
itu, bukanlah darah dagingnya.
Aku tidak tahu lagi apakah harus tertawa atau
menangis. Yang jelas, ada rasa lega dan syukur yang tak hentinya menyeruak
manakala senyum kembali membias diwajah keluargaku. Lara hati yang kurasakan
selama beberapa tahun terakhir ini serasa menguap begitu saja.
Arief tidak sanggup
melanjutkan untuk membacanya, Rasa Sakit yang di alami Aini kini benar- Benar
Arif rasakan dan sudah membuat hatinya pilu, Arief menghempaskan nafas dalam-
dalam seraya menenangkan diri, walaupun laki-laki pantang untuk menangis tapi
kali ini ia menangis terisak –isak, rasa sebak dalam dadanya mengguncang
setelah separuh Diary itu ia Baca.
***
Semakin hari
semakin ia jatuh Cinta kepada Aini, benar- benar Jatuh Cinta yang amat dalam,
Rasa Cinta yang terbungkus Oleh kepingan-kepingan hidupnya yang pait,
kepingan-kepingan perjalanan Kisah rumah tangganya yang amat penuh Ujian,
Pengorbanan, haru, Kecewa, dan Cinta Namun Kini ia melihat seperti
Kepingan-Kepingan yang Manis yang di tempelkan pada Naskah Kehidupan yang Amat
Rapi, Bahkan Mozaik Kerajinan tangan Seniman hebatpun tidak seindah Mozaik Kehidupan
Arief dan Aini, Indah pada Akhirnya, dan Kisah ini Arief Tuangkan kedalam
sebuah Tulisan Fiksi “MOZAIK CINTA” inilah sebuah judul Novel yang Arief
persembahkan untuk bidadarinya.
Duhai Bidadariiku
aku ingin engkau
tempat terakhirku
singgah dalam
hati
penyejuk Imanku
saat gontai
pelipur lara
dalam kegamangan
Segenap Cinta
yang mampir dalam tubuhku
adalah syahwat
dan kau tutupi itu
adalah Kasar dan
kau lembutkan itu
adalah Amarah dan kau tenangkan itu
Duhai jelita
pencipta rasa
Aku ingin
mencintaimu seperti Ali kepada Fatimah
Sederhana, namun
Istimewa
Seperti habibi
kepada Ainun
Prahara namun
Anggun setia
Tuhan telah
takdirkan engkau untuku
Menjadi istri
yang sangat mulia, nan Pesona
Engkau Bidadari
Yang lama aku
nanti
(aef-sugihartoni)
Waktu bergulir
Cepat kemesraan semakin tambah pada keluarga Aini dan Arief, apalagi dengan
Hadirnya seorang bayi yang dinantikan, Sungguh Kuasa Allah, Arief tak henti-
hentinya bersyukur dan bersimpuh sujud dalam doanya sebagaimana doa nabi hamba pilihan Allah dalam
Al-Qur’an,
“Rabbana hab lana min azwaajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna
lil muttaqiina imaama!
Wahai Tuhan kami,
anugerahkanlah kepada kami istri dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami,
dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa!
“Robbana atina fiddunya
hasanah wafil akhiroti hasanah waqina adjabannar!. Amin……
Percetakan Negara-
Jakarta, 20 Juli 2015
Penulis
Aef sugihartoni
Aef sugihartoni
Biodata
Penulis
Jalan
Percatakan Negara 7 no 51 ♦ Jakarta Pusat
T:
085885118807 ♦ E: aefsugiharvardtony434@yahool.co.id
PERSONAL
INFORMATION
Name : Aef Sugihartoni
Place,
Date of Birth : BOGOR, 07 May 1993
Gender : Male
Marital Status : Single
Citizenship : Indonesian
Gender : Male
Marital Status : Single
Citizenship : Indonesian
EDUCATION
Elementary
School : MI PUI Bogor, 1999 – 2006
Junior High School : SLTP 1 Nanggung-Bogor, 2006 – 2008
Senior High School : SMA Terpadu ABI Bogor, 2008 – 2011
College : ABA Prawira Martha (D3)–Jakarta, 2011-2014
Junior High School : SLTP 1 Nanggung-Bogor, 2006 – 2008
Senior High School : SMA Terpadu ABI Bogor, 2008 – 2011
College : ABA Prawira Martha (D3)–Jakarta, 2011-2014
STIBA IEC (
S1)–Jakarta, 2015- now
AWARDS
2008 : The Winner of School Debate Competition
2009 : Winner of Art Competition
2009 : Winner of Art Competition
ORGANIZATION EXPERIENCES
2009-2011 : Head of Boy Scout (ABI)
2011-2013 : Head of BEM (ABA Prawira Martha)
2008- 2009 : Comitee of BEM (STIBA IEC)
2008- 2009 : Comitee of BEM (STIBA IEC)
WORK EXPERIENCE
2009-2011
: Public Service at Al- ikhlas ABI -Bogor
2011-2012
: Staff Administration at Oxford Course
2012-2013 : Branch Manager at Oxford Course-Tebet
2012-2013 : Branch Manager at Oxford Course-Tebet
2013-2015 : English
Teacher at Prime Education Centre-Percetakan Negara
Langganan:
Komentar (Atom)


